Disayang BCS Dicintai Brajamusti, Ini Kisah Pengasong Sri Wagiyati

3 hours ago 1

Disayang BCS Dicintai Brajamusti, Ini Kisah Pengasong Sri Wagiyati

Sri Wagiyati bersama dagangannya saat berjualan di Stadion Sultan Agung, Bantul, beberapa waktu lalu. Istimewa/ Dok. Pribadi

Harianjogja.com, JOGJA—Riuh chant suporter di tribun stadion DIY bukan lagi suasana asing bagi Sri Wagiyati. Di tengah gemuruh dukungan untuk klub sepak bola kesayangan, perempuan 57 tahun itu tak hanya menjajakan dagangan asongan, tetapi juga ikut bernyanyi bersama suporter hingga kerap memimpin yel-yel layaknya seorang capo. Dari tribun stadion itulah Sri menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar penghasilan: rasa diterima dan dicintai.

Perempuan asal Sewon, Bantul, tersebut kini dikenal luas oleh berbagai kelompok suporter sepak bola di DIY. Kedekatannya terjalin dengan banyak komunitas, mulai dari PSS Sleman melalui kelompok Brigata Curva Sud dan Slemania, hingga pendukung PSIM Yogyakarta seperti Brajamusti dan The Maident. Ia juga akrab dengan Paserbumi dan Curva Nord Famiglia (CNF), pendukung Persiba Bantul.

“Saya nggak membeda-bedakan. Semua itu anak-anak saya. Mereka bukan sekadar suporter, tapi sudah seperti saudara,” ujar Sri kepada Harian Jogja, Sabtu (16/5/2026).

Hubungan Sri dengan para suporter tak berhenti pada aktivitas jual beli di stadion. Banyak suporter yang justru lebih dulu menghubunginya untuk memastikan apakah ia akan datang berjualan dalam pertandingan tertentu. Bahkan, mereka tak segan membantu ketika Sri mengalami kesulitan di lapangan.

“Saya pernah terlambat datang, nggak boleh masuk stadion. Saya nangis. Tapi anak-anak BCS bantu saya, bahkan bawakan dagangan saya masuk. Saya nggak akan lupa itu,” kenangnya.

“Hubungan saya sama mereka itu sudah lebih dari saudara. Jadi mereka itu bukan penonton lagi, dia itu bukan suporter lagi, seakan-akan mereka itu saudara gitu,” lanjutnya.

Perjalanan Sri di dunia sepak bola bermula dari kebutuhan ekonomi. Ia mulai berjualan asongan di Stadion Sultan Agung Bantul, yang lokasinya tak jauh dari rumahnya, ketika Persiba Bantul bertanding. Dari sekadar mencari tambahan penghasilan, stadion justru menjadi ruang hidup baru baginya.

Seiring waktu, Sri mulai rutin berjualan di berbagai stadion lain di DIY, seperti Stadion Mandala Krida dan Stadion Maguwoharjo yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya di Bantul. Dalam persaingan pedagang yang ketat, ia kemudian menemukan cara unik untuk menarik perhatian pembeli: ikut bernyanyi bersama suporter.

“Saya mikir, piye carane aku iso dodol laris tanpa kesel [bagaimana caranya dagangan laris tanpa lelah]. Akhirnya saya punya ide, ikut nyanyi. Ternyata mereka senang, bahkan ada yang bantu jualkan dagangan saya. Saya sampai mbrebes mili, terharu,” tuturnya.

Kedekatan dengan tribun suporter membuat Sri perlahan dikenal luas. Dalam sejumlah pertandingan PSS Sleman maupun PSIM Yogyakarta, ia bahkan tanpa sadar memimpin chant dan nyanyian suporter. Aksinya direkam lalu viral di media sosial hingga membuat namanya makin dikenal pecinta sepak bola DIY.

“Saya nggak tahu kalau divideo. Tahu-tahu viral. Waktu itu saya cuma merasa dibutuhkan. Aku orang tua kok dimanusiakan, dihormati, dibutuhkan. Saya trenyuh,” katanya.

Di balik kedekatannya dengan tribun stadion, Sri menyimpan perjuangan panjang sebagai ibu yang membesarkan dua anak kembar seorang diri. Ia mengawali usahanya dengan bersepeda sambil membawa dagangan keliling sebelum akhirnya mampu membeli sepeda motor dari hasil berdagang.

“Saya dari awal cuma nyepeda. Ekonomi saya lemah. Tapi dari jualan di stadion saya bisa menyekolahkan anak saya sampai SMK. Bahkan akhirnya bisa belikan mereka motor untuk kerja,” ujarnya.

Kisah Sri juga membawa sepak bola masuk lebih jauh ke kehidupan keluarganya. Salah satu anaknya yang dulu sering menemaninya berjualan di Stadion Maguwoharjo kini aktif menjadi bagian dari komunitas BCS. Bagi Sri, atmosfer kebersamaan yang dibangun para suporter membuatnya merasa dihargai dan diterima.

“Anak saya malah ikut komunitas BCS sampai sekarang. Saya juga senang, karena mereka itu nguwongke (memanusiakan), memanusiakan manusia. Saya nyaman di tengah mereka,” ungkapnya.

Meski dikenal luas dan dekat dengan banyak suporter, Sri mengaku tetap menghadapi tantangan. Popularitasnya terkadang memunculkan kecemburuan di antara sesama pedagang. Namun, ia memilih menjalani semuanya dengan tenang tanpa memicu persaingan tidak sehat.

“Semua ada pro dan kontra. Tapi saya tetap rangkul semuanya. Prinsip saya, saya bisa laris tanpa menjegal orang lain,” katanya.

Sejak mulai aktif berdagang pada awal 2000-an dan semakin intens setelah gempa Jogja 2006, Sri telah melewati banyak fase kehidupan. Dari berjualan kerupuk keliling hingga berdagang di Pasar Giwangan, ia kini menjadi sosok yang akrab di tribun stadion sepak bola DIY.

Ketika tidak ada pertandingan, Sri tetap mencari nafkah dengan berjualan di sejumlah kawasan wisata seperti Malioboro dan Pasar Beringharjo. Namun baginya, stadion tetap menjadi tempat paling istimewa karena di sanalah ia merasa memiliki keluarga baru di tengah kerasnya perjuangan hidup.

“Jualan asongan itu sudah menjiwai saya. Tapi di sepak bola, saya bukan cuma jualan. Saya merasa dicintai,” ucap Sri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |