
Skrining TBC - Ilustrasi Antara
Harianjogja.com, SLEMAN—Pemerintah Kabupaten Sleman memperkuat upaya pengendalian tuberkulosis (TB) setelah jumlah kasus yang tercatat hingga 2025 mencapai 2.542 kasus. Langkah pencegahan dan penanganan kini diperluas hingga tingkat kalurahan dengan melibatkan Tim Penggerak PKK sebagai ujung tombak edukasi dan pendampingan masyarakat.
Penguatan strategi pengendalian TB menjadi salah satu fokus Pemkab Sleman mengingat penyakit tersebut masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang membutuhkan penanganan berkelanjutan. Selain deteksi dini, keberhasilan pengobatan dan pencegahan penularan juga sangat bergantung pada dukungan keluarga serta lingkungan sekitar pasien.
Upaya tersebut dibahas dalam pertemuan antara Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa bersama Tim Penggerak PKK Kabupaten Sleman di Rumah Dinas Bupati Sleman, Kamis (18/6/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Danang menegaskan keluarga memiliki peran strategis dalam memutus rantai penularan TB. Menurutnya, keluarga tidak hanya berfungsi mendampingi pasien selama menjalani pengobatan, tetapi juga menjadi pihak pertama yang dapat mengenali gejala dan mendorong pemeriksaan kesehatan lebih dini.
"Jangan lupa juga dengan penguatan layanan posyandu. Posyandu bisa menjadi media yang baik untuk menyampaikan edukasi kepada orang tua agar memahami langkah yang tepat untuk membangun keluarga yang kuat," kata Danang.
Menurut dia, sinergi antara TP-PKK Kabupaten Sleman hingga tingkat kalurahan perlu terus diperkuat agar informasi mengenai pencegahan dan pengendalian TB dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
Kasus Riil Masih di Bawah Estimasi
Secara terpisah, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Sleman, Khamidah Yuliati, menjelaskan angka 2.542 kasus merupakan jumlah kasus TB yang tercatat secara riil atau definitif di Kabupaten Sleman sepanjang 2025.
"Kalau kasus estimasi atau proyeksi yang tercantum dalam Rencana Strategis Dinas Kesehatan Sleman ada 2.589 kasus TB," kata Yuliati, Jumat (19/6/2026).
Artinya, jumlah kasus yang berhasil ditemukan dan tercatat masih sedikit lebih rendah dibandingkan proyeksi yang tercantum dalam dokumen perencanaan kesehatan daerah.
Meski demikian, tingginya angka kasus tersebut menunjukkan bahwa TB masih menjadi ancaman kesehatan yang memerlukan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan.
SIKAT TB Jadi Andalan Sleman
Untuk menekan angka penularan, Dinas Kesehatan Sleman menjalankan berbagai program inovatif. Salah satunya melalui program SIKAT TB (Sleman Sigap Kendali dan Atasi Tuberkulosis).
Program ini tidak hanya berfokus pada penemuan kasus melalui skrining aktif, tetapi juga memberikan pendampingan dan dukungan sosial kepada pasien agar dapat menyelesaikan pengobatan hingga tuntas.
Pengobatan TB yang tidak diselesaikan sesuai prosedur berisiko menyebabkan penularan berlanjut dan meningkatkan potensi munculnya kasus TB resistan obat yang lebih sulit ditangani. Karena itu, aspek pendampingan menjadi salah satu perhatian utama pemerintah daerah.
PKK Diminta Perkuat Edukasi Masyarakat
Sementara itu, Ketua TP-PKK Sleman Parmilah Harda Kiswaya menegaskan bahwa upaya pengendalian TB membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, perhatian terhadap TB tidak boleh berkurang karena dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pasien, tetapi juga keluarga dan lingkungan sekitar.
"Dibutuhkan kerja sama seluruh pihak untuk menyatukan komitmen dalam menekan stunting dan TB," ujar Parmilah.
Ia menambahkan pendampingan kepada keluarga pasien juga penting agar proses pengobatan berjalan optimal sekaligus mencegah risiko penularan kepada anggota keluarga lainnya.
Pemkab Sleman berharap keterlibatan TP-PKK hingga tingkat kalurahan dapat memperluas jangkauan edukasi mengenai gejala, pencegahan, serta pentingnya pengobatan TB secara tuntas. Dengan semakin banyak masyarakat yang memahami bahaya penyakit tersebut, angka kasus TB di Sleman diharapkan dapat terus ditekan dalam beberapa tahun mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Andreas Yuda Pramono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online
















































