
Suasana bedah buku Budidaya Bawang Merah Asal Biji di Balai Padukuhan Kampung, Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen, Gunungkidul, Rabu (24/6). / Harian Jogja-David Kurniawan
Budi daya bawang merah menggunakan biji dinilai mampu menghasilkan panen hingga 30 ton per hektare. Metode ini juga disebut lebih efisien dan berpotensi menjadi sumber pendapatan baru bagi petani di Kabupaten Gunungkidul. Potensi tersebut mengemuka dalam bedah buku Budi Daya Bawang Merah Asal Biji yang digelar di Balai Padukuhan Kampung, Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen, Rabu (24/6).
Wakil Ketua DPRD DIY Imam Taufik mengatakan budi daya bawang merah memiliki prospek bisnis yang menjanjikan. Karena itu, sektor ini tidak hanya cocok ditekuni petani berpengalaman, tetapi juga generasi muda. “Budi daya bawang merah, tidak hanya untuk warga yang telah lama menggeluti di bidang pertanian. Tapi, anak-anak muda juga harus bisa menjadi penggerak di sektor ini karena prospek bisnisnya sangat bagus,” kata Gus Im, sapaan akrabnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta dikenalkan dengan teknik penanaman bawang merah menggunakan biji. Metode ini berbeda dengan pola konvensional yang selama ini mengandalkan umbi sebagai bahan tanam. “Yang diajarkan mengenai cara menanam bawang merah dengan biji sehingga tidak menggunakan pola konvensional melalui pembenihan lewat umbi,” ungkapnya.
Menurut Gus Im, teknik tanam menggunakan biji memiliki sejumlah keunggulan. Selain lebih tahan terhadap serangan hama, produktivitasnya juga lebih tinggi dibandingkan metode berbasis umbi. “Hasil panennya bisa tembus 30 ton per hektarenya. Ini bisa menjadi peluang bagus untuk meningkatkan pendapatan bagi kalangan petani,” katanya.
Narasumber bedah buku, Rajiman, menjelaskan teknik menanam bawang merah menggunakan biji memiliki produktivitas jauh lebih tinggi dibandingkan pola tanam konvensional. Menurut dia, hasil yang diperoleh bisa mencapai tiga kali lipat dibandingkan metode yang umum diterapkan petani saat ini. Selain itu, kebutuhan benih juga lebih sedikit. Untuk satu kali tanam, petani hanya membutuhkan sekitar tiga hingga empat kilogram benih.
“Beda kalau menggunakan umbi, benih yang dibutuhkan lebih banyak. Teknik menggunakan biji juga tidak membutuhkan lokasi penyimpanan yang luas saat persiapan masa tanam,” kata Rajiman. Ia menambahkan penggunaan benih dari biji dapat menekan biaya produksi sehingga keuntungan yang diperoleh petani menjadi lebih besar.
“Yang paling penting, bibit dari biji juga lebih tahan terhadap serangan hama. Makanya, cara tanam ini bisa dikembangkan di Gunungkidul karena pangsa pasarnya masih sangat terbuka,” katanya.
Sementara itu, Pustakawan Ahli Madya Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY Muhammad Hadi Pranoto mengatakan kegiatan bedah buku tersebut terselenggara melalui kerja sama dengan DPRD DIY sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya literasi masyarakat.
Menurut dia, hasil survei terbaru Perpustakaan Nasional menunjukkan tingkat kegemaran membaca dan daya baca masyarakat masih rendah setelah adanya perubahan indikator penilaian. “Ada indikator penilaian yang baru sehingga hasilnya turun semua dan tingkat kegemaran maupun daya baca masih rendah sehingga butuh ditingkatkan. Lewat bedah buku menjadi salah satu cara meningkatkan program literasi di DIY,” katanya. (ADV)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































