Selat Hormuz Ditutup, Harga Kakao Melonjak Tajam Juni 2026

1 hour ago 1

Selat Hormuz Ditutup, Harga Kakao Melonjak Tajam Juni 2026

Petani memilah biji kakao di Kare, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Rabu (23/9/2020). ANTARA/Siswowidodo.

Harianjogja.com, JAKARTA — Harga komoditas biji kakao global mengalami lonjakan signifikan pada Juni 2026. Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat kenaikan harga referensi (HR) kakao dipicu gangguan jalur distribusi internasional, khususnya akibat penutupan Selat Hormuz.

Dalam laporan resmi yang dirilis Sabtu (30/5/2026), Kemendag menetapkan harga referensi biji kakao sebesar 3.832,17 dolar AS per metrik ton (MT). Angka ini naik 563,48 dolar AS atau 17,24 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Seiring kenaikan tersebut, harga patokan ekspor (HPE) biji kakao juga ikut terdongkrak. Untuk periode Juni 2026, HPE kakao ditetapkan sebesar 3.511 dolar AS per MT, meningkat 549 dolar AS atau 18,53 persen.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Tommy Andana, menjelaskan bahwa lonjakan harga ini tidak lepas dari dampak langsung penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran vital dunia.

“Ada kenaikan pada HR dan HPE biji kakao karena ditutupnya Selat Hormuz yang mengakibatkan peningkatan biaya logistik, biaya asuransi, dan bahan bakar,” ujarnya.

Selain faktor logistik global, tekanan juga datang dari sisi pasokan. Penurunan produksi dari Nigeria, salah satu negara produsen kakao utama dunia, turut mempersempit suplai di pasar internasional.

Kondisi ini membuat harga kakao semakin tertekan ke atas, seiring meningkatnya biaya distribusi dan terbatasnya pasokan global.

Di sisi lain, tidak semua komoditas ekspor mengalami perubahan harga. Kemendag mencatat sejumlah produk seperti kulit, keping kayu (chipwood), serta beberapa jenis kayu olahan tidak mengalami perubahan HPE pada periode Juni 2026.

Namun, kenaikan juga terjadi pada komoditas getah pinus yang kini ditetapkan sebesar 980 dolar AS per MT, atau naik 64 dolar AS (6,99 persen) dibandingkan Mei 2026.

Kenaikan serupa juga terjadi pada beberapa produk kehutanan, termasuk kayu veneer dari hutan alam dan tanaman, serta kayu olahan jenis meranti, merbau, dan campuran lainnya.

Sementara itu, beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga ekspor. Di antaranya adalah kayu lapis untuk kotak kemasan, kayu dalam bentuk serpihan atau partikel, serta kayu olahan jenis jati dan pinus dari hutan tanaman.

Perubahan harga berbagai komoditas ini menunjukkan dinamika perdagangan global yang sangat dipengaruhi oleh kondisi geopolitik, logistik, serta ketersediaan pasokan di pasar internasional.

Dengan kondisi tersebut, pelaku industri dan eksportir diharapkan mampu beradaptasi terhadap fluktuasi harga yang terus bergerak, terutama di tengah ketidakpastian rantai pasok global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |