90 Persen Pasien Kanker Putus Obat, WHO Soroti Ketimpangan Global

3 hours ago 3

Jumali

Jumali Minggu, 12 Juli 2026 22:27 WIB


Harianjogja.com, JOGJA—Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan satu dari lima orang akan mengidap kanker. Penyakit ini akan menyentuh kehidupan sebanyak 92 persen orang, baik melalui diagnosis diri sendiri maupun diagnosis anggota keluarga dekat.

"Selama bertahun-tahun, kisah yang diceritakan tentang kanker selalu mengenai kemajuan ilmiah, teknologi baru, pengobatan baru, dan harapan baru. Kisah itu memang benar dan layak untuk diceritakan, tetapi itu bukanlah keseluruhan cerita," ungkap Ketua tim pengendalian kanker di WHO, Dr. Andre Ilbawi, dikutip dari The Guardian, Minggu (12/7/2026).

Laporan status global WHO tentang kanker tahun ini menemukan adanya ketimpangan yang persisten dan semakin melebar dalam akses terhadap pencegahan, diagnosis, pengobatan, serta perawatan.

Diperkirakan ada 20,6 juta kasus baru dan 10 juta kematian akibat kanker setiap tahunnya. Angka-angka ini diproyeksikan akan melonjak hingga hampir 35 juta kasus pada tahun 2050.

Di negara-negara yang lebih kaya, 85 persen dari mereka yang didiagnosis menderita kanker payudara atau kanker anak akan bertahan hidup setidaknya selama lima tahun. Namun, angka tersebut merosot hingga kurang dari 30 persen di negara-negara yang lebih miskin.

Laporan tersebut menemukan bahwa di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah, hanya antara 9 persen dan 54 persen obat kanker prioritas utama (dari daftar 20 besar versi WHO) yang tersedia. Angka ini sangat timpang jika dibandingkan dengan negara-negara berpenghasilan tinggi yang ketersediaannya mencapai antara 68 persen dan 94 persen.

Bahkan, di 23 negara, sama sekali tidak ada fasilitas radiasi. Tingkat diagnosis di wilayah Afrika sub-Sahara tercatat lebih rendah daripada wilayah yang lebih kaya, tetapi angka kematian akibat kanker di sana justru sangat tinggi secara tidak proporsional.

Dua pertiga negara tidak memasukkan penyakit kanker ke dalam paket jaminan kesehatan. Biaya yang teramat tinggi membuat hingga 90 persen pasien di beberapa wilayah terpaksa menghentikan pengobatan.

Survei global terhadap para pasien dan keluarga menemukan kesulitan finansial yang meluas, tantangan kesehatan mental, serta tekanan berat yang dialami oleh para pengasuh (caregivers).

Abigail Simon-Hart, penyintas kanker payudara sekaligus advokat pasien dari Nigeria, mengatakan bahwa ia telah melihat tantangan itu.

"Para orang tua harus memilih antara membayar pengobatan atau mempertahankan anak mereka tetap sekolah, serta anak-anak yang terpaksa putus sekolah karena setiap sumber daya yang tersedia dihabiskan untuk perawatan kanker," ujar dia.

Simon-Hart menambahkan bahwa di beberapa tempat, stigma yang berkembang di masyarakat seputar diagnosis kanker bisa berakibat fatal. Dalam menjalankan pekerjaannya, ia mengaku pernah bertemu dengan para wanita yang memilih kehilangan nyawa daripada harus kehilangan payudara akibat operasi mastektomi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa selain akses medis, faktor sosial dan budaya juga menjadi penghalang besar dalam penanganan kanker di berbagai belahan dunia.

Di sisi lain, laporan ini juga menyoroti sejumlah keberhasilan, termasuk jalur yang kredibel menuju eliminasi kanker serviks serta tren penurunan konsumsi tembakau. Sebagian besar negara saat ini juga telah memiliki rencana aksi nasional untuk penanganan kanker.

Dr. Isabelle Soerjomataram, Wakil Kepala Unit Pengawasan di Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) yang ikut menyusun laporan ini, menambahkan kabar baik lainnya.

"Empat dari sepuluh kasus kanker baru sebenarnya dipicu oleh faktor risiko yang sudah tahu cara kita atasi, seperti kebiasaan merokok, infeksi, konsumsi alkohol, dan berat badan berlebih," ungkap dia.

Ini berarti jutaan kasus kanker dapat dicegah dengan perubahan gaya hidup dan kebijakan kesehatan masyarakat yang tepat. WHO dan IARC mendorong pemerintah di seluruh dunia untuk meningkatkan akses layanan kesehatan, memperkuat sistem deteksi dini, dan mengatasi ketimpangan yang ada.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |