Regulasi Baru China Ancam Eksistensi Mobil Hybrid Eropa

4 hours ago 8

Jumali

Jumali Senin, 08 Juni 2026 20:17 WIB

Regulasi Baru China Ancam Eksistensi Mobil Hybrid Eropa

Mobil listrik Xiaomi. (ANTARA/ mi.com)

Harianjogja.com, JOGJA—Perubahan regulasi kendaraan hybrid plug-in (plug-in hybrid electric vehicle/PHEV) di China berpotensi mengubah peta persaingan industri otomotif global. Kebijakan baru tersebut dinilai semakin menyulitkan produsen mobil Eropa untuk bersaing di pasar otomotif terbesar di dunia, sekaligus memperkuat dominasi merek-merek China di segmen kendaraan elektrifikasi.

Berdasarkan laporan Carscoops, pemerintah China kini memperketat syarat kendaraan PHEV yang berhak memperoleh berbagai insentif. Jika sebelumnya kendaraan hybrid plug-in cukup memiliki jarak tempuh listrik murni minimal 43 kilometer, kini batas tersebut dinaikkan menjadi 100 kilometer.

Perubahan itu dinilai menjadi tantangan besar bagi banyak produsen otomotif Eropa yang selama ini mengembangkan PHEV berbasis mesin pembakaran internal dengan kapasitas baterai relatif kecil.

PHEV China Unggul dalam Jarak Tempuh

Kebijakan baru tersebut mendorong produsen lokal China menghadirkan PHEV dengan kemampuan berkendara menggunakan tenaga listrik yang jauh lebih tinggi.

Saat ini, sejumlah model PHEV buatan China telah menawarkan jarak tempuh listrik murni lebih dari 160 kilometer dalam sekali pengisian daya. Beberapa model bahkan mampu mencatatkan angka yang jauh lebih tinggi.

Salah satu contohnya adalah Lotus Eletre yang dilaporkan memiliki jangkauan listrik hingga 420 kilometer berdasarkan standar pengujian CLTC China. Dalam pengujian WLTP yang digunakan di Eropa, kendaraan tersebut masih mampu mencatatkan jarak tempuh sekitar 350 kilometer dalam mode listrik murni.

Sebaliknya, banyak model PHEV Eropa masih mengandalkan baterai berkapasitas lebih kecil. Bahkan sejumlah model premium hanya sedikit melampaui batas minimum baru yang ditetapkan China.

Perbedaan Strategi China dan Eropa

Perbedaan performa tersebut tidak lepas dari pendekatan pengembangan kendaraan yang diterapkan masing-masing wilayah.

Produsen China dalam beberapa tahun terakhir banyak mengembangkan PHEV dari platform kendaraan listrik murni (EV). Strategi ini memungkinkan penggunaan baterai lebih besar sehingga menghasilkan jarak tempuh listrik yang lebih panjang.

Sementara itu, sebagian besar produsen Eropa membangun PHEV dari platform kendaraan bermesin pembakaran internal yang kemudian dipadukan dengan motor listrik dan baterai tambahan.

Pendekatan tersebut membuat kapasitas baterai dan kemampuan berkendara listrik pada banyak model Eropa menjadi lebih terbatas dibandingkan produk-produk China.

Selain memperketat syarat jarak tempuh listrik, regulator China juga mulai memperluas pengawasan terhadap konsumsi bahan bakar kendaraan hybrid. Kebijakan ini berpotensi semakin menekan model-model yang menggunakan mesin berkapasitas besar, termasuk kendaraan dengan mesin V8.

Merek Eropa Mulai Tertekan

Perubahan regulasi tersebut mulai berdampak pada strategi sejumlah produsen otomotif global.

Menurut laporan Automotive News, beberapa merek Eropa seperti Audi, BMW, Mercedes-Benz, Jaguar, dan Land Rover dilaporkan mulai mengurangi atau menghentikan sejumlah model PHEV mereka di pasar China.

Kendaraan yang sebelumnya memenuhi syarat mendapatkan insentif kini tidak lagi memenuhi ketentuan terbaru sehingga daya saingnya menurun di mata konsumen.

Produsen China Mulai Menyerbu Eropa

Dominasi produsen China tidak hanya terlihat di pasar domestik. Sejumlah merek kini mulai memperluas ekspansi ke Eropa dengan membawa teknologi PHEV generasi baru.

Salah satunya adalah Lynk & Co yang mulai memasarkan model 08 ke sejumlah negara Eropa. Selain itu, Volvo XC70 juga menjadi salah satu model yang menarik perhatian pasar setelah dikembangkan di bawah kepemilikan grup otomotif China, Geely Holding Group.

Kondisi tersebut menunjukkan persaingan industri kendaraan elektrifikasi kini tidak lagi didominasi produsen Barat seperti satu dekade lalu.

Pergeseran Kekuatan Industri Otomotif

Regulasi baru China menjadi sinyal bahwa persaingan kendaraan elektrifikasi semakin bergeser pada kemampuan baterai dan efisiensi energi.

Produsen yang mampu menghadirkan PHEV dengan jarak tempuh listrik lebih panjang berpeluang memperoleh keuntungan lebih besar dari kebijakan pemerintah dan preferensi konsumen.

Bagi merek-merek Eropa, perubahan ini menjadi tantangan besar untuk mempercepat inovasi. Tanpa peningkatan teknologi baterai dan efisiensi kendaraan, posisi mereka di pasar otomotif China berisiko semakin tergerus oleh produsen lokal yang bergerak lebih agresif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |