
Puskesmas Sleman sedang menggelar Forum Konsultasi Publik (FKP) dan Lokakarya Mini Lintas Sektor di Puri Mataram, Kalurahan Tridadi, Kapanewon Sleman, Jumat (22/5/2026). Harian Jogja/ Andreas Yuda Pramono.
Harianjogja.com, SLEMAN—Lamanya waktu tunggu pasien kembali menjadi sorotan dalam Forum Konsultasi Publik (FKP) dan Lokakarya Mini Lintas Sektor yang digelar Puskesmas Sleman di Puri Mataram, Kalurahan Tridadi, Kapanewon Sleman, Jumat (22/5/2026). Persoalan antrean pelayanan disebut masih menjadi keluhan utama masyarakat sekaligus menjadi aspek dengan nilai terendah dalam survei kepuasan layanan puskesmas selama beberapa tahun terakhir.
Tingginya jumlah kunjungan pasien dinilai menjadi faktor utama panjangnya antrean pelayanan kesehatan di Puskesmas Sleman. Kondisi tersebut diperparah dengan keterbatasan ruang tunggu yang menyebabkan penumpukan pasien pada jam-jam tertentu.
Koordinator Tim Kepuasan Pelanggan Puskesmas Sleman, Firra Berlinawati, mengungkapkan jumlah pasien di poli umum rata-rata mencapai sekitar 200 orang setiap hari. Tingginya angka kunjungan tersebut membuat proses pelayanan membutuhkan waktu lebih panjang dibanding kapasitas ruang pelayanan yang tersedia saat ini.
“Di poli umum saja rata-rata sekitar 200 pasien per hari. Sementara ruang tunggu kami juga terbatas sehingga terjadi penumpukan pasien,” kata Firra ditemui di Puri Mataram, Jumat.
Menurut Firra, sebagian masyarakat menghitung durasi pelayanan sejak mengambil nomor antrean hingga menerima obat. Padahal, setiap unit layanan memiliki standar waktu tunggu dan durasi pemeriksaan yang berbeda-beda sesuai jenis pelayanan medis yang dibutuhkan pasien.
Ia menjelaskan kondisi kesehatan pasien yang beragam juga memengaruhi cepat atau lambatnya proses penanganan medis. Meski demikian, pihak puskesmas mengaku terus melakukan percepatan layanan melalui sistem pemilahan pasien berdasarkan tingkat kegawatdaruratan agar pelayanan lebih efektif.
Pendaftaran Online Jadi Solusi Kurangi Antrean
Untuk mengurangi kepadatan antrean, Puskesmas Sleman telah menerapkan sejumlah inovasi pelayanan berbasis digital. Di antaranya melalui pendaftaran menggunakan aplikasi Mobile JKN dan layanan pendaftaran daring melalui WhatsApp.
“Kami sudah membuat inovasi supaya pasien tidak menunggu terlalu lama. Pemeriksaan juga terus kami upayakan lebih cepat,” katanya.
Permasalahan antrean pasien menjadi salah satu fokus evaluasi dalam Forum Konsultasi Publik yang dihadiri berbagai unsur lintas sektor. Mulai dari pemerintah kapanewon, kepolisian, koramil, PKK, KUA, lembaga pendidikan, hingga organisasi masyarakat ikut memberikan masukan terkait kualitas layanan kesehatan di Puskesmas Sleman.
Kepala Puskesmas Sleman, Dela Oktaviana, mengatakan forum tersebut digelar untuk menyerap aspirasi masyarakat terkait standar pelayanan kesehatan sekaligus menyusun langkah pembenahan layanan yang lebih responsif.
Selain antrean pasien, forum juga membahas kebutuhan penguatan sumber daya manusia (SDM), evaluasi standar pelayanan, hingga peningkatan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM). Seluruh masukan yang diterima disebut akan menjadi bahan evaluasi internal untuk memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan ke depan.
“Kami akan menindaklanjuti masukan antrean dan masukan lain. Kami akan rapat internal dan menyusun standar pelayanan lebih baik lagi serta survei kepuasan pelanggan lagi,” kata Dela.
Puskesmas Sleman berharap evaluasi tersebut dapat mendorong pelayanan kesehatan yang lebih cepat, responsif, dan mampu meningkatkan kenyamanan masyarakat saat mengakses layanan medis. Kolaborasi lintas sektor juga dinilai penting untuk memperkuat mutu pelayanan kesehatan di wilayah Sleman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































