Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono (kanan) berbincang dengan Kapolresta Banyumas Kombes Pol Petrus P Silalahi saat meninjau lapak bagi pedagang usai selamatan penataan pedagang di Pasar Wage, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Minggu (22/3/2026) malam. ANTARA - Sumarwoto
Harianjogja.com, PURWOKERTO—Pemindahan pedagang di kawasan Pasar Wage mulai dilakukan pada Minggu (22/3/2026) malam, menandai perubahan besar penataan pasar yang telah direncanakan selama bertahun-tahun.
Langkah ini dilakukan setelah kesepakatan antara pemerintah daerah dan paguyuban pedagang, dengan total ratusan pedagang mulai menempati lapak baru di dalam pasar.
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menegaskan penataan ini bertujuan menciptakan keadilan bagi seluruh pedagang, baik yang sebelumnya berjualan di dalam maupun di luar pasar.
“Ini bukan penertiban, tapi penataan. Saya ingin semua pedagang merasa adil, yang di dalam maupun di luar,” katanya seusai Selamatan Penataan Pasar Wage di Purwokerto.
Pemindahan pedagang kaki lima dari Jalan Wihara ke dalam pasar disebut merupakan hasil diskusi bersama, bukan keputusan sepihak pemerintah.
Kesepakatan tersebut melibatkan Paguyuban Pedagang Pasar Wage (P3W) dan Paguyuban Pedagang Pagi Pasar Wage Purwokerto (P4WP).
Menurut Sadewo, sebagian besar pedagang memang menginginkan relokasi ke dalam pasar agar fungsi jalan dapat kembali normal sebagai akses lalu lintas.
“Realisasi pemindahan mulai dilakukan pada malam ini (22/3/2026),” katanya.
Ia berharap penataan ini dapat meningkatkan kenyamanan bagi pedagang sekaligus memberikan rasa aman bagi pembeli yang beraktivitas di pasar.
Selain itu, pemerintah daerah juga menyiapkan rencana jangka panjang berupa revitalisasi Pasar Wage agar kembali menjadi pusat perdagangan utama di Banyumas.
Salah satu langkah yang direncanakan adalah pembebasan lahan agar wajah pasar menghadap Jalan Jenderal Soedirman.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Banyumas, Gatot Eko Purwadi, menyebut total pedagang yang ditata mencapai 243 pedagang luar pasar dan 735 pedagang lorong.
Ia menjelaskan proses penataan ini telah berlangsung selama 25 tahun, hingga akhirnya para pedagang sepakat menempati lapak di lantai dua pasar setelah melalui diskusi intensif dalam beberapa bulan terakhir.
“Mulai besok Senin (23/3/2026) sisa lapak akan dibersihkan. Malam ini pemindahan dilakukan, besok pagi kami harapkan sudah bersih,” katanya.
Pendekatan yang digunakan dalam proses ini mengedepankan cara humanis, termasuk merangkul pedagang luar pasar yang sebelumnya tidak terdaftar secara resmi.
Seluruh pedagang telah melalui proses pendataan, pendaftaran, hingga pengundian untuk mendapatkan tempat berjualan.
“Jika masih ada pedagang yang bertahan berjualan di luar area, petugas tetap mengedepankan pendekatan persuasif,” katanya.
Ketua P3W Mohammad Toha menyebut kesepakatan ini menjadi titik penting setelah perjuangan panjang pedagang selama puluhan tahun.
“Perjuangan kami bukan mencari kemenangan, tapi menuntut keadilan. Fungsi jalan untuk jalan, fungsi pasar untuk berdagang,” katanya.
Sementara itu, Ketua P4WP Nada Pratikno menyatakan penyatuan paguyuban pedagang menjadi satu wadah diharapkan mengakhiri konflik yang selama ini terjadi.
“Kami sepakat melebur jadi satu, lupakan kelompok lama. Kita maju bersama,” katanya.
Ia menambahkan penempatan lapak di dalam pasar telah disesuaikan dengan jenis dagangan, sehingga pedagang tidak lagi berjualan sembarangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara


















































