Hari Buruh Bukan Sekadar Libur, Ini Sejarah Kelamnya

3 hours ago 3

Hari Buruh Bukan Sekadar Libur, Ini Sejarah Kelamnya Ilustrasi May Day atau Hari Buruh. / Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Hari Buruh 1 Mei 2026 tidak hanya dipenuhi aksi dan tuntutan pekerja di berbagai negara, tetapi juga menjadi momentum refleksi atas sejarah panjang yang melahirkan hak kerja modern. Di balik kebiasaan jam kerja delapan jam, tersimpan kisah perjuangan yang penuh konflik dan pengorbanan.

Peringatan tahun ini berlangsung di lebih dari 66 negara, termasuk Indonesia, dengan berbagai aksi yang menyoroti isu upah, jaminan sosial, hingga perlindungan pekerja. Namun, akar sejarah peringatan ini justru berasal dari peristiwa di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19.

Pada masa itu, pekerja industri menghadapi kondisi kerja yang berat dengan durasi hingga 14 hingga 20 jam per hari tanpa perlindungan memadai. Meskipun pemerintah sempat menetapkan batas kerja bagi pegawai negeri, kebijakan tersebut tidak berlaku bagi sektor swasta, sehingga memicu ketimpangan besar.

Tuntutan untuk membatasi jam kerja menjadi delapan jam kemudian berkembang menjadi gerakan nasional. Puncaknya terjadi pada 1 Mei 1886, ketika ratusan ribu pekerja melakukan mogok massal di berbagai kota, termasuk di Chicago yang menjadi pusat aksi terbesar.

Situasi memanas pada 3 Mei 1886 saat terjadi bentrokan antara pekerja dan aparat di depan pabrik McCormick Harvesting Machine Company. Insiden tersebut menewaskan satu orang dan memicu gelombang protes lanjutan.

Ketegangan mencapai puncaknya pada 4 Mei 1886 dalam peristiwa yang dikenal sebagai Haymarket Affair. Saat polisi berupaya membubarkan massa aksi di Haymarket Square, sebuah bom dilemparkan oleh pihak tak dikenal ke arah aparat. Polisi kemudian membalas dengan tembakan, menyebabkan korban jiwa dari kedua pihak.

Peristiwa tersebut berujung pada penangkapan dan pengadilan sejumlah aktivis buruh dalam proses yang kontroversial. Beberapa di antaranya bahkan dijatuhi hukuman mati meskipun tidak terbukti berada di lokasi kejadian. Eksekusi yang dilakukan kemudian menjadikan mereka simbol perjuangan buruh yang dikenal sebagai martir Haymarket.

Dampak tragedi ini meluas ke berbagai negara. Pada 1889, pertemuan organisasi buruh internasional di Paris menetapkan tanggal 1 Mei sebagai hari aksi global untuk memperjuangkan hak pekerja, termasuk jam kerja delapan jam.

Sejak saat itu, peringatan Hari Buruh menyebar ke berbagai belahan dunia dengan beragam bentuk. Di sejumlah negara, peringatan ini menjadi hari libur nasional, sementara di negara lain tetap dirayakan melalui aksi dan kegiatan solidaritas.

Pada 2026, peringatan Hari Buruh tidak hanya menjadi ajang menyuarakan tuntutan baru, tetapi juga mengingatkan bahwa hak yang dinikmati saat ini lahir dari perjuangan panjang. Isu seperti upah layak, jaminan sosial, dan perlindungan kerja masih menjadi tantangan yang terus dihadapi pekerja di berbagai negara.

Momentum ini sekaligus menegaskan bahwa perjuangan buruh belum selesai. Sejarah panjang yang melatarbelakangi Hari Buruh menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering kali lahir dari tekanan, solidaritas, dan pengorbanan yang tidak sedikit.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |