24 Saksi Diperiksa, Fakta Baru Kecelakaan Kereta Maut Bekasi

5 hours ago 3

24 Saksi Diperiksa, Fakta Baru Kecelakaan Kereta Maut Bekasi Sejumlah petugas KAI mengevakuasi KA Pandalungan yang anjlok di Emplasemen Stasiun Tanggulangin, Sidoarjo, Minggu (14/1/2024). ANTARA - HO/Instagram @jaki_jetbus

Harianjogja.com, JAKARTA — Penanganan kasus kecelakaan maut di perlintasan sebidang Ampera, Bekasi Timur, terus bergulir. Polda Metro Jaya melalui jajaran penyidik telah memeriksa total 24 saksi guna mengungkap penyebab pasti insiden yang menewaskan belasan orang tersebut.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Budi Hermanto, menyampaikan bahwa pemeriksaan masih berlangsung intensif. Dari jumlah tersebut, tujuh orang saat ini masih menjalani pemeriksaan lanjutan di pusat kendali operasional kereta wilayah Manggarai.

Ketujuh pihak yang dimintai keterangan meliputi sejumlah personel kunci dalam operasional perjalanan kereta, mulai dari Kepala Pusat Pengendalian, Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA), petugas sinyal, hingga masinis dari dua rangkaian kereta yang terlibat, yakni KRL Commuter dan KA Argo Bromo Anggrek.

“Proses permintaan keterangan masih berjalan. Kami pastikan penanganan kasus ini dilakukan secara profesional, prosedural, dan akuntabel,” ujar Budi, Kamis (30/4/2026).

Kronologi Kecelakaan Beruntun

Peristiwa tragis ini terjadi pada Senin malam (27/4/2026) dan melibatkan lebih dari satu rangkaian kereta. Insiden bermula ketika sebuah taksi mengalami mogok di tengah perlintasan sebidang akibat gangguan kelistrikan. Dalam kondisi tersebut, kendaraan tidak sempat dievakuasi hingga akhirnya tertabrak KRL yang melintas.

Benturan pertama memaksa KRL tujuan Cikarang melakukan berhenti darurat di sekitar Stasiun Bekasi Timur. Namun situasi semakin fatal ketika dalam posisi berhenti, rangkaian tersebut justru tertabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek yang melaju di jalur yang sama.

Tabrakan beruntun ini menyebabkan kerusakan parah pada rangkaian kereta dan memicu korban jiwa dalam jumlah besar.

Korban dan Dampak

Berdasarkan data terbaru, kecelakaan ini mengakibatkan sedikitnya 16 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka dengan berbagai tingkat keparahan. Sebagian korban telah mendapatkan perawatan intensif di sejumlah rumah sakit di wilayah Bekasi dan Jakarta.

Selain korban jiwa, insiden ini juga berdampak pada terganggunya operasional perjalanan kereta api di lintas padat Jakarta–Bekasi. Sejumlah perjalanan sempat mengalami keterlambatan dan pengalihan jalur selama proses evakuasi dan investigasi berlangsung.

Fokus Penyelidikan

Penyidik kini mendalami berbagai aspek, mulai dari sistem pengamanan perlintasan sebidang, prosedur operasional standar, hingga kemungkinan adanya kelalaian manusia (human error). Peran petugas pengatur perjalanan dan sistem sinyal menjadi salah satu fokus utama dalam investigasi.

Selain itu, evaluasi terhadap keselamatan perlintasan sebidang kembali menjadi sorotan. Pemerintah dan operator transportasi didorong untuk mempercepat modernisasi sistem pengamanan guna mencegah kejadian serupa terulang.

Kasus ini menjadi pengingat pentingnya integrasi sistem keselamatan transportasi, terutama di wilayah dengan tingkat lalu lintas kereta yang tinggi. Hingga kini, penyelidikan masih terus berlangsung untuk memastikan penyebab pasti serta pihak yang bertanggung jawab dalam tragedi tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |