
Lokasi TPR baru di kawasan Parangtritis, Senin (13/4/2026). Harian Jogja/Kiki Luqman
Harianjogja.com, BANTUL— Rangkaian libur panjang yang berlangsung sejak Iduladha hingga peringatan Hari Lahir Pancasila pada Senin (1/6/2026) mendorong lonjakan kunjungan wisata di Kabupaten Bantul. Ribuan wisatawan tercatat memadati berbagai destinasi, terutama kawasan pantai selatan yang menjadi daya tarik utama.
Sub Koordinator Kelompok Substansi Promosi Kepariwisataan Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul, Markus Purnomo Adi, menyebut jumlah kunjungan wisatawan terus meningkat sejak periode libur dimulai pada 26 Mei 2026.
Hingga Minggu (31/5) pukul 19.00 WIB, jumlah wisatawan yang masuk ke berbagai destinasi wisata di Bantul tercatat mencapai 17.066 orang.
“Data sampai jam 19.00 WIB kemarin sebanyak 17.066 pengunjung,” kata Markus, Senin (1/6/2026).
Menurutnya, peningkatan mobilitas wisatawan tersebut turut memberikan dampak langsung terhadap pendapatan daerah dari sektor pariwisata.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari retribusi objek wisata selama periode 26–31 Mei 2026 tercatat mencapai sekitar Rp350 juta.
“Untuk PAD selama periode libur panjang dari tanggal 26 sampai 31 Mei sekitar Rp350 juta,” ujarnya.
Kawasan Pantai Parangtritis kembali menjadi destinasi paling favorit bagi wisatawan. Selain itu, sejumlah pantai lain seperti Pantai Samas, Pantai Goa Cemara, Pantai Baru, hingga Pantai Pandansimo juga mencatatkan tingkat kunjungan yang tinggi.
Meski terjadi peningkatan signifikan, Dispar Bantul menilai masih terdapat sejumlah tantangan dalam pengelolaan arus wisatawan, terutama pada sistem retribusi di kawasan pantai selatan bagian barat.
Koordinator TPR Pansela Barat Bantul, Suta Akhir, mengatakan jumlah petugas yang ada saat ini masih belum ideal untuk menangani volume kendaraan wisatawan, khususnya pada masa liburan.
Saat ini terdapat 24 petugas yang berjaga di kawasan pantai barat. Namun, idealnya setiap Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) membutuhkan minimal empat petugas agar pengawasan berjalan optimal.
“Minimal empat petugas. Hari biasa dua masuk dan dua libur. Kalau akhir pekan atau ada kegiatan khusus bisa masuk semua,” katanya.
Ia menambahkan, keterbatasan personel berpotensi memicu kebocoran retribusi. Kondisi antrean kendaraan yang panjang kerap dimanfaatkan sebagian pengunjung untuk masuk tanpa membayar tiket.
Selain itu, keberadaan jalur alternatif atau “jalur tikus” juga masih menjadi tantangan dalam optimalisasi pendapatan daerah.
“Kadang ada yang menerobos saat antrean panjang. Jalur tikus juga masih dimanfaatkan sebagian pengunjung,” ujarnya.
Dispar Bantul berencana melakukan evaluasi lebih lanjut terkait kebutuhan tambahan personel guna meningkatkan efektivitas pengawasan sekaligus mengoptimalkan penerimaan daerah dari sektor pariwisata.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































