Sejarah Pahit Bulu Tangkis Indonesia, Gagal Lolos Grup Thomas Cup

5 hours ago 3

Harianjogja.com, JOGJA—Tim bulu tangkis putra Indonesia mencatat sejarah kelam di ajang Piala Thomas 2026 setelah untuk pertama kalinya gagal melaju ke fase gugur sejak debutnya pada 1958. Kekalahan 1-4 dari Prancis di Forum Horsens pada Rabu dini hari (29/4/2026) memastikan langkah Merah Putih terhenti di fase grup.

Hasil ini menjadi pukulan berat bagi Indonesia yang selama ini dikenal sebagai negara tersukses di Piala Thomas dengan 14 gelar juara. Kegagalan ini sekaligus mencatatkan rekor terburuk sepanjang keikutsertaan Indonesia di turnamen beregu putra paling bergengsi tersebut.

Sebelumnya, Indonesia sempat membuka peluang dengan dua kemenangan awal di Grup D. Kemenangan 5-0 atas Aljazair dan 3-2 atas Thailand sempat menempatkan Indonesia dalam posisi kompetitif untuk lolos. Namun persaingan ketat membuat hasil akhir ditentukan selisih kemenangan antar tim.

Thailand akhirnya keluar sebagai juara grup dengan keunggulan selisih kemenangan, sementara Prancis yang mengalahkan Indonesia 4-1 menempati posisi runner-up. Indonesia harus puas finis di peringkat ketiga dan tersingkir dari kompetisi.

Rincian Hasil Laga Indonesia vs Prancis

Kekalahan Indonesia terjadi secara beruntun di partai awal.

- Jonatan Christie kalah dari Christo Popov
- Alwi Farhan takluk dari Alex Lanier
- Anthony Sinisuka Ginting kalah tipis dalam duel tiga gim melawan Toma Junior Popov
- Ganda Sabar Karyaman Gutama / Moh Reza Pahlevi Isfahani juga gagal meraih poin

Satu-satunya kemenangan Indonesia datang dari pasangan Fajar Alfian / Muhammad Shohibul Fikri. Mereka berhasil mengalahkan pasangan Popov bersaudara, namun hasil tersebut tidak mampu mengubah nasib tim.

Kondisi ini menandai pertama kalinya Indonesia tidak mampu menembus fase gugur Piala Thomas dalam sejarah panjang keikutsertaannya. Sebelumnya, catatan terburuk Indonesia adalah terhenti di perempat final pada 2012.

Evaluasi besar kini menjadi sorotan, terutama pada sektor tunggal putra dan ganda putra. Ketergantungan pada pemain senior dinilai belum diimbangi regenerasi yang cukup matang di level kompetisi dunia.

Hasil ini juga memperlihatkan tekanan besar dalam sistem pembinaan yang ada saat ini. Pemain muda yang diturunkan dinilai masih membutuhkan pengalaman lebih untuk bersaing di level elite.

Meski hasil akhir mengecewakan, turnamen ini menjadi alarm penting bagi pembenahan jangka panjang. Perbaikan sistem pelatihan, regenerasi atlet, dan penguatan mental bertanding menjadi fokus yang harus segera dilakukan.

Bagi publik pencinta bulu tangkis Indonesia, hasil ini menjadi momen refleksi atas perjalanan panjang tim nasional di kancah dunia. Harapan kini tertuju pada proses kebangkitan untuk kembali bersaing di level tertinggi pada edisi berikutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |