Santri Pesantren Baitussalam Belajar Jurnalistik di Harian Jogja

8 hours ago 3

Santri Pesantren Baitussalam Belajar Jurnalistik di Harian Jogja

Para santriwati dan pendamping dari Pesantren Modern Baitussalam Prambanan Sleman saat diskusi tentang jurnalistik dan perkembangan industri media di era digital di Harian Jogja, Selasa (2/6/)./ Harian Jogja - Ujang Hasanudin

JOGJA— Sejumlah santriwati Pondok Pesantren Modern Baitussalam, Prambanan, Sleman, mengunjungi kantor Harian Jogja pada Selasa (2/6/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk mempelajari dunia jurnalistik sekaligus mengetahui perkembangan industri media di era digital.

Para santriwati yang mengikuti kunjungan merupakan anggota ekstrakurikuler jurnalistik dan kepenulisan di lingkungan pesantren. Selain aktif menulis, para santriwati kelas X dan XI tersebut juga menerbitkan buletin yang terbit setiap tiga bulan.

Pendamping santriwati, Nur Laela Fitriana, berharap kunjungan tersebut dapat menambah wawasan dan memotivasi para santriwati untuk terus mengembangkan kemampuan menulis.

“Semoga dengan kunjungan ini para santriwati dapat menambah ilmu dan wawasan serta semakin termotivasi untuk menulis,” ujarnya.

Kegiatan yang berlangsung sekitar satu setengah jam itu diisi dengan diskusi mengenai jurnalistik dan perkembangan industri media di tengah transformasi digital. Para peserta tampak antusias mengikuti sesi diskusi yang dipandu Redaktur Pelaksana Harian Jogja, Budi Cahyana.

Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan, mulai dari teknik penulisan berita yang baik, penentuan nilai berita (news value), hingga proses pemilihan berita utama atau headline di halaman depan surat kabar.

Para santriwati juga menanyakan bagaimana sikap jurnalis dalam meliput peristiwa politik yang melibatkan perbedaan pandangan, termasuk saat peliputan debat calon presiden dan calon wakil presiden pada Pemilu 2024.

Salah satu santriwati, Hasna Anggita, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru dari kegiatan tersebut.

“Banyak informasi dan wawasan baru yang saya dapatkan dari diskusi ini,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Budi Cahyana menjelaskan bahwa jurnalis harus bekerja secara independen dengan berpegang pada fakta-fakta yang ditemukan di lapangan.

Menurutnya, tugas jurnalis adalah menyampaikan fakta secara proporsional berdasarkan hasil peliputan dan verifikasi, tanpa dipengaruhi kepentingan pihak tertentu.

“Jurnalis harus independen dalam melihat dan menyampaikan fakta sebuah peristiwa,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya verifikasi berlapis dalam proses pemberitaan. Seorang jurnalis, kata dia, tidak boleh hanya mengandalkan satu sumber informasi, melainkan harus melakukan konfirmasi kepada berbagai pihak terkait agar berita yang disajikan akurat dan berimbang.

Industri Media Bertransformasi

Lebih lanjut, Budi menjelaskan bahwa industri media mengalami perubahan signifikan seiring perkembangan teknologi digital. Media massa tidak lagi hanya mengandalkan platform cetak, tetapi juga harus mengembangkan kanal digital seperti website dan media sosial.

Menurutnya, Harian Jogja mulai mengembangkan platform digital sejak 2010, tidak lama setelah edisi cetak pertama terbit. Seiring meningkatnya penetrasi internet pada 2014, pengelolaan website kemudian menjadi salah satu fokus utama dalam penyampaian informasi kepada publik.

Perubahan perilaku audiens yang semakin banyak mengakses informasi melalui media sosial juga mendorong media untuk beradaptasi.

“Sampai sekarang ketiga platform, yaitu media cetak, website, dan media sosial, masih kami gunakan sebagai sarana penyampaian informasi kepada masyarakat,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Ujang Hasanudin

Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |