Gempa Susulan di NTT Tembus 1.598 Kali, BMKG Terus Memantau

3 hours ago 1

Gempa Susulan di NTT Tembus 1.598 Kali, BMKG Terus Memantau

Sejumlah warga terdampak bencana gempa beristirahat di tenda pengungsian di Stadion Gelora Samador Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8/2026). Data Kementerian Sosial mencatat hingga pukul 15.40 WIB, terdapat sekitar dua ribu jiwa dilaporkan terdampak bencana gempa bumi di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur. ANTARA FOTO/Mega Tokan/sth/wpa.

Harianjogja.com, JAKARTA—Aktivitas gempa susulan di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih berlangsung intens setelah gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15/8/2026) pagi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga Senin (17/8/2026) pukul 07.00 WIB telah terjadi 1.598 gempa susulan, dengan puluhan di antaranya dirasakan langsung oleh masyarakat.

Ribuan Gempa Susulan Terekam Pascagempa Utama

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan pemantauan aktivitas seismik terus dilakukan secara intensif guna mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat muncul setelah gempa utama.

Menurut dia, data yang dihimpun hingga Senin pagi menunjukkan jumlah gempa susulan masih terus bertambah sejak kejadian gempa bermagnitudo 7,7 yang melanda wilayah NTT.

“Sampai dengan jam 7 pagi hari ini telah tercatat 1.598 gempa susulan, magnitudo terbesar adalah 6,2 magnitudo, yang terkecil 1,3 dan kemudian yang dirasakan kira-kira 54 gempa,” ujarnya saat ditemui di Istana Negara, Senin (17/8/2026).

Data tersebut menunjukkan aktivitas seismik masih berlangsung di kawasan terdampak beberapa hari setelah gempa utama terjadi.

BMKG Terus Pantau Risiko Pascagempa

Faisal menjelaskan BMKG terus melakukan pemantauan lapangan untuk memastikan perkembangan aktivitas gempa dan mengidentifikasi potensi risiko yang masih mungkin terjadi.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan masyarakat di wilayah terdampak sekaligus mendukung proses penanganan darurat yang sedang berlangsung.

Sejak awal kejadian, BMKG telah mengerahkan sejumlah personel ke berbagai lokasi yang terdampak gempa.

Para petugas bekerja sama dengan pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta tim pencarian dan pertolongan dalam mendukung proses evakuasi maupun penanganan darurat.

Koordinasi lintas instansi tersebut terus dilakukan seiring dengan masih berlangsungnya aktivitas gempa susulan di wilayah NTT.

Aktivitas Gempa Diperkirakan Meluruh dalam Beberapa Pekan

Selain memantau perkembangan gempa susulan, BMKG juga mengamati pola peluruhan aktivitas seismik yang terjadi setelah gempa utama.

Menurut Faisal, proses tersebut menjadi salah satu indikator penting sebelum memasuki tahap rehabilitasi maupun perbaikan infrastruktur yang mengalami kerusakan.

"Tetapi kita terus masih memantau terkait dengan peluruhannya, kemungkinan dalam 2–3 minggu ke depan dia akan meluruh sehingga kita mulai dapat melakukan retrofitting," kata Faisal.

Peluruhan aktivitas gempa menjadi perhatian karena berkaitan dengan keamanan pelaksanaan pekerjaan konstruksi maupun perbaikan bangunan yang terdampak bencana.

Retrofitting Menunggu Aktivitas Seismik Mereda

Faisal menjelaskan proses retrofitting atau penguatan struktur bangunan belum dapat dilakukan secara optimal selama aktivitas gempa susulan masih berlangsung dalam jumlah tinggi.

Begitu pula dengan pembangunan kembali fasilitas umum dan hunian warga yang mengalami kerusakan akibat gempa.

Menurut dia, tahapan tersebut baru dapat dilakukan secara lebih maksimal setelah aktivitas seismik menunjukkan tren penurunan yang stabil.

Karena itu, pemantauan intensif akan terus dilakukan untuk memastikan kondisi lapangan memungkinkan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi secara aman.

BMKG akan terus mengamati perkembangan aktivitas gempa sebelum memasuki fase pemulihan fisik di wilayah terdampak.

BNPB Catat 47 Korban Meninggal Dunia

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data sementara mengenai dampak gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah NTT.

Berdasarkan laporan hingga Sabtu (15/8/2026) pukul 18.48 WIB, jumlah korban meninggal dunia mencapai 47 orang.

BNPB merinci korban meninggal dunia berasal dari Kabupaten Manggarai sebanyak 24 orang, Kabupaten Manggarai Timur 17 orang, Kabupaten Sikka tiga orang, Kabupaten Manggarai Barat satu orang, Kabupaten Ngada satu orang, dan Kabupaten Ende satu orang.

Selain korban meninggal dunia, petugas juga melakukan evakuasi serta memberikan penanganan medis kepada warga yang mengalami luka-luka akibat bencana tersebut.

Ratusan Rumah Mengalami Kerusakan

Gempa yang terjadi di wilayah NTT juga menyebabkan kerusakan pada ratusan bangunan milik warga.

Berdasarkan data sementara hingga Sabtu (15/8/2026) pukul 17.00 WIB, tercatat sebanyak 157 rumah mengalami rusak berat.

Selain itu terdapat 41 rumah rusak sedang dan 148 rumah rusak ringan.

Data tersebut masih bersifat sementara dan menjadi bagian dari proses pendataan yang terus dilakukan oleh pemerintah bersama instansi terkait di wilayah terdampak gempa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |