Pergerakan Tanah Bantul Picu Kekhawatiran di Kawasan Perumahan

7 hours ago 2

Pergerakan Tanah Bantul Picu Kekhawatiran di Kawasan Perumahan Foto ilustrasi tanah bergerak, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, BANTUL—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul mencatat lima kejadian pergerakan tanah di wilayah Kabupaten Bantul sepanjang Februari lalu yang dipicu hujan berkepanjangan. Fenomena pergerakan tanah di Bantul tersebut tersebar di beberapa kalurahan dan bahkan berdampak pada kawasan perumahan.

Dari lima titik pergerakan tanah di Bantul itu, salah satu lokasi dengan dampak paling besar berada di kawasan perumahan di Padukuhan Goa, Kalurahan Triwidadi, Kapanewon Pajangan. Di lokasi tersebut tercatat sebanyak 20 rumah terdampak akibat pergerakan tanah yang terjadi setelah curah hujan tinggi mengguyur wilayah tersebut.

Kepala Pelaksana BPBD Bantul, Mujaid Amrudin menjelaskan, kejadian pergerakan tanah di Bantul tersebut tersebar di tiga kapanewon dan tiga kalurahan. Lokasinya berada di Sriharjo, Imogiri dan Triwidadi, Pajangan, serta Argosari, Sedayu.

"Totalnya lima sepanjang Februari lalu yakni di Padukuhan Sompok, Wunut, Gampeng, Goa dan di Jambon. Selain hujan deras ada juga faktor kondisi tanah yang labil," katanya, Rabu (11/3/2026).

Menurut Mujahid, empat lokasi pergerakan tanah di Bantul tersebut merupakan kejadian pertama kali. Sementara itu, pergerakan tanah di Padukuhan Sompok sudah pernah terjadi beberapa kali karena lokasinya berada di dekat Sungai Oyo. Hingga kini BPBD Bantul masih melakukan kajian lebih lanjut untuk memastikan faktor utama yang memicu kejadian tersebut.

"Yang paling parah itu di Goa, Triwidadi, Pajangan total 20 rumah terdampak. Namun semuanya kami atensi tinggi," kata Mujahid.

Ia menambahkan, dari lima titik pergerakan tanah di Bantul, dua lokasi berada di kawasan perumahan, yakni di Padukuhan Goa dan Jambon. Menurut dia, BPBD Bantul juga terlibat dalam proses kajian awal terkait pembangunan kawasan perumahan, khususnya yang berkaitan dengan potensi bencana.

"Kami posisinya cuma merekomendasi setelah melakukan asesmen potensi bencana. Ada satu yang kami tolak karena lokasinya rawan longsor yakni di utara makam raja-raja Imogiri," pungkasnya.

Sementara itu, Sekretaris DPD REI DIY, Ngatijan Suryo Sutiarso menyebut, fenomena pergerakan tanah di Bantul yang terjadi di kawasan perumahan menjadi pengingat bagi para pengembang properti agar lebih memperhatikan aspek keamanan konstruksi dan tata ruang sejak tahap perencanaan pembangunan.

"Bisnis properti ini kan bisnis legalitas. Makanya harus tertib untuk mengurus tentang legalitas sampai selesai," katanya.

Ngatijan menambahkan, kejadian pergerakan tanah di Bantul tersebut juga berpotensi memengaruhi minat masyarakat dalam membeli rumah komersial maupun rumah subsidi di wilayah Bantul, terutama jika pembangunan tidak memperhatikan aspek mitigasi bencana.

"Pasti kalau ada kayak gitu kan pasti pengaruh. Cuma ya tadi itu, kalau dalam pembangunannya sesuai dengan istilahnya yang kami sarankan, yang sudah kami edukasikan, pasti aman," pungkas dia.

Dalam konteks mitigasi bencana di Bantul, keterlibatan BPBD dalam memberikan rekomendasi terhadap pembangunan perumahan dinilai penting agar potensi pergerakan tanah di Bantul dapat diantisipasi sejak tahap perencanaan kawasan permukiman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |