Pelemahan Rupiah dan Lesunya Pasar Hantam Pengusaha Mebel Bantul

9 hours ago 5

Pelemahan Rupiah dan Lesunya Pasar Hantam Pengusaha Mebel Bantul

Ilustrasi mebel/Solopos- Sunaryo Haryo Bayu

Harianjogja.com, BANTUL—Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan pelaku usaha mebel di Kabupaten Bantul. Kondisi ini memicu kenaikan harga sejumlah bahan penunjang produksi sekaligus memperberat tekanan akibat lesunya permintaan pasar.

Wakil Ketua I DPRD Bantul yang juga pengusaha mebel, Suradal, mengatakan dampak pelemahan rupiah belum terlalu berpengaruh terhadap harga kayu sebagai bahan baku utama. Namun, kenaikan mulai terasa pada berbagai bahan pendukung dan perlengkapan produksi yang sebagian masih bergantung pada komponen impor.

“Kalau kayu tidak terlalu berpengaruh. Tapi untuk bahan pendukung seperti thinner, cat, paku, dan peralatan pertukangan memang ada kenaikan,” ujarnya, Senin (8/6/2026).

Menurut Suradal, kenaikan harga bahan penunjang memang tidak terjadi secara drastis, tetapi cukup menambah beban operasional usaha. Beberapa peralatan pertukangan dan kebutuhan bengkel juga mengalami penyesuaian harga dibandingkan sebelumnya.

Meski demikian, ia menilai tantangan terbesar saat ini justru berasal dari sisi permintaan pasar. Dalam satu bulan terakhir, penjualan mebel mengalami penurunan cukup signifikan seiring melemahnya daya beli masyarakat.

“Yang paling terasa sekarang justru permintaannya turun. Daya beli masyarakat sedang rendah sehingga usaha mebel ikut terpukul,” katanya.

Kondisi tersebut, lanjut Suradal, tidak hanya dialami industri mebel, tetapi juga berbagai sektor kerajinan yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat Bantul. Produk-produk yang menyasar pasar domestik menjadi kelompok yang paling terdampak.

“Kerajinan lokal, mebel lokal, banyak yang terdampak. Hampir semua sektor kerajinan merasakan hal yang sama,” ujarnya.

Suradal mengungkapkan dalam beberapa bulan terakhir usaha yang dikelolanya mengalami penurunan pesanan. Aktivitas produksi pun menurun karena minimnya order dari konsumen.

“Beberapa bulan terakhir bahkan nyaris tidak ada pengiriman. Kondisinya memang sedang sepi,” katanya.

Untuk menjaga keberlangsungan usaha, pelaku industri mebel melakukan berbagai langkah efisiensi. Salah satunya dengan menyesuaikan jam kerja karyawan tanpa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Yang penting bertahan dulu. Karyawan tetap kami pertahankan, hanya jam kerjanya disesuaikan. Ada yang seminggu masuk tiga hari,” ungkapnya.

Di unit usaha yang dikelolanya, terdapat belasan pekerja mulai dari tenaga produksi, tukang kayu hingga bagian finishing. Menurut Suradal, mempertahankan tenaga kerja menjadi prioritas meski kondisi usaha belum sepenuhnya pulih.

“Ini seperti seleksi alam bagi dunia usaha. Yang kuat bertahan akan tetap berjalan. Karena itu kami berusaha mempertahankan pekerja semampunya,” katanya.

Ia menambahkan gejala perlambatan ekonomi mulai terasa dalam sekitar satu bulan terakhir. Oleh karena itu, pelaku usaha berharap kondisi ekonomi nasional segera membaik sehingga daya beli masyarakat kembali meningkat.

“Harapan kami kondisi ekonomi bisa lebih stabil sehingga permintaan kembali tumbuh. Kalau pasar bergerak lagi, pelaku usaha tentu lebih mudah bertahan,” ujar Suradal.

Dampak pelemahan rupiah juga dirasakan pelaku usaha kerajinan di Desa Wisata Krebet, Bantul. Kenaikan biaya produksi mulai terjadi pada sejumlah bahan pendukung yang digunakan dalam proses finishing produk kerajinan.

Wakil Ketua Pengelola Desa Wisata Krebet, Riyadi Zibril, mengatakan beberapa bahan yang mengalami kenaikan harga antara lain Melamin Propan Pasti Gloss, Sending Siller, dan thinner.

Ia menjelaskan harga Melamin Propan Pasti Gloss naik dari sekitar Rp245.000 menjadi Rp290.000 per galon. Sementara Sending Siller meningkat dari Rp195.000 menjadi Rp250.000 per galon.

Kenaikan tertinggi terjadi pada thinner jenis ND yang melonjak dari Rp95.000 menjadi Rp150.000 per galon berisi lima liter.

“Satu galon isinya lima liter. Harga masih naik turun dan tidak pasti. Thinner ND saja naik dari Rp95.000 menjadi Rp150.000 per galon,” kata Riyadi.

Kenaikan biaya produksi di tengah melemahnya permintaan pasar menjadi tantangan ganda yang kini dihadapi pelaku usaha mebel dan kerajinan di Bantul. Mereka berharap stabilitas ekonomi dan nilai tukar dapat segera membaik agar aktivitas usaha kembali bergairah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |