Jumali Minggu, 07 Juni 2026 10:37 WIB

Tampilan Ferrari Luce EV. (La Gazzetta Ferrari)
Harianjogja.com, JOGJA—Ferrari menerapkan strategi pengamanan informasi yang sangat ketat untuk menjaga kerahasiaan mobil listrik pertamanya, Ferrari Luce. Langkah tersebut terbukti efektif menghentikan kebocoran informasi sebelum peluncuran resmi, sesuatu yang semakin sulit dilakukan di era media sosial dan perangkat digital saat ini.
Menurut informasi yang beredar, seluruh pihak yang mendapat akses ke mobil listrik tersebut diwajibkan menandatangani perjanjian kerahasiaan atau non-disclosure agreement (NDA) dengan ancaman denda mencapai US$700.000 atau sekitar Rp11 miliar jika terjadi pelanggaran.
Kebijakan tersebut diungkapkan oleh YouTuber otomotif ternama, Tim Burton atau yang lebih dikenal sebagai Shmee150. Ia menjadi salah satu tamu yang diundang untuk melihat langsung Ferrari Luce sebelum peluncuran resmi.
Menurut Burton, atmosfer acara peluncuran terasa berbeda dibandingkan agenda peluncuran Ferrari pada umumnya. Perusahaan menerapkan kontrol ketat terhadap seluruh tamu yang hadir untuk memastikan tidak ada informasi yang keluar sebelum waktunya.
Setibanya di lokasi, para jurnalis dan tamu undangan diwajibkan menyegel seluruh perangkat pribadi mereka. Telepon genggam, laptop, kamera pribadi, hingga alat perekam tidak diperkenankan digunakan selama kegiatan berlangsung.
Sebagai gantinya, Ferrari menyiapkan tim fotografer dan videografer internal untuk mendokumentasikan acara. Materi foto dan video kemudian dibagikan kepada media sesaat sebelum masa embargo publikasi berakhir.
Langkah tersebut membuat para peserta praktis tidak memiliki kesempatan untuk merekam atau menyebarkan informasi secara mandiri. Seluruh alur distribusi informasi berada di bawah kendali penuh Ferrari.
Tidak hanya membatasi penggunaan perangkat elektronik, Ferrari juga mengatur durasi interaksi dengan kendaraan secara ketat. Setiap tamu hanya diberikan waktu sekitar 30 menit untuk mengamati dan mempelajari mobil listrik tersebut.
Selama sesi berlangsung, para peserta berada dalam pengawasan tim perusahaan. Pendekatan ini menunjukkan keinginan Ferrari untuk memastikan seluruh informasi yang beredar ke publik berasal dari sumber resmi dan sesuai dengan strategi komunikasi perusahaan.
Kebijakan ketat tersebut terbukti berhasil. Hingga mendekati hari peluncuran, hampir tidak ada informasi maupun gambar Ferrari Luce yang bocor ke publik. Situasi ini tergolong langka di industri otomotif modern yang kerap diwarnai foto mata-mata dan kebocoran spesifikasi sebelum peluncuran.
Dengan berhasil menjaga kerahasiaan produk hingga menit-menit terakhir, Ferrari mampu mengendalikan narasi saat mobil listrik pertamanya diperkenalkan kepada dunia. Publik baru dapat melihat desain dan detail kendaraan setelah perusahaan siap menyampaikan seluruh informasi secara resmi.
Bagi industri otomotif, strategi Ferrari menjadi contoh bagaimana sebuah merek premium mengelola peluncuran produk di era digital. Langkah tersebut juga menunjukkan betapa berharganya informasi mengenai kendaraan baru, terutama ketika menyangkut model yang memiliki nilai strategis tinggi seperti Ferrari Luce.
Keberhasilan menjaga kerahasiaan Ferrari Luce membuktikan bahwa kombinasi aturan ketat, pengawasan menyeluruh, dan ancaman sanksi besar masih mampu membendung kebocoran informasi di tengah derasnya arus komunikasi digital saat ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































