UGM Guyur Air Kapur untuk Redam Api Misterius di Seyegan

2 hours ago 3

UGM Guyur Air Kapur untuk Redam Api Misterius di Seyegan

Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM menyiramkan larutan air kapur berkonsentrasi tinggi ke dalam tanah guna memutus rantai produksi gas hidrogen yang memicu munculnya fenomena api di Seyegan pada Selasa (9/7/2026)./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati

Harianjogja.com, SLEMAN—Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) mulai melakukan penanganan lanjutan terhadap fenomena api yang muncul di wilayah Seyegan, Sleman. Upaya tersebut dilakukan dengan menyiramkan larutan air kapur berkonsentrasi tinggi ke dalam tanah guna menekan produksi gas hidrogen yang diduga menjadi pemicu kemunculan api.

Peneliti PKPE Fakultas Teknik UGM, Sarju Winardi, menjelaskan langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari hasil analisis tim yang sebelumnya menyimpulkan fenomena api di salah satu rumah warga memiliki keterkaitan dengan keberadaan gas hidrogen.

Menurutnya, metode penjenuhan cairan basa dipilih karena tim menduga terdapat aktivitas bakteri Clostridium yang menghasilkan gas hidrogen di lokasi tersebut.

“Di pertemuan hari Kamis pekan lalu di Kapanewon Seyegan kami merekomendasikan perlu ada treatment. Treatment yang dilakukan adalah penjenuhan dengan cairan basa. Karena asumsi kami waktu itu penyebabnya diduga dari aktivitas bakteri Clostridium yang menghasilkan gas H2 atau hidrogen,” ujar Sarju, Selasa (9/6/2026).

Sarju menjelaskan, larutan air kapur yang bersifat basa diharapkan mampu menghambat pertumbuhan bakteri tersebut sehingga produksi gas hidrogen dapat berkurang atau bahkan berhenti.

“Jadi air basa ini membuat bakteri Clostridium itu tidak bisa berkembang dan mati sehingga tidak ada bakteri lain yang asumsi dugaan kami menghasilkan gas H2,” katanya.

Empat Lubang Dibuat di Sekitar Lokasi

Sebelum aplikasi air kapur dilakukan, tim terlebih dahulu membuat empat lubang sedalam sekitar satu meter di sejumlah titik yang berada dekat dengan lokasi awal kemunculan api.

Tiga lubang dibuat di dalam rumah, sedangkan satu lubang lainnya berada di area belakang rumah. Pada masing-masing lubang dipasang pipa paralon yang berfungsi sebagai saluran untuk memasukkan larutan air kapur ke dalam tanah.

Selain melalui lubang bor, air kapur juga dituangkan pada area terbuka dan sejumlah titik lantai rumah yang keramiknya telah dibongkar karena terdapat rembesan.

“Di dalam rumah ini ada tiga titik, plus kami masukkan di lantai yang keramiknya terbuka. Kemarin kan ini untuk membersihkan saluran, di dalam rumah itu ada beberapa lantai yang keramiknya juga dibuka karena ada rembesan. Di tempat yang kami bisa akses memasukkan cairan, kami masukkan cairan,” jelasnya.

Limbah Pemotongan Ayam Juga Diberi Kapur

Tim UGM tidak hanya menyasar area rumah, tetapi juga melakukan penebaran kapur di lokasi limbah usaha pemotongan ayam yang berada di sekitar rumah tersebut.

Langkah itu dilakukan karena area rumah yang mengalami fenomena api terhubung langsung dengan aktivitas pemotongan ayam milik keluarga pemilik rumah.

“Ya kami juga menebar kapur di limbah, harapannya bisa mengurangi aktivitas bakteri,” ujar Sarju.

Disarankan Dilakukan Setiap Hari

Sarju merekomendasikan agar aplikasi air kapur dilakukan secara rutin setiap 24 jam sekali hingga kondisi tanah benar-benar jenuh oleh larutan basa.

Tim PKPE FT UGM juga telah meninggalkan persediaan kapur untuk digunakan pemilik rumah dalam melanjutkan proses penanganan.

Menurutnya, metode tersebut cukup sederhana. Kapur bubuk cukup dicampurkan ke dalam ember besar berisi air hingga larut sebelum disiramkan ke titik-titik yang telah ditentukan.

“Takarannya tidak terlalu harus presisi. Satu gayung kapur untuk satu ember yang besar itu sudah cukup,” katanya.

Ia berharap aplikasi air kapur dapat terus dilakukan hingga fenomena api tidak lagi muncul. Setidaknya, metode tersebut dijalankan secara intensif selama satu pekan ke depan agar larutan basa dapat meresap ke pori-pori tanah secara merata.

Monitoring Masih Berlanjut

UGM memastikan pemantauan di lokasi akan terus dilakukan. Dalam beberapa hari ke depan, tim akan kembali mengevaluasi tingkat kejenuhan larutan basa di dalam tanah untuk menentukan apakah diperlukan titik injeksi tambahan.

“Kami juga mungkin beberapa hari ke depan akan memonitoring untuk mengecek kejenuhan dari air yang dimasukkan itu sudah cukup merata atau belum. Kalau belum, mungkin perlu tambah lubang baru,” ujar Sarju.

Sebelumnya, tim PKPE Fakultas Teknik UGM menyampaikan kesimpulan sementara bahwa fenomena api yang muncul di rumah warga Seyegan berasosiasi dengan gas hidrogen. Dugaan tersebut masih terus diteliti sembari dilakukan upaya mitigasi untuk mencegah kemunculan api kembali.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |