Newswire Senin, 07 September 2026 09:07 WIB

Analisis sebaran abu vulkanis Gunung Anak Krakatau dari citra RGB Himawari-9 yang ditunjukkan dengan warna merah ditandai dengan poligon berwarna kuning./BMKG\r\n\r\n
Harianjogja.com, JAKARTA—Sebaran abu vulkanis akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terpantau pada Senin (7/9/2026) pagi. BMKG menyebut abu berpotensi menurunkan kualitas udara dan jarak pandang, serta mengganggu penerbangan pada ketinggian tertentu.
Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah II atau BMKG Wilayah II merilis kondisi terbaru sebaran abu vulkanis tersebut pada pukul 07.00 WIB melalui akun resmi X @BMKGwilayah2.
“Abu vulkanis diperkirakan makin menyebar ke arah barat,” tulis BMKG.
Abu Vulkanik Terdeteksi di Dua Lapisan
Berdasarkan pemantauan BMKG, abu vulkanis bergerak menjauhi puncak Gunung Anak Krakatau dan terdeteksi pada dua lapisan ketinggian dengan arah pergerakan yang berbeda.
Pada lapisan rendah, abu vulkanis terpantau hingga ketinggian 15.000 kaki (ft) atau sekitar 4,57 kilometer. Abu bergerak dari arah tenggara menuju barat laut dan mencakup sebagian Daerah Khusus Jakarta, Banten, Lampung, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.
Sementara pada lapisan tinggi, abu terpantau hingga 50.000 kaki atau sekitar 15,24 kilometer. Pada lapisan ini, pergerakan abu berasal dari arah barat daya menuju barat.
Sebarannya mencakup Samudra Hindia serta wilayah sebelah barat hingga barat daya Bengkulu, Lampung, dan Banten.
“Sebaran ini menjauhi wilayah Indonesia,” lanjut keterangan BMKG.
Meski bergerak menjauhi wilayah Indonesia pada lapisan tinggi, BMKG menegaskan abu tersebut tetap berpotensi berdampak terhadap penerbangan. Pasalnya, material vulkanik berada di jalur lintasan pesawat udara.
Intensitas Abu Berstatus No Change
BMKG juga menyebut intensitas abu vulkanis Gunung Anak Krakatau belum mengalami perubahan signifikan dibandingkan pengamatan sebelumnya.
Kondisi tersebut tercatat dengan status No Change, yang menunjukkan belum ada perubahan signifikan pada luas maupun intensitas abu dibandingkan periode sebelumnya.
“Status ini menunjukkan belum ada perubahan perubahan signifikan pada luas maupun intensitas abu dibandingkan dengan periode sebelumnya.”
Secara keseluruhan, sebaran abu vulkanis Gunung Anak Krakatau diperkirakan mencapai permukaan hingga ketinggian 15.000 kaki. Arah pergerakannya menuju barat dengan kecepatan sekitar 15 knot atau 28 km/jam.
Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi sebagian Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, Bengkulu, Sumatra Selatan, Selat Sunda, serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten.
Tiga Kabupaten Paling Terdampak
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan tiga kabupaten menjadi wilayah yang paling terdampak aktivitas vulkanis Gunung Anak Krakatau.
Ketiga wilayah tersebut yakni Lampung Selatan dan Tanggamus di Provinsi Lampung serta Pandeglang di Provinsi Banten.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan pemantauan wilayah terdampak abu vulkanik terus dilakukan bersama pemerintah daerah dan kementerian/lembaga terkait.
"Dalam hal ini termasuk Kementerian Kesehatan yang mengimbau masyarakat memperhatikan kondisi kesehatan, terutama pada saluran pernapasan, mata, dan kulit," kata dia.
Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Rumah
Masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan perlindungan untuk mengurangi paparan abu vulkanis. Perlindungan tersebut antara lain masker dan kacamata.
Warga juga disarankan segera membersihkan diri setelah kembali dari luar rumah.
Selain itu, masyarakat diimbau lebih banyak melakukan aktivitas di dalam rumah selama wilayah tempat tinggalnya masih terpapar abu vulkanis Gunung Anak Krakatau.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com

















































