Saluran Irigasi di Kalasan Tercemar Amonia, Ikan hingga Katak Mati

7 hours ago 8

Saluran Irigasi di Kalasan Tercemar Amonia, Ikan hingga Katak Mati

Ilustrasi saluran irigasi. /Solopos/Burhan Aris Nugraha

Harianjogja.com, SLEMAN—Kebocoran gas amonia yang terjadi di sebuah pabrik di Purwomartani, Kapanewon Kalasan, tidak hanya berdampak pada kesehatan warga, tetapi juga mencemari saluran irigasi dan menyebabkan kematian berbagai biota air.

Hasil analisis laboratorium yang diterima Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menunjukkan kandungan amonia di sejumlah titik saluran irigasi sekitar pabrik melebihi baku mutu lingkungan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Sleman, Khamidah Yuliati, menjelaskan kadar amonia pada saluran irigasi di titik selatan outlet pabrik dengan jarak sekitar satu kilometer tercatat mencapai 2,79 mg/L. Adapun pada titik pertemuan outlet pabrik, kadar amonia mencapai 2,23 mg/L.

Kedua hasil tersebut melampaui baku mutu air sebesar 1 mg/L sehingga dinyatakan tidak memenuhi syarat kualitas lingkungan.

"Akibat pencemaran tersebut ditemukan kematian biota air berupa katak, kepiting sawah, dan ikan endemik yang hidup di saluran irigasi," kata Khamidah, Senin (8/6/2026).

Selain merusak ekosistem perairan, pencemaran juga berdampak pada kolam budidaya ikan milik warga yang menggunakan pasokan air dari saluran irigasi tersebut. Sejumlah ikan budidaya dilaporkan mati akibat terpapar air yang tercemar amonia.

Perusahaan disebut telah memberikan ganti rugi kepada warga yang mengalami kerugian akibat insiden tersebut.

Sebelumnya, kebocoran gas amonia yang terjadi pada Sabtu (9/5/2026) sempat menimbulkan kepanikan di lingkungan sekitar pabrik. Aparat gabungan dari BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, PMI, Dinas Kesehatan, dan unsur terkait melakukan evakuasi warga yang tinggal dalam radius sekitar 200 hingga 300 meter dari lokasi kejadian.

Warga mengeluhkan berbagai gejala kesehatan seperti sesak napas, iritasi mata, mata perih, pusing, hingga bau menyengat yang tercium sampai ke wilayah di luar padukuhan.

Sebagai langkah penanganan darurat, petugas mendistribusikan sekitar 1.500 masker kepada masyarakat terdampak.

Data Dinas Kesehatan Sleman mencatat sedikitnya 23 warga mendapatkan penanganan medis akibat paparan gas amonia. Sebagian besar mengalami pusing, iritasi mata, dan sesak napas. Tiga warga sempat menjalani terapi oksigen, namun seluruh pasien dinyatakan membaik dan tidak memerlukan rujukan ke rumah sakit.

Di tengah temuan pencemaran pada saluran irigasi, hasil pengujian terhadap sumber air bersih warga menunjukkan kondisi yang masih aman. Sampel air sumur milik dua warga terdekat memperlihatkan kadar amonia di bawah 0,01 mg/L atau jauh di bawah ambang batas baku mutu air bersih sebesar 1,5 mg/L.

"Hasil pemeriksaan menunjukkan air sumur warga masih memenuhi syarat dan aman digunakan sebagai sumber air baku untuk kebutuhan air minum," ujar Khamidah.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Sleman, Raditya Kusuma Tejamurti, mengimbau masyarakat tetap tenang apabila menghadapi kejadian serupa di masa mendatang.

Ia meminta warga segera menjauh dari sumber kebocoran, menuju area terbuka, serta menggunakan alat pelindung pernapasan seperti masker atau kain untuk menutupi hidung dan mulut.

"Warga juga perlu mengikuti arahan dan koordinasi dari petugas yang datang ke lokasi seperti BPBD, Damkar, dan tim terkait lainnya," kata Raditya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |