Harianjogja.com, WASHINGTON—Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeklaim kemampuan produksi rudal dan pesawat nirawak milik Iran telah mengalami penurunan signifikan sejak konflik yang berlangsung beberapa bulan terakhir. Menurutnya, sebagian besar fasilitas strategis Iran telah berhasil dilumpuhkan sehingga kapasitas persenjataan negara tersebut menyusut drastis.
Pernyataan itu disampaikan Trump dalam cuplikan wawancara dengan NBC News yang dirilis pada Jumat (5/6). Wawancara lengkapnya dijadwalkan tayang pada Minggu (7/6). Dalam kesempatan tersebut, Trump menilai kemampuan rudal Iran saat ini jauh lebih kecil dibandingkan sebelum serangan yang dilakukan Amerika Serikat.
"Sebagian besar pabrik drone telah dilumpuhkan, sebagian besar landasan luncur telah dilumpuhkan, dan sebagian besar wilayah produksi misil telah dilumpuhkan," kata Trump.
Meski demikian, Trump mengakui Iran masih memiliki kemampuan militer yang dapat digunakan, termasuk persediaan rudal dan pesawat nirawak.
Ia memperkirakan stok rudal Iran kini hanya berada pada kisaran 21 hingga 22 persen dari kapasitas yang dimiliki sebelumnya. Kendati berkurang, jumlah tersebut menurutnya masih tergolong besar.
"Mereka masih punya rudal, begitu pula drone. Kalau berdasarkan presentase, mungkin 21-22 persen dari rudal mereka. Masih banyak, tetapi tak sebanyak saat kami dahulu menyerang mereka," ujarnya.
Trump Sebut Iran Masih Enggan Menyetujui Kesepakatan
Dalam wawancara tersebut, Trump juga menanggapi pertanyaan mengenai belum tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang yang disebut telah berlangsung sejak 28 Februari lalu.
Menurut Trump, salah satu faktor yang membuat proses negosiasi berjalan lambat adalah sikap Iran yang dinilainya masih enggan menerima sejumlah syarat yang diajukan.
"Mereka sombong dan ada hal-hal yang mereka pikir tak akan mereka lakukan, tetapi pada akhirnya harus mereka lakukan. Mereka tak punya pilihan dan ini perlu waktu," katanya.
Singgung Kesepakatan Nuklir Iran
Trump juga mendapat pertanyaan terkait kegagalannya mencapai kesepakatan yang lebih baik setelah menarik Amerika Serikat dari perjanjian nuklir Iran pada masa jabatan pertamanya.
Menanggapi hal tersebut, Trump menegaskan bahwa proses penyelesaian konflik dan perundingan dengan Iran tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat karena persoalan yang dihadapi telah berlangsung selama puluhan tahun.
"Orang-orang tersebut sudah berperang selama 47 tahun," ujar Trump.
Hingga kini, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi perhatian dunia internasional. Sejumlah upaya diplomasi terus dilakukan di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir dalam waktu dekat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































