
Petugas BPBD Gunungkidul saat memasukan bantuan air ke dalam bak penampungan di Padukuhan Kemesu, Semugih, Rongkop. Istimewa-BPBD GK
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Musim kemarau yang diprediksi berlangsung lebih panjang pada tahun ini berpotensi menyebabkan 114.528 warga di Kabupaten Gunungkidul mengalami kesulitan air bersih. BPBD Gunungkidul terus melakukan pemetaan wilayah terdampak sekaligus menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah lokasi yang mulai mengalami kekeringan.
Potensi terdampak kekeringan tersebut tersebar di 54 kalurahan yang berada di 15 kapanewon di Kabupaten Gunungkidul. Sementara itu, tiga kapanewon, yakni Wonosari, Ngawen, dan Playen, tidak masuk dalam rencana penyaluran bantuan air bersih pada tahun ini.
Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan, Rehabilitasi, dan Rekonstruksi BPBD Gunungkidul, Nanang Irawanto, mengatakan pihaknya telah menyusun rencana pelaksanaan droping air bersih di wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan.
“Sudah kami petakan mengenai rencana pelaksanaan droping di 15 kapanewon di tahun ini. Untuk yang tidak masuk rencana mendapatkan bantuan adalah Kapanewon Wonosari, Ngawen, dan Playen,” kata Nanang, Minggu (19/7/2026).
Berdasarkan data BPBD Gunungkidul, potensi terdampak kekeringan terbesar berada di wilayah selatan. Di Kapanewon Tepus terdapat 29.003 jiwa yang berpotensi mengalami kesulitan air bersih. Selanjutnya, Kapanewon Tanjungsari mencapai 19.750 jiwa, Kapanewon Girisubo sebanyak 19.699 jiwa, Kapanewon Panggang sebanyak 16.702 jiwa, dan Kapanewon Paliyan mencapai 10.522 jiwa.
Meski demikian, Nanang menjelaskan rencana penyaluran bantuan air bersih dapat berubah sewaktu-waktu menyesuaikan kondisi di lapangan. BPBD Gunungkidul telah mengalokasikan sebanyak 1.150 tangki air untuk mendukung pelaksanaan droping selama musim kemarau berlangsung.
Menurutnya, penyaluran bantuan air bersih tidak hanya dilakukan BPBD Gunungkidul. Sebanyak 12 kapanewon di Kabupaten Gunungkidul juga memiliki alokasi anggaran mandiri untuk melaksanakan droping air kepada masyarakat yang membutuhkan.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, mengatakan penyaluran bantuan air bersih telah dimulai sejak beberapa waktu lalu. Pada tahap awal, bantuan disalurkan kepada warga di Padukuhan Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop.
Seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat, wilayah penerima bantuan terus bertambah hingga pertengahan Juli 2026. Penyaluran bantuan juga telah dilakukan di Padukuhan Kamal, Kalurahan Wunung, Kapanewon Wonosari, Padukuhan Guyangan, Kalurahan Giripanggung, Kapanewon Tepus, serta Padukuhan Jarah, Kalurahan Banjarejo, Kapanewon Tanjungsari.
“Sudah ada 38 tangki air disalurkan ke warga yang membutuhkan. Jumlah ini masih akan terus bertambah,” ujar Purwono.
Ia menambahkan penyaluran bantuan juga dilakukan oleh kapanewon yang telah mengalokasikan anggaran khusus untuk penanganan kekeringan. Hingga pertengahan Juli, tiga kapanewon yang telah melaksanakan droping air bersih melalui anggaran mandiri ialah Kapanewon Tepus, Rongkop, dan Tanjungsari.
“Tahun ini, kemaraunya diprediksi lebih panjang sehingga dampak kekeringan diperkirakan masih akan meluas,” katanya.
Sementara itu, Panewu Purwosari, Subiyantoro, mengatakan pihaknya mengalokasikan anggaran sebesar Rp79,6 juta untuk pelaksanaan droping air bersih. Penyaluran bantuan telah dimulai sejak Rabu (8/7/2026) dan menyasar warga di Kalurahan Giricahyo dan Kalurahan Giripurwo.
Menurutnya, sebanyak 60 tangki air telah disiapkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak kekeringan. Penyaluran dilakukan secara bertahap dengan rata-rata enam tangki per hari. Apabila terdapat pengajuan tambahan dari masyarakat, pemerintah kapanewon siap menyalurkan bantuan sesuai dengan anggaran yang tersedia.
“Per hari ada pengiriman enam tangki. Sewaktu-waktu ada pengajuan, maka kami siap menyalurkan bantuan dengan anggaran yang dimiliki,” kata Subiyantoro.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































