Ekonom Jerman Joachim Klement Prediksi Belanda Juara Piala Dunia 2026

2 hours ago 3

Jumali

Jumali Senin, 01 Juni 2026 11:27 WIB

Ekonom Jerman Joachim Klement Prediksi Belanda Juara Piala Dunia 2026

Trofi Piala Dunia - ist/FIFA


Harianjogja.com, JOGJA—Geliat turnamen sepak bola terakbar sejagat mulai memanas lewat ramalan ilmiah yang mengguncang kalkulasi di atas kertas. Piala Dunia 2026 bahkan belum dimulai, tetapi sebuah prediksi sudah memantik perdebatan besar di kalangan pencinta sepak bola.

Bukan datang dari mantan pemain, pelatih ternama, atau superkomputer FIFA, melainkan dari seorang ekonom asal Jerman bernama Joachim Klement. Nama Klement mendadak kembali jadi sorotan karena model statistik buatannya sukses menebak tiga juara Piala Dunia terakhir secara beruntun, yalm]]: Jerman pada 2014, Prancis pada 2018, dan Argentina pada 2022. Kini, pria yang bekerja sebagai ahli strategi investasi di Panmure Liberum itu memprediksi Belanda bakal keluar sebagai kampiun Piala Dunia 2026.

Prediksi tersebut tentu mengejutkan karena Belanda bukan favorit utama di bursa taruhan. Tim Oranje juga menyandang label "raksasa tanpa mahkota" karena belum pernah memenangkan Piala Dunia, meski sudah tiga kali mencapai final.

Dalam simulasi ilmiah yang dirancang oleh Klement, tim asuhan Ronald Koeman diprediksi harus melewati jalur fase gugur yang sangat terjal untuk mengangkat trofi:

Fase Gugur Piala Dunia 2026Lawan Tangguh BelandaHasil Akhir & Skenario Taktis
Perempat FinalPrancisMengeliminasi Les Bleus yang secara kualitas skuad sebenarnya lebih diunggulkan.
SemifinalSpanyolMenyingkirkan armada Tim Matador demi merebut tiket menuju partai puncak.
Final (19 Juli, New York)PortugalMengalahkan tim Selecao das Quinas milik Cristiano Ronaldo untuk menyegel gelar juara.


Formula Rahasia di Balik Model Statistik Klement
Awalnya, banyak pihak menganggap model statistik Klement hanya kebetulan semata. Namun, seusai tiga edisi Piala Dunia berturut-turut ditebak dengan tepat sasaran, hasil simulasinya mulai dipandang secara serius oleh publik luas. Klement sendiri justru mengaku tidak pernah berniat menjadi "peramal sepak bola". Ia mengatakan proyek tersebut awalnya dibuat sebagai eksperimen untuk menunjukkan bahwa banyak ekonom sebenarnya terlalu percaya diri dalam memprediksi sesuatu yang sulit diukur.

“Ini dimulai sebagai latihan untuk menunjukkan kesombongan para ekonom yang merasa bisa memprediksi hal-hal yang sebenarnya tidak mereka pahami,” katanya kepada BBC Sport. “Namun ketika Anda terus benar, orang mulai menganggap model itu tidak terkalahkan.”

Untuk menyusun prediksi sepak bola ini, Klement menggunakan kombinasi variabel non-teknis dan data olahraga berikut:

- Indikator Sosio-Ekonomi: Mempertimbangkan jumlah populasi penduduk suatu negara serta tingkat kekuatan ekonomi nasional.

- Faktor Geografis: Memasukkan unsur kondisi iklim cuaca dari negara peserta yang bertanding.

- Indikator Olahraga: Menggunakan posisi peringkat resmi dalam ranking FIFA sebagai acuan dasar performa tim.

Faktor Keberuntungan 50 Persen dan Mimpi Terakhir Cristiano Ronaldo
Meskipun model datanya sangat rinci, Klement menegaskan bahwa data angka hanya menjelaskan sebagian kecil dari hasil akhir pertandingan di lapangan hijau. Separuh bagian lainnya ditentukan oleh faktor keberuntungan, mulai dari performa aktual di hari pertandingan, keputusan wasit, hingga arah bola yang membentur tiang gawang.

“Saya sendiri cukup terkejut ketika model saya menunjukkan Belanda sebagai juara,” ujar Klement kepada SBS Dutch. “Terutama karena jalur mereka menuju final sangat sulit. Prancis secara kualitas lebih diunggulkan, tetapi dalam sepak bola keberuntungan memainkan peran besar. Sekitar 50 persen hasil pertandingan ditentukan oleh faktor keberuntungan.”

Di sisi lain, hal yang membuat simulasi ini semakin ramai diperbincangkan adalah kemungkinan Cristiano Ronaldo mencapai final Piala Dunia pertamanya di usia 41 tahun bersama Portugal. Skenario kalah dari Belanda di partai puncak tersebut berpotensi menjadi "kisah terakhir" bagi Ronaldo di panggung terbesar sepak bola dunia. Selain itu, simulasi ini juga memunculkan kejutan lain, seperti Jepang yang diprediksi menyingkirkan Brasil di fase gugur serta Inggris yang kembali gagal seusai dihentikan Portugal di semifinal.

Melawan Kutukan Sejarah Panjang Oranje
Prediksi Belanda menjadi juara terasa sangat menarik sekaligus kontroversial karena sejarah panjang mereka di Piala Dunia selalu berakhir tragis. Generasi Johan Cruyff gagal juara setelah kalah dari Jerman Barat pada final 1974. Empat tahun kemudian, Oranje kembali tumbang di final melawan Argentina, dan luka berikutnya datang pada 2010 ketika gol Andres Iniesta membawa Spanyol menang di babak extra time.

Kini, generasi baru Belanda dipimpin oleh Virgil van Dijk dan dihuni sejumlah pemain muda berbakat. Secara realita sepak bola modern, mereka tetap menghadapi tantangan besar terkait kedalaman skuad, konsistensi permainan, dan mental di laga-laga krusial. Sepak bola dinilai terlalu kompleks untuk dipastikan hanya lewat angka dan algoritma, namun ketika seseorang berhasil menebak tiga juara Piala Dunia berturut-turut, dunia tentu akan sulit mengabaikan prediksi keempatnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |