Kenduri Jenang Suran di Pringgokusuman, Tradisi Syukur Terus Dijaga

4 hours ago 3

Kenduri Jenang Suran di Pringgokusuman, Tradisi Syukur Terus Dijaga

Warga KRB Pringgokusuman menggelar kenduri jenang suran di Pendopo Ndalem Notoyudan pada Selasa (23/6/2026). /Dok. Kemantren Gedongtengen.

Harianjogja.com, JOGJA—Rintisan Kelurahan Budaya (RKB) Pringgokusuman kembali menghidupkan tradisi Kenduri Jenang Suran sebagai bagian dari peringatan Tahun Baru Jawa. Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Ndalem Notoyudan pada Selasa (23/6/2026) malam tersebut menjadi upaya menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat identitas masyarakat di tengah perkembangan zaman.

Pelaksanaan Kenduri Jenang Suran tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga ruang untuk mempererat kebersamaan warga. Tradisi yang digelar setiap Bulan Sura itu sarat makna spiritual, sosial, dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Jawa.

Mantri Pamong Praja Kemantren Gedongtengen, Pargiyat, menjelaskan Kenduri Jenang Suran merupakan bentuk ungkapan rasa syukur serta doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar masyarakat memperoleh keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan dalam memasuki tahun yang baru. Tradisi ini dilaksanakan pada malam tanggal 9 dalam penanggalan Jawa yang memiliki makna khusus dalam rangkaian peringatan Bulan Sura.

Menurutnya, tradisi tersebut menjadi salah satu warisan budaya yang mengandung nilai gotong royong, kebersamaan, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat.

“Tradisi seperti Kenduri Jenang Suran ini menjadi identitas budaya masyarakat yang mengandung nilai gotong royong, kebersamaan, dan doa untuk kebaikan bersama. Oleh karena itu, pelestariannya membutuhkan dukungan dari semua pihak agar tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat,” ujarnya.

Dalam prosesi kenduri, Jenang Suran disajikan dalam bentuk bubur beras yang dilengkapi beragam lauk, mulai dari sambal goreng, irisan telur, abon, hingga aneka kacang-kacangan goreng. Setiap unsur hidangan memiliki filosofi tersendiri yang merepresentasikan rasa syukur, keharmonisan, dan semangat kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Jogja, Yetti Martanti, menilai upacara adat seperti Kenduri Jenang Suran perlu didokumentasikan secara sistematis agar dapat menjadi sumber pengetahuan budaya bagi generasi mendatang. Dokumentasi yang baik juga dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan tradisi serta memperkuat arsip kebudayaan daerah.

Selain itu, menurutnya, kegiatan budaya memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata berbasis tradisi apabila dikemas secara menarik dan melibatkan lebih banyak komunitas budaya maupun pelaku seni.

“Dokumentasi yang baik akan menjadi arsip budaya yang berharga. Selain itu, kegiatan seperti malam ini dapat dikembangkan menjadi atraksi budaya yang menarik sehingga mampu mengundang lebih banyak komunitas dan penggiat seni budaya untuk bersama-sama mengenalkan kekayaan tradisi Kota Jogja,” tuturnya.

Melalui penyelenggaraan Kenduri Jenang Suran, nilai-nilai spiritual, sosial, dan budaya yang terkandung dalam tradisi tersebut diharapkan terus diwariskan kepada generasi muda. Upaya pelestarian ini sekaligus menjadi bagian dari penguatan identitas budaya masyarakat Pringgokusuman yang turut memperkaya khazanah budaya Kota Jogja serta mendukung keberlangsungan tradisi lokal di masa mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |