PNM Raih JBBA 2026, Pemberdayaan 15 Juta Perempuan Terus Diperkuat

13 hours ago 3

PNM Raih JBBA 2026, Pemberdayaan 15 Juta Perempuan Terus Diperkuat

Kepala Divisi Pengembangan Kapasitas Usaha dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PNM, Merphino Soelaksmono./Harian Jogja

Harianjogja.com, SLEMAN—Komitmen PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dalam memperkuat pemberdayaan perempuan pelaku usaha ultra mikro dan mikro kembali mendapatkan apresiasi. PNM meraih penghargaan sebagai Lembaga Keuangan Pendukung Pemberdayaan Perempuan dalam ajang Jogja Brand and Business Award (JBBA) 2026 yang digelar di Royal Ambarrukmo Yogyakarta.

Penghargaan tersebut tidak hanya menjadi pengakuan terhadap peran PNM dalam menyediakan akses pembiayaan, tetapi juga menjadi refleksi dari upaya berkelanjutan dalam membangun kapasitas jutaan perempuan Indonesia melalui pelatihan, pendampingan, dan penguatan jejaring usaha.

Kepala Divisi Pengembangan Kapasitas Usaha dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PNM, Merphino Soelaksmono, mengatakan penghargaan yang diterima menjadi bukti bahwa pendekatan pemberdayaan yang dijalankan perusahaan telah berada pada arah yang tepat.

"Bagi PNM, penghargaan ini merupakan pengakuan bahwa pendekatan pemberdayaan yang dijalankan telah berada pada arah yang tepat. Pada 2025, PNM telah menyelenggarakan lebih dari 52.000 kegiatan pelatihan bagi sekitar 1 juta nasabah," kata Merphino, Rabu (15/7/2026).

Menurut dia, perempuan memiliki peran strategis sebagai penggerak ekonomi keluarga. Ketika memperoleh akses terhadap pembiayaan, pengetahuan, dan jejaring usaha, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh usaha yang dijalankan, tetapi juga berdampak pada kesejahteraan keluarga dan lingkungan sekitarnya.

PNM pun terus mengedepankan pendekatan pemberdayaan yang holistik melalui penguatan modal finansial, modal intelektual, dan modal sosial sebagai fondasi terciptanya kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.

Pasca meraih penghargaan di JBBA 2026, PNM akan memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem pemberdayaan yang semakin inklusif. Upaya tersebut diharapkan mampu menciptakan perempuan yang lebih berdaya, usaha yang semakin tangguh, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.

Hingga periode 2025-2026, PNM tercatat telah melayani lebih dari 15 juta nasabah aktif yang seluruhnya merupakan perempuan. Untuk mendukung pelayanan kepada jutaan nasabah tersebut, PNM mengoptimalkan peran sekitar 55.000 pendamping yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

Pendampingan yang dilakukan mengedepankan pendekatan berbasis kelompok dan berkelanjutan sehingga program pemberdayaan yang diberikan dapat lebih relevan dengan kebutuhan nasabah di lapangan.

"Melalui pendekatan tersebut, PNM dapat memahami karakteristik dan kebutuhan nasabah secara lebih dekat sehingga program pemberdayaan yang diberikan menjadi lebih relevan dan tepat sasaran," ujarnya.

Selain memberikan akses pembiayaan, PNM juga mengembangkan berbagai inisiatif pemberdayaan melalui pelatihan tematik, pengembangan klaster usaha, perluasan akses pasar, serta penguatan literasi dan adopsi teknologi digital.

Pelatihan yang secara konsisten digelar setiap tahun mencakup literasi keuangan, pengemasan produk, hingga pemasaran digital melalui media sosial. Program tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing para pelaku usaha mikro agar mampu berkembang secara berkelanjutan.

Keberhasilan pemberdayaan nasabah, menurut Merphino, tidak hanya diukur dari peningkatan omzet maupun berkembangnya usaha. Kemandirian, kepercayaan diri, serta kemampuan perempuan dalam memberikan manfaat bagi keluarga dan komunitasnya juga menjadi indikator penting keberhasilan program.

"Karena itu, selain menghadirkan akses pembiayaan, PNM juga secara konsisten memberikan pendampingan melalui pelatihan literasi keuangan, pengembangan usaha, pemasaran digital, hingga penguatan jejaring agar nasabah memiliki kapasitas untuk tumbuh secara berkelanjutan," katanya.

Sejumlah kisah sukses turut lahir dari program pemberdayaan yang dijalankan PNM. Salah satunya adalah Ibu Anis, perajin wayang di Imogiri yang mengikuti program Mekaarpreneur, yakni program inkubasi bisnis selama tiga bulan bagi nasabah yang dinilai memiliki potensi besar di pasar. Melalui program tersebut, Anis berhasil mengembangkan usahanya hingga memperoleh kesempatan berkolaborasi dengan desainer Rinaldy Yunardi.

Kisah serupa juga datang dari Ibu Muji Rahayu di Kabupaten Kulonprogo yang mengembangkan usaha kerajinan anyaman. Berkat program pengembangan usaha yang diikuti, usahanya kini berkembang dengan melibatkan banyak perajin lokal sehingga turut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.

"Kisah seperti ini menjadi bukti bahwa ketika perempuan memperoleh akses terhadap modal, pengetahuan, dan pendampingan yang tepat, mereka mampu menjadi penggerak ekonomi sekaligus agen perubahan di komunitasnya," tutur Merphino.

Melalui penguatan pemberdayaan yang berkelanjutan, PNM berharap semakin banyak perempuan Indonesia yang mampu tumbuh sebagai pelaku usaha tangguh sekaligus menjadi penggerak ekonomi keluarga dan masyarakat di berbagai daerah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |