Iran Desak AS Cabut Sanksi dan Bebaskan Aset yang Dibekuka

1 hour ago 2

Harianjogja.com, TEHERAN—Pemerintah Iran menegaskan tidak mencari konsesi apa pun dari Amerika Serikat (AS) dalam hubungan bilateral kedua negara. Teheran justru mendesak Washington segera mencabut sanksi ekonomi serta membebaskan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah memanasnya situasi kawasan Timur Tengah pascaserangan militer antara Iran, AS, dan Israel yang turut memicu ketegangan di jalur strategis Selat Hormuz.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan Iran hanya menuntut hak-haknya dipulihkan tanpa meminta keuntungan tambahan dari Amerika Serikat.

“Kami tidak menginginkan konsesi apa pun dari Amerika Serikat, kami hanya menuntut hak-hak kami,” kata Baghaei seperti dikutip kantor berita Tasnim News Agency, Jumat.

Menurut Baghaei, pemerintah Iran mendesak penghentian kebijakan yang disebutnya sebagai tindakan kriminal Amerika Serikat terhadap rakyat Iran, terutama melalui penerapan sanksi ekonomi yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

“Sanksi harus dicabut, aset Iran yang dibekukan harus dibebaskan dan tersedia bagi negara,” ujarnya.

“Selama lima dekade terakhir, kami telah menghadapi apa yang mereka sendiri sebut sebagai ‘sanksi yang melumpuhkan’,” tambahnya.

Baghaei menyebut sebagian besar sanksi dijatuhkan dengan alasan kekhawatiran Amerika Serikat terhadap program nuklir Iran.

Namun, Iran membantah tudingan tersebut dan menegaskan tidak pernah menjadi ancaman nuklir bagi negara mana pun di kawasan maupun dunia internasional.

“Tidak ada ancaman nuklir dari Iran terhadap pihak mana pun di kawasan maupun dunia,” katanya.

Selain menyoroti isu sanksi, Baghaei juga mengkritik kebijakan blokade angkatan laut Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz. Ia menilai tindakan tersebut bertentangan dengan hukum internasional.

Iran meminta Washington segera menghentikan blokade terhadap kapal-kapal yang menuju maupun keluar dari pelabuhan Iran melalui jalur perdagangan strategis tersebut.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah masih berlangsung sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari lalu. Serangan tersebut kemudian dibalas Teheran dengan meluncurkan serangan ke Israel serta sejumlah sekutu AS di kawasan Teluk, termasuk penutupan Selat Hormuz.

Gencatan senjata antara pihak-pihak yang bertikai mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Namun, pembicaraan lanjutan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan jangka panjang terkait penyelesaian konflik kawasan.

Sementara itu, Presiden AS, Donald Trump, memutuskan memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu. Meski demikian, Amerika Serikat disebut masih mempertahankan blokade terhadap kapal-kapal yang menuju maupun berasal dari pelabuhan Iran di Selat Hormuz.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |