Warga Gunungkidul Diimbau Amankan Ternak dari Serangan Hewan Liar

9 hours ago 4

Warga Gunungkidul Diimbau Amankan Ternak dari Serangan Hewan Liar

Kondisi kambing yang selamat dari serangan hewan liar di Dusun Cak Bohol, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus. /DOK-Harian Jogja.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Ancaman serangan hewan liar terhadap ternak kembali menjadi perhatian warga pesisir Gunungkidul seiring masuknya musim kemarau. Pemerintah kalurahan di sejumlah wilayah pesisir meminta peternak meningkatkan kewaspadaan dengan memindahkan kandang ternak lebih dekat ke rumah agar pengawasan dapat dilakukan secara maksimal, terutama pada malam hari.

Imbauan tersebut disampaikan menyusul pengalaman serangan hewan liar yang kerap muncul saat musim kemarau. Meski dalam dua tahun terakhir tidak banyak laporan kasus di beberapa wilayah, potensi ancaman dinilai masih tetap ada dan dapat terjadi sewaktu-waktu.

Ulu-Ulu Kalurahan Purwodadi, Tepus, Suroyo, mengatakan sebagian besar warga di wilayahnya masih memiliki kebiasaan memelihara ternak di area ladang maupun kawasan hutan. Pola tersebut dipilih karena memudahkan peternak dalam menyediakan pakan akibat lokasi kandang yang lebih dekat dengan sumber pakan ternak.

“Sudah menjadi kebiasaan karena banyak warga yang memilih memelihara ternak seperti kambing dan sapi jauh dari permukiman. Tujuannya, agar mudah memberikan pakan dengan jangkauan akses lebih dekat,” katanya, Senin (8/6/2026).

Menurut Suroyo, keberadaan kandang yang berada jauh dari permukiman memang memberikan kemudahan dalam pengelolaan pakan. Namun, kondisi tersebut juga membuat pengawasan terhadap ternak menjadi lebih terbatas sehingga berisiko memicu serangan hewan liar, terutama saat musim kemarau berlangsung.

Ia mengungkapkan bahwa selama dua tahun terakhir tidak ada laporan kambing milik warga yang mati akibat serangan hewan misterius. Kendati demikian, kondisi tersebut bukan berarti ancaman sudah hilang sepenuhnya.

“Sudah dua tahun terakhir tidak ada kambing mati yang diserang hewan misterius. Tapi, ancaman tak sepenuhnya menghilang karena bisa terjadi kapan saja,” kata dia.

Untuk meminimalkan risiko tersebut, pemerintah kalurahan mendorong warga memindahkan kandang ternak ke lokasi yang lebih dekat dengan rumah. Apabila pemindahan belum memungkinkan dilakukan, peternak diminta memperkuat pagar kandang yang berada di ladang agar tidak mudah ditembus hewan liar.

“Paling aman memang lokasi kandang dipindah mendekat ke rumah. Kalau tidak, maka kandang yang ada di ladang harus diperkuat pagarnya agar tidak mudah ditembus,” kata Suroyo.

Peringatan serupa juga disampaikan Lurah Girimulyo, Panggang, Sunu Raharjo. Ia meminta masyarakat tetap waspada meskipun dalam dua tahun terakhir tidak ada laporan serangan hewan misterius yang menyebabkan kematian ternak di wilayahnya.

Menurut Sunu, pola kemunculan kasus serangan terhadap ternak selama ini cenderung meningkat ketika musim kemarau. Oleh sebab itu, langkah pencegahan perlu dilakukan sejak dini dengan menempatkan ternak di lokasi yang lebih mudah dipantau.

“Serangan hewan misterius banyak terjadi saat kemarau. Makanya, kami minta ternak yang dipelihara di ladang dipindah mendekat ke rumah agar mudah dalam pengawasan, khususnya saat malam hari,” katanya.

Ia menjelaskan karakteristik serangan yang pernah terjadi sebelumnya memiliki pola yang hampir sama. Ternak yang menjadi sasaran umumnya tidak dimakan oleh predator, melainkan mengalami luka gigitan pada bagian leher maupun perut hingga akhirnya mati karena kehilangan banyak darah.

“Tidak dimakan dan umumnya kambing yang mati karena kehabisan darah,” katanya.

Sementara itu, Lurah Giripurwo, Purwosari, Supriyadi, mengungkapkan laporan serangan hewan liar terhadap ternak masih sesekali terjadi di wilayahnya. Bahkan, sekitar dua bulan lalu terdapat seekor kambing milik warga yang dilaporkan menjadi korban serangan.

“Untuk sekarang belum ada lagi,” katanya.

Meskipun kondisi saat ini relatif aman, Supriyadi mengingatkan para peternak agar tidak lengah. Berdasarkan pengalaman beberapa tahun terakhir, puncak kasus serangan hewan liar terhadap ternak biasanya terjadi pada Juli hingga Agustus, sehingga upaya antisipasi perlu dilakukan sejak awal musim kemarau agar kerugian peternak dapat dicegah.

“Kalau pengalaman di tahun-tahun sebelumnya, serangan banyak terjadi saat kemarau khususnya di Bulan Juli dan Agustus, makanya harus diantisipasi agar ternak yang dipelihara tidak menjadi korban,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |