Denteksi UGM, AI Cek Gigi Lewat Foto dengan Akurasi 90 Persen

9 hours ago 6

Denteksi UGM, AI Cek Gigi Lewat Foto dengan Akurasi 90 Persen Tim Dosen UGM kembangkan Denteksi, aplikasi skrining gigi berbasis AI. - Istimewa // UGM

Harianjogja.com, SLEMAN—Tim dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan inovasi teknologi kesehatan gigi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bernama Denteksi. Platform ini memungkinkan deteksi kondisi gigi dan karies hanya melalui foto dari ponsel, dengan tingkat akurasi mencapai hingga 90 persen untuk skrining awal.

Pengembang Denteksi, Dosen Prodi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak UGM Muhammad Fakhrurrifqi, mengungkapkan inovasi ini mulai dirintis sejak 2021 saat pandemi Covid-19. Kondisi pembatasan sosial kala itu menjadi tantangan besar dalam layanan kesehatan gigi karena terbatasnya interaksi langsung antara dokter dan pasien.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Rifqi menggandeng tenaga medis dari Puskesmas Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yakni drg. Dewi Arifahni dan drg. Dhinintya Hyta Narissi. Kolaborasi ini melahirkan sistem skrining berbasis teknologi yang awalnya mengadopsi konsep Virtual Reality (VR) untuk memfasilitasi konsultasi jarak jauh melalui fitur percakapan daring.

"Kalau dulu periksa gigi itu kan harus ketemu dokter gigi, diperiksa satu per satu. Nah kalau di Denteksi, cukup foto bagian depan, atas, sama bawah, langsung kelihatan," terang Rifqi pada Selasa (28/4/2026).

Seiring pengembangan, sistem Denteksi terus disempurnakan untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi. Salah satu pembaruan dilakukan dengan menyederhanakan kebutuhan foto dari lima sisi menjadi tiga sisi, sekaligus memberikan panduan standar pengambilan gambar bagi pengguna.

Tak hanya itu, tim juga menghadirkan fitur Odontogram yang berfungsi menampilkan rekam medis gigi lengkap beserta rekomendasi tindakan. Fitur ini resmi diperkenalkan pada awal 2026 dan menjadi salah satu keunggulan utama platform Denteksi.

"Versi sekarang, kita menambahkan beberapa algoritma untuk menghadirkan rekam medis, Odontogram. Posisi nomor (gigi) berapa, sakit apa, udah langsung dibikin hasil laporannya dan akurasinya jauh lebih tinggi," ujarnya.

Rifqi menyebutkan, tingkat akurasi sistem dalam mendeteksi kondisi gigi sehat mencapai sekitar 90 persen. Sementara itu, untuk skrining karies, tingkat akurasinya telah melampaui 80 persen, sehingga cukup membantu sebagai alat deteksi awal.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa teknologi AI seperti Denteksi belum dapat menggantikan peran dokter gigi sepenuhnya. Hasil skrining tetap memerlukan validasi dari tenaga medis profesional untuk menentukan diagnosis dan tindakan lanjutan.

"Setiap saya ketemu pakar, mereka sudah menerima dan selalu mandukung. Tetapi, skrining kan gunanya untuk mengetahui level awal saja. Kalau ada perlu tindakan lebih lanjut silahkan ketemu dokter gigi. Untuk penegakan diagnosis masih tetap butuh expert," tukasnya.

Sebagai inovator, Rifqi membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak guna mengembangkan Denteksi lebih lanjut. Dukungan dari kalangan pakar dinilai menjadi modal penting dalam mengoptimalkan peran teknologi ini sebagai asisten AI di bidang kesehatan gigi, sekaligus membantu mengatasi keterbatasan jumlah dokter gigi di Indonesia yang masih menjadi tantangan hingga saat ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |