Gelombang Panas Hantam Paris, Menara Eiffel hingga Museum Tutup Awal

6 hours ago 2

Jumali

Jumali Minggu, 12 Juli 2026 18:37 WIB

Gelombang Panas Hantam Paris, Menara Eiffel hingga Museum Tutup Awal

Ilustrasi cuaca panas./ Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Gelombang panas yang melanda Prancis memaksa sejumlah ikon wisata di Paris menutup operasional lebih awal pada akhir pekan. Cuaca ekstrem juga membuat penyelenggara Tour de France memangkas salah satu etape untuk pertama kalinya dalam sejarah balapan tersebut.

Keputusan ini menjadi bukti betapa parahnya kondisi cuaca yang tengah melanda negara tersebut, dengan suhu yang konsisten berada di atas 35 derajat Celsius selama sepekan terakhir. Otoritas cuaca Prancis, Meteo-France, menetapkan sekitar seperempat wilayah daratan utama negara itu berada dalam status siaga merah atau tingkat peringatan tertinggi akibat suhu yang sangat tinggi, termasuk kawasan Paris.

Pengelola Menara Eiffel mengumumkan objek wisata setinggi 324 meter itu ditutup lebih awal pada Sabtu (11/7/2026) dan Minggu (12/7/2026), yakni pukul 16.00 waktu setempat. Biasanya, Menara Eiffel tetap beroperasi hingga lewat tengah malam selama musim liburan.

Selain Menara Eiffel, Museum Louvre dan Musée d'Orsay juga memberlakukan penutupan lebih awal sebagai langkah antisipasi menghadapi suhu ekstrem. Museum Louvre menutup operasional pada pukul 16.00 mulai Jumat (10/7/2026) hingga Senin (13/7/2026). Sementara itu, Musée d'Orsay menutup layanan pada pukul 17.00 mulai Sabtu (11/7/2026) hingga Rabu (15/7/2026). Langkah ini diambil untuk melindungi pengunjung dan staf dari risiko kesehatan akibat paparan suhu tinggi.

Dampak cuaca panas juga dirasakan ajang balap sepeda Tour de France. Penyelenggara memangkas etape sepanjang 185,5 kilometer pada Minggu (12/7/2026) sekitar 30 kilometer dengan menghilangkan salah satu lintasan berbukit demi mengurangi risiko bagi para pembalap. Keputusan tersebut menjadi yang pertama dalam sejarah Tour de France.

Pembalap asal Belgia, Tim Merlier, menyambut baik keputusan tersebut. Menurutnya, para peserta telah menjalani balapan selama sepekan dalam suhu yang konsisten berada di atas 35 derajat Celsius sehingga kebutuhan air minum dan es menjadi sangat tinggi. "Ini keputusan yang tepat demi keselamatan kami," ujarnya, menggambarkan betapa beratnya kondisi yang dihadapi para pembalap di tengah terik matahari.

Sebanyak 24 departemen di Prancis yang dihuni sekitar 22,2 juta penduduk berada dalam status siaga merah pada Sabtu (11/7/2026). Selain itu, 59 departemen lainnya berstatus siaga oranye. Status siaga merah berarti kondisi cuaca sangat berbahaya dan masyarakat diimbau untuk menghindari aktivitas di luar ruangan, terutama pada siang hari.

Pemerintah daerah di berbagai wilayah juga membatalkan pertunjukan kembang api peringatan Hari Bastille karena meningkatnya risiko kebakaran hutan akibat kondisi yang sangat kering. Keputusan ini diambil untuk mencegah bencana yang lebih besar di tengah suhu ekstrem yang membuat vegetasi mudah terbakar.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Ia mengingatkan sebagian besar kebakaran dipicu oleh aktivitas manusia sehingga kelalaian sekecil apa pun dapat membahayakan keselamatan masyarakat dan merusak lingkungan. Macron juga menekankan pentingnya solidaritas antarwarga, terutama dalam membantu kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak yang paling berisiko terkena dampak gelombang panas.

Prancis kini menghadapi gelombang panas ketiga sejak Mei 2026. Sebelumnya, gelombang panas pada Juni memecahkan sejumlah rekor suhu dan menyebabkan lebih dari 2.000 kematian berlebih. Sementara itu, sekitar 300 kematian berlebih juga tercatat selama gelombang panas pada akhir Mei. Data ini menunjukkan bahwa gelombang panas tidak hanya mengganggu aktivitas tetapi juga mengancam nyawa.

Menurut Meteo-France, suhu tinggi diperkirakan masih akan berlangsung hingga peringatan Hari Bastille pada 14 Juli. Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca terbaru dan mengikuti arahan pemerintah setempat. Bagi wisatawan yang berencana mengunjungi Paris dalam waktu dekat, disarankan untuk mengecek jadwal operasional tempat wisata terlebih dahulu karena perubahan jam buka dapat terjadi sewaktu-waktu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |