
Penanganan tumpahan solar yang baru saja terjadi di Jalan Kemiri Baru Wates, Minggu (14/6/2026) yang sudah berulang kali terjadi. Tumpahan solar misterius ini mengakibatkan pengendara motor selalu terjatuh/Istimewa-Damkar Kulonprogo
Harianjogja.com, KULONPROGO— Kasus tumpahan solar di sejumlah ruas jalan di Kabupaten Kulonprogo kian meresahkan pengguna jalan. Selain membuat permukaan jalan menjadi licin, kondisi tersebut berulang kali memicu kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pengendara sepeda motor.
Bahkan, sepanjang 2026 petugas pemadam kebakaran (Damkar) Kulonprogo telah menangani puluhan laporan terkait tumpahan bahan bakar tersebut.
Kepala Seksi Damkar dan Penyelamatan BPBD Kulonprogo, Raden Chris Hartanto, mengatakan peristiwa tumpahan solar sudah sangat sering terjadi di berbagai lokasi. Dalam beberapa titik, kejadian serupa bahkan dilaporkan hampir setiap pekan.
Menurut dia, laporan terbaru diterima pada Minggu (14/6/2026) di Jalan Miri Baru, Wates. Lokasi tumpahan berada di ruas jalan menikung yang berada di dekat masjid setempat.
"Tumpahan solar seperti ini sudah seperti langganan. Sangat sering terjadi. Dari kendaraan apa asalnya masih kami telusuri karena belum diketahui sumbernya," kata Hartanto, Minggu.
Laporan tersebut masuk setelah dua pengendara motor dilaporkan terjatuh akibat jalan yang licin terkena solar. Kejadian ini menjadi insiden kedua dalam kurun waktu sepekan setelah sebelumnya terjadi kasus serupa di kawasan dekat Pasar Jombokan, Pengasih, pada Jumat (12/6/2026).
Hartanto menjelaskan pola tumpahan solar yang ditemukan di lapangan umumnya tidak menggenang pada satu titik. Solar justru tercecer memanjang mengikuti jalur kendaraan yang melintas.
Menurutnya, karakteristik tersebut mirip seperti ember bocor yang dibawa berjalan sehingga cairan menetes sedikit demi sedikit sepanjang perjalanan.
"Solar yang tumpah biasanya tidak terkumpul di satu titik, tetapi memanjang mengikuti kendaraan yang melintas, seperti ember bocor," ujarnya.
Hingga kini, petugas masih kesulitan mengidentifikasi kendaraan yang menjadi sumber tumpahan. Minimnya saksi mata membuat keberadaan pelaku atau pemilik kendaraan sulit dilacak.
Sebagian besar laporan yang diterima Damkar baru masuk setelah ada korban yang mengalami kecelakaan.
"Biasanya masyarakat melapor setelah ada pengendara yang jatuh. Saat solar tercecer, sering kali tidak ada yang melihat," katanya.
Hartanto menduga tumpahan berasal dari kendaraan yang memiliki penutup tangki bahan bakar yang sudah aus atau mengalami kerusakan pada bagian karet penutupnya. Meski demikian, dugaan tersebut masih belum dapat dipastikan.
Data Damkar Kulonprogo mencatat, sepanjang Januari hingga pertengahan Juni 2026 sudah ada 28 kasus tumpahan solar yang ditangani petugas.
"Sudah puluhan kali terjadi selama 2026. Ada 28 laporan yang kami tangani. Kami mengimbau pemilik kendaraan, khususnya roda empat, memastikan tangki bahan bakarnya dalam kondisi baik dan tertutup rapat agar tidak membahayakan pengguna jalan lain," ujarnya.
Dalam setiap penanganan, Damkar menerjunkan satu unit mobil pemadam beserta sedikitnya lima personel. Proses pembersihan juga tidak bisa dilakukan hanya dengan menyiram air biasa karena kandungan minyak pada solar menempel kuat di permukaan aspal maupun jalan beton.
Petugas harus menggunakan air bertekanan tinggi yang dicampur deterjen cair, kemudian membersihkan permukaan jalan dengan cara disikat secara manual.
Proses penanganan rata-rata memakan waktu sekitar 35 menit hingga jalan benar-benar aman dilalui kembali.
"Harus menggunakan tekanan tinggi dengan air yang cukup banyak. Kalau tidak bersih sempurna, jalan masih berpotensi licin dan membahayakan pengendara. Karena itu kami pastikan benar-benar bersih sebelum lokasi dinyatakan aman," kata Hartanto.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































