Harianjogja.com, JOGJA— Kain perca yang biasanya berakhir sebagai sampah kini diubah menjadi produk bernilai ekonomi oleh puluhan perempuan muda dan lanjut usia (lansia) dari DIY dan Klaten. Di Rumah Kreatif Tukik, kain sisa dari penjahit diolah menjadi benang, dipintal, lalu ditenun menjadi produk dengan motif tertentu.
Kegiatan tersebut tidak hanya memperpanjang masa pakai kain, tetapi juga menjadi ruang bagi perempuan untuk tetap produktif melalui aktivitas kreatif berbasis limbah.
Pendiri Rumah Kreatif Tukik, Yenny Christin, mengatakan perempuan muda hingga lansia memiliki potensi kreativitas yang dapat dikembangkan menjadi produk daur ulang.
Menurutnya, aktivitas itu tidak semata-mata berfokus pada persoalan limbah. Kegiatan tersebut sekaligus memberikan ruang kepada perempuan untuk menghasilkan karya yang memiliki nilai ekonomi.
“Perempuan-perempuan ini memiliki kreativitas yang bisa dituangkan menjadi karya produk daur ulang,” katanya, Kamis (13/8/2026).
Dari Kain Sisa Menjadi Tenun
Aktivitas Rumah Kreatif Tukik sebelumnya dilakukan di rumah Yenny di Baciro, Kota Jogja. Kini kegiatan tersebut berkembang melalui Tukik Eco Learning Space di Sleman yang dilengkapi ruang indoor dan outdoor.
Ruang baru itu menjadi tempat pengolahan berbagai jenis limbah, bukan hanya kain. Material yang dimanfaatkan antara lain plastik, ranting, minyak jelantah, cangkang telur, paralon, botol kaca, egg tray, hingga limbah rumah tangga.
Limbah organik kemudian diolah menjadi eco enzyme dan pupuk. Sementara sejumlah material bekas lainnya dimanfaatkan sebagai bahan berbagai produk kerajinan.
Khusus kain perca, material tersebut dapat diolah menjadi gantungan kunci, hiasan dinding, taplak, hiasan tas, hingga kain tenun.
Salah satu pengrajin, Kasiani, 67, warga Wedi, Klaten, menjadi bagian dari perempuan yang mengolah kain sisa tersebut. Sejak beberapa waktu lalu, ia mulai membuat tenun dari kain perca.
Bersama seorang temannya, Kasiani membutuhkan waktu sekitar enam jam untuk menyelesaikan satu tenunan kain perca berukuran sekitar 40x30 sentimeter.
Proses pembuatan dimulai dengan memotong kain perca yang berasal dari penjahit secara memanjang. Potongan kain kemudian disambung menggunakan jahitan tangan atau mesin jahit hingga membentuk untaian panjang.
Untaian tersebut selanjutnya ditenun mengikuti motif yang diinginkan.
“Satu kain tenun biasanya dikerjakan berdua. Saling membantu,” ujarnya.
Bagi Kasiani, memanfaatkan kain sisa menjadi produk kerajinan jauh lebih baik dibandingkan membiarkannya menjadi sampah.
“Daripada dibuang, nyampah,” katanya.
Di tengah kesibukannya membuat dan menjual makanan, Kasiani mengerjakan tenun kain perca saat memiliki waktu luang. Ia menikmati kegiatan tersebut karena bisa melihat secara langsung hasil kreativitas yang dibuatnya.
Desain Jadi Kunci Produk Kain Perca
Director Nurturise Pte Ltd Singapore, Nurhayati Mohammad Ali, melihat Rumah Kreatif Tukik memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Menurutnya, peluang tersebut terutama berada pada sektor pemasaran produk dan edukasi lingkungan.
Ia menilai produk berbahan kain perca tidak selalu harus dipasarkan dengan menonjolkan identitasnya sebagai barang daur ulang. Desain yang kreatif justru dapat menjadi daya tarik utama bagi konsumen.
“Saya sempat membawa produk Tukik yang sudah diolah menjadi tas. Itu dibeli. Kreatif sekali. Orang tidak lagi bertanya apakah bahannya kain perca atau bukan karena desainnya bagus,” ujarnya.
Menurut Nurhayati, pemanfaatan kain perca juga berpotensi menjadi salah satu langkah mengurangi pencemaran lingkungan. Pada saat yang sama, kegiatan tersebut membuka kesempatan bagi perempuan, termasuk lansia, untuk tetap berkontribusi secara sosial dan ekonomi.
Pemberdayaan lansia melalui aktivitas kreatif, lanjut dia, juga dapat membantu menjaga rasa percaya diri. Mereka tetap merasa dibutuhkan dan memiliki kemampuan yang bisa memberikan manfaat.
“Walaupun mereka lansia, mereka tetap bisa berkontribusi kepada masyarakat dengan kreativitas dan energi masing-masing,” katanya.
Berpeluang Jadi Wisata Edukasi Jogja
Nurhayati melihat sedikitnya ada dua peluang kerja sama yang dapat dikembangkan Rumah Kreatif Tukik. Salah satunya adalah memperluas pemasaran produk melalui penjualan langsung, distributor, toko suvenir, maupun toko lainnya.
Peluang kedua adalah menjadikan workshop sebagai bagian dari wisata edukasi di Jogja. Wisatawan, menurut dia, tidak hanya perlu mendapatkan pilihan destinasi wisata konvensional, tetapi juga pengalaman belajar tentang lingkungan dan ekonomi kreatif.
Peluang tersebut bahkan terbuka untuk wisatawan dari luar negeri. Nurhayati melihat wisatawan dari Singapura, Malaysia, dan negara lain dapat dibawa mengikuti kegiatan edukasi di Tukik Eco Learning Space.
“Wisata edukasi seperti ini bisa menjadi nilai tambah untuk pariwisata Jogja,” ujarnya.
Tukik Diproyeksikan Jadi Pusat Edukasi
Yenny mengatakan pengembangan Rumah Kreatif Tukik atau Tukik Eco Learning Space dalam jangka panjang diarahkan menjadi pusat edukasi lingkungan, kreativitas, dan pemberdayaan masyarakat berbasis limbah di Jogja.
Konsep tersebut tidak hanya berorientasi pada produksi barang kerajinan. Tukik Eco Learning Space juga diharapkan menghasilkan dampak sosial, lingkungan, dan ekonomi secara berkelanjutan.
“Kami ingin tempat ini tidak hanya menjadi tempat workshop, tetapi juga ruang edukasi lingkungan dan ekonomi kreatif yang mempertemukan pemerintah, sekolah, perusahaan, komunitas, UMKM, dan masyarakat,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.









































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5539824/original/003583100_1774624130-IMG_6564.JPG.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5324850/original/079448900_1755868038-Elkan-Baggott.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4855687/original/012825900_1717681637-20240606IQ_Timnas_Indonesia_vs_Irak__15_.jpg)






:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5215189/original/094397100_1746795977-20250509AA_Persija_Jakarta_vs_Bali_United-8.jpg)