BEDAH BUKU DPAD DIY: UMKM Didorong Perluas Pasar lewat Media Sosial

4 hours ago 3

 UMKM Didorong Perluas Pasar lewat  Media Sosial

Suasana bedah buku berjudul Pemasaran UMKM Melalui Media Sosial di Balai Padukuhan Bangunsari, Candirejo, Semin, Jumat (12/6/2026). Harian Jogja/David Kurniawan

GUNUNGKIDUL—Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Gunungkidul didorong memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan omzet usaha.

Pesan tersebut mengemuka dalam bedah buku Pemasaran UMKM melalui Media Sosial yang digelar di Balai Padukuhan Bangunsari, Candirejo, Semin, Kamis (12/6/2026). Kegiatan itu tidak hanya bertujuan meningkatkan literasi masyarakat, tetapi juga memberikan wawasan praktis mengenai pengembangan usaha berbasis teknologi.

Wakil Ketua DPRD DIY, Imam Taufik, mengatakan buku yang dibahas memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat, khususnya pelaku usaha yang ingin meningkatkan kesejahteraan melalui pengembangan bisnis.

“Program bedah buku ini penting karena tidak hanya untuk peningkatan literasi, tapi juga menambah wawasan dan pengetahuan para pesertanya,” kata Imam.

Imam menjelaskan pemasaran kini tidak lagi bergantung pada pembeli yang datang secara langsung. Perkembangan teknologi telah membuka peluang promosi yang jauh lebih luas melalui berbagai platform media sosial.

Dalam kesempatan itu, Imam juga menjelaskan klasifikasi UMKM berdasarkan omzet usaha. Usaha mikro memiliki pendapatan hingga Rp2 miliar, usaha kecil berada pada kisaran di atas Rp2 miliar hingga Rp15 miliar, sedangkan usaha menengah memiliki omzet di atas Rp15 miliar sampai Rp50 miliar.

“Dengan pemasaran secara online, usahanya bisa berkembang dan omzet yang dimiliki dapat terus meningkat,” katanya.

Penulis buku Pemasaran UMKM melalui Media Sosial, Sutardi Al Fatih, mengatakan kualitas produk yang baik tidak akan optimal apabila tidak dibarengi strategi pemasaran yang efektif.

“Sebenarnya produk yang dihasilkan bagus, tapi kalau tidak dipasarkan dengan baik, maka peminatnya tidak banyak. Makanya, biar bisa dikenal harus dipasarkan lewat online,” katanya.

Menurut dia, pemasaran dapat dilakukan melalui berbagai platform seperti Facebook, Instagram, TikTok, maupun media sosial lainnya. Bahkan, pengelolaan pemasaran digital dapat dilakukan secara kolaboratif dalam keluarga.

“Pembuatannya juga bisa saling berkolaborasi antara suami istri sehingga dalam bekerja sama untuk mengembangkan usaha dimiliki,” katanya.

Salah satu peserta bedah buku, Iswahyudi, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru terkait pemasaran digital yang bisa diterapkan dalam pengembangan usaha.

“Bukunya bagus dan bisa menambah wawasan berkaitan dengan jual beli secara online sehingga akan saya pelajari secara mendalam,” katanya.

Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Hari Setyawan, mengatakan kegiatan bedah buku terlaksana melalui kerja sama dengan DPRD DIY sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya literasi di masyarakat.

“Dengan membaca dapat memberikan keuntungan karena melatih otak untuk menjaga daya ingat meski sudah tua. Makanya program literasi di masyarakat terus digalakkan lewat bedah buku,” katanya. (Advertorial)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |