Microsoft PHK 4.800 Karyawan, Divisi Xbox Babak Belur

2 hours ago 2

Jumali

Jumali Minggu, 12 Juli 2026 23:47 WIB

Harianjogja.com, JOGJA—Raksasa teknologi Microsoft kembali melakukan langkah efisiensi massal dengan memangkas sekitar 4.800 karyawan atau setara 2,1 persen dari total tenaga kerjanya.

Unit bisnis gim Xbox menjadi divisi yang paling babak belur dalam gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) ini, seiring langkah perusahaan memindahkan fokus penuh ke pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Wakil Presiden Eksekutif Microsoft, Amy Coleman, menegaskan bahwa keputusan pahit ini diambil agar perusahaan dapat bergerak lincah beradaptasi dengan perubahan industri yang berlangsung sangat cepat.

"Perusahaan tidak dapat memilih apakah industrinya berubah, tetapi dapat memilih apakah akan berubah bersama industri tersebut," tulis Coleman dalam memo internal perusahaan, dikutip dari BBC, Sabtu (11/7/2026).

Coleman mengklarifikasi bahwa posisi-posisi yang dihapus tersebut bukan langsung digantikan oleh teknologi AI. Namun, ia tidak menampik bahwa kehadiran kecerdasan buatan telah mengubah lanskap dan cara kerja di internal korporasi.

Divisi Xbox menjadi sektor yang menanggung hantaman restrukturisasi paling berat. Lebih dari 1.600 posisi dipangkas secara radikal. Tak hanya itu, empat studio pengembang gim di bawah naungan Microsoft, yakni Compulsion Games, Double Fine Productions, Ninja Theory, dan Undead Labs, resmi didepak dan dipisahkan dari organisasi Xbox sebagai bagian dari manuver strategi bisnis yang baru.

Keputusan ini mengejutkan banyak pihak, karena beberapa studio seperti Ninja Theory dan Double Fine merupakan pengembang yang cukup dihormati di industri gim dengan portofolio berkualitas tinggi.

Chief Executive Officer (CEO) Xbox, Asha Sharma, menyebut langkah radikal ini sebagai awal dari restrukturisasi paling signifikan sepanjang sejarah berdirinya Xbox.

"Perubahan ini adalah tentang masa depan Xbox yang lebih besar, bukan yang lebih kecil," ungkap Sharma melalui pernyataan resminya di platform X.

Ia menambahkan, penyesuaian besar-besaran pada portofolio konten, platform, hingga operasional wajib dilakukan agar Xbox tetap kompetitif di pasar gim global. Langkah perampingan ini senada dengan agresivitas Microsoft yang terus menyuntikkan dana selangit untuk pengembangan AI dan infrastruktur pusat data dalam beberapa tahun terakhir.

Sebelum gelombang PHK ini pecah, Microsoft sudah mengumumkan rencana memperbesar belanja AI bernilai miliaran dolar AS yang diikuti dengan kebijakan pengetatan anggaran di berbagai lini bisnis. Hal ini menunjukkan bahwa AI bukan lagi sekadar proyek sampingan, melainkan prioritas utama yang mengubah seluruh struktur perusahaan.

Analis teknologi, Paolo Pescatore, menilai restrukturisasi ini menunjukkan perubahan arah kemudi strategi Microsoft, khususnya di sektor hiburan digital. Menurutnya, tantangan Xbox saat ini bukan lagi sekadar memotong biaya operasional, melainkan mendefinisikan ulang posisi mereka di tengah pasar yang kian bergeser ke layanan komputasi awan (cloud), PC, konsol, dan model langganan bulanan.

Sementara itu, analis Ampere Analysis, Piers Harding-Rolls, berpendapat bahwa restrukturisasi ini mencerminkan strategi baru Xbox untuk lebih berfokus pada waralaba (franchise) gim utama dengan basis pengguna yang masif.

Sebelumnya, Microsoft sangat agresif mengakuisisi banyak studio untuk memperkuat layanan Game Pass. Namun kini, manajemen menilai sebagian studio kecil akan memiliki prospek bisnis yang jauh lebih sehat jika beroperasi secara independen.

Sebagai bagian dari kebijakan baru ini, Double Fine dan Compulsion Games akan kembali menjadi studio independen dengan tetap memegang hak atas kekayaan intelektual (IP) mereka. Di sisi lain, studio raksasa seperti Mojang (pengembang Minecraft) dan King (pengembang Candy Crush) kini akan melapor langsung di bawah komando pimpinan tertinggi Xbox.

Gelombang PHK terbaru ini memperpanjang catatan efisiensi ekstrem Microsoft. Pada tahun 2024 lalu, perusahaan pimpinan Satya Nadella ini juga sempat memangkas lebih dari 2.000 karyawan di divisi Xbox serta menutup empat studio gim tak lama setelah merampungkan akuisisi jumbo terhadap Activision Blizzard.

Keputusan ini menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan divisi gaming Microsoft di tengah persaingan dengan Sony dan Nintendo. Namun, Sharma optimistis bahwa langkah ini akan membuat Xbox lebih gesit dan mampu bersaing di era di mana cloud gaming dan AI mulai memainkan peran yang semakin penting.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |