
Anggota DPRD DIY, Basit Sugiyanto (berdiri), memaparkan materinya dalam bedah buku yang digelar di Rumah Bata, Ngablak, Kalurahan Bangunkerto, Kapanewon Turi, Sleman, Jumat (14/8)./ Harian Jogja/Catur Dwi Janati
SLEMAN – Rumah bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang tumbuh yang aman secara emosional, psikologis, dan spiritual bagi anak maupun orang tua. Pesan tersebut mengemuka dalam bedah buku Homepower: Menumbuhkan Keluarga, Memaknai Hidup yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY di Rumah Bata, Ngablak, Kalurahan Bangunkerto, Kapanewon Turi, Sleman, Jumat (14/8).
Anggota DPRD DIY, Basit Sugiyanto, mengatakan kekuatan keluarga menjadi fondasi penting bagi kemajuan masyarakat, bahkan negara. Dalam konteks Homepower, kekuatan keluarga bukan sekadar rumah secara fisik, tetapi suasana yang terbangun di dalamnya.
Menurut Basit, rumah secara fisik memang harus aman dan layak untuk ditinggali. Namun, untuk menghidupkan sebuah rumah, diperlukan berbagai hal lain, terutama hubungan emosional dan komunikasi antaranggota keluarga.
“Aman itu kan kebutuhan mendasar, ya, papan itu penting. Tapi lebih dari itu, home itu kan bukan cuma house, fisik, tetapi juga di dalamnya adalah emosional, komunikasi, bagaimana kenyamanan interaksi di dalam keluarga itu,” kata Basit, Jumat.
Tidak terbangunnya ketahanan keluarga, menurut dia, berpotensi memicu berbagai persoalan. Salah satunya adalah fenomena fatherless yang berkaitan dengan ketidakhadiran figur ayah dalam keluarga.
Ketidakhadiran tersebut, kata Basit, tidak selalu berarti ayah tidak berada di rumah secara fisik. Ketidakhadiran secara emosional juga dapat memengaruhi perkembangan anak.
“Jadi ketidakhadiran ayah atau mungkin juga orang tua secara umum, itu luar biasa sangat berpengaruh. Karena ternyata anak-anak yang tidak dalam sebuah komunikasi atau bimbingan yang baik dengan orang tuanya itu sangat berpengaruh dalam perkembangan semuanya,” ujarnya.
Di tengah kemajuan zaman, komunikasi dalam keluarga kerap tidak terbangun dengan baik sehingga setiap anggota keluarga berjalan sendiri-sendiri. Karena itu, menurut Basit, keluarga perlu memiliki komitmen untuk meluangkan waktu khusus guna mengobrol dan berkomunikasi.
“Perlu ada waktu khusus keluarga. Keterbukaan, kadang hari ini kan juga kesibukan orang tua itu anak-anak jadi merasa tidak terbuka dengan ini. Bahkan malah mencari pelarian ke yang lain,” katanya.
Sementara itu, praktisi Tri Kaeksi mengatakan keluarga harus menjadi rumah yang aman dan nyaman untuk kembali, baik bagi orang tua maupun anak.
“Ketika rumah itu menjadi tempat yang aman dan nyaman baik untuk orang tua maupun anak, maka rumah itu akan menjadi tempat yang kondusif, tempat yang terbaik untuk kemudian menanam, menyemai, kemudian tempat untuk bertumbuh potensi baik itu orang tua maupun anak-anak,” kata Tri.
Menurutnya, rumah yang aman setidaknya memiliki tiga dimensi, yakni emosional, psikologis, dan spiritual.
“Ketika tiga dimensi itu kemudian bisa diramu, bertemu begitu ya, maka harapannya rumah itu betul-betul menjadi tempat kembali. The real rumah, tidak hanya sebuah bangunan fisik,” ujarnya.
Lima Elemen Keluarga Tangguh
Penulis buku Homepower: Menumbuhkan Keluarga, Memaknai Hidup, Taat Setyabudi, menjelaskan setidaknya terdapat lima elemen utama dalam membangun keluarga tangguh. Kelima elemen tersebut adalah bernaung, bernilai, bertumbuh, bertahan, dan berdaya.
Elemen bernaung berarti menjadikan rumah sebagai tempat yang aman secara emosional. Elemen bernilai menanamkan prinsip hidup yang dapat membimbing arah keluarga. Sementara elemen bertumbuh mendorong setiap anggota keluarga untuk berkembang dan membangun daya lenting ketika menghadapi masalah.
Selanjutnya, elemen bertahan berkaitan dengan kemampuan keluarga menghadapi berbagai tantangan, sedangkan elemen berdaya berarti menjadikan keluarga mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
“Dengan lima elemen ini masuk, yang diharapkan rumah itu terasa hangat, anak gampang cerita, anak gampang membagi semua hal dengan keluarga di sekitarnya,” ujarnya.
Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan DPAD DIY, Zulfa Kurniawan, menambahkan bahwa keluarga merupakan unsur vital dalam pembentukan literasi, khususnya bagi anak-anak. Menurutnya, budaya literasi dapat dimulai dari rumah.
“Karena kalau kemudian literasi itu sudah kuat di dalam rumah tangga, tentu dalam menjalani kehidupan, baik di sekolah, di lingkungan lainnya, itu akan menjadi lebih siap,” ujarnya.
Dalam konteks peningkatan literasi, DPAD DIY terus mengedukasi dan memberikan sosialisasi kepada masyarakat untuk meningkatkan minat dan budaya membaca, khususnya di lingkungan keluarga.
Zulfa mengatakan peningkatan minat baca perlu menyasar generasi anak-anak yang nantinya menjadi penerus bangsa. (ADV)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.









































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5539824/original/003583100_1774624130-IMG_6564.JPG.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5324850/original/079448900_1755868038-Elkan-Baggott.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4855687/original/012825900_1717681637-20240606IQ_Timnas_Indonesia_vs_Irak__15_.jpg)






:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5215189/original/094397100_1746795977-20250509AA_Persija_Jakarta_vs_Bali_United-8.jpg)