Suporter Jepang Bersihkan Stadion: Dipuji Dunia, Dikritik di Jepang

4 hours ago 1

Jumali

Jumali Rabu, 24 Juni 2026 10:17 WIB

Harianjogja.com, JOGJA— Tradisi suporter Timnas Jepang membersihkan stadion setelah pertandingan kembali menjadi perhatian dunia pada Piala Dunia 2026. Namun berbeda dari edisi-edisi sebelumnya, aksi yang biasanya menuai pujian itu kini memicu perdebatan di dalam negeri terkait ketimpangan peran gender dalam rumah tangga.

Usai laga Grup Piala Dunia 2026 yang berakhir imbang 2-2 melawan Belanda di Dallas Stadium pada 14 Juni lalu, sejumlah foto dan video memperlihatkan para pendukung Samurai Biru memunguti sampah di tribun menggunakan kantong plastik berwarna biru.

Aksi tersebut langsung viral di media sosial internasional dan kembali dipuji sebagai contoh budaya disiplin serta kepedulian terhadap kebersihan.

Tradisi itu memang telah melekat pada suporter Jepang sejak Piala Dunia 1998 di Prancis. Kebiasaan menjaga kebersihan juga berakar dari filosofi Jepang "Tatsu tori ato wo nigosazu", yang berarti seekor burung tidak meninggalkan jejak kotor setelah terbang.

Nilai tersebut diajarkan sejak usia dini. Di sekolah-sekolah Jepang, siswa terbiasa membersihkan ruang kelas dan lingkungan sekolah secara mandiri tanpa bergantung pada petugas kebersihan.

Budaya serupa juga diterapkan oleh tim nasional Jepang. Ruang ganti yang digunakan para pemain dikenal selalu ditinggalkan dalam kondisi bersih dan rapi setelah pertandingan.

Bahkan, kebiasaan itu mulai ditiru suporter negara lain. Dalam beberapa video yang beredar selama Piala Dunia 2026, pendukung Portugal terlihat ikut memungut sampah di tribun setelah pertandingan berakhir.

Namun di Jepang sendiri, respons publik tidak sepenuhnya positif.

Perdebatan bermula setelah sebuah unggahan viral di platform X menampilkan ilustrasi dua situasi berbeda. Pada gambar pertama, seorang pria terlihat rajin memungut sampah di stadion. Pada gambar kedua, pria yang sama digambarkan bersantai di rumah sambil bermain ponsel, sementara istrinya mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Unggahan tersebut mendapatkan lebih dari 60.000 tanda suka dan memicu diskusi luas mengenai kontribusi laki-laki Jepang dalam pekerjaan domestik.

"Semua orang ingin menyelamatkan dunia, tetapi tidak ada yang mau membantu ibu mencuci piring," tulis salah satu pengguna media sosial.

Komentar lain menyoroti kemungkinan adanya suporter yang bepergian menonton Piala Dunia ke luar negeri sementara seluruh tanggung jawab pengasuhan anak dan pekerjaan rumah ditinggalkan kepada pasangan mereka di rumah.

Perdebatan itu didukung oleh sejumlah data yang menunjukkan ketimpangan pekerjaan domestik di Jepang masih cukup tinggi.

Berdasarkan data Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) tahun 2021, perempuan Jepang menghabiskan lebih dari tiga jam per hari untuk pekerjaan rumah tangga yang tidak dibayar. Sebaliknya, laki-laki rata-rata hanya menghabiskan sekitar 47 menit per hari.

Angka tersebut menempatkan Jepang sebagai salah satu negara maju dengan partisipasi laki-laki terendah dalam pekerjaan rumah tangga.

Kesenjangan itu semakin terlihat pada keluarga muda. Survei pemerintah Jepang menunjukkan perempuan dalam rumah tangga dengan dua pencari nafkah dan anak berusia di bawah enam tahun menghabiskan lebih dari tujuh jam sehari untuk pekerjaan domestik dan pengasuhan anak. Sementara itu, laki-laki menghabiskan waktu kurang dari dua jam per hari.

Selain isu pembagian tugas rumah tangga, sebagian pengguna media sosial juga mempertanyakan konsistensi budaya kebersihan tersebut.

Beberapa warganet menyoroti masih banyaknya sampah yang ditemukan setelah berbagai acara besar di Jepang, sehingga muncul kritik mengenai standar ganda antara perilaku di luar negeri dan di dalam negeri.

Meski demikian, banyak pula yang tetap membela aksi para suporter Jepang.

Bagi kelompok ini, kebiasaan membersihkan stadion tetap merupakan tindakan positif yang patut diapresiasi terlepas dari berbagai persoalan sosial yang masih dihadapi masyarakat Jepang.

Perdebatan yang muncul menunjukkan bahwa sebuah tradisi yang selama ini dipuji dunia kini juga menjadi cermin bagi masyarakat Jepang untuk meninjau kembali berbagai persoalan domestik yang belum terselesaikan, khususnya terkait pembagian peran dalam rumah tangga.

Di satu sisi, aksi membersihkan stadion tetap menjadi simbol disiplin dan tanggung jawab sosial yang menginspirasi banyak negara. Di sisi lain, kritik yang berkembang menunjukkan adanya tuntutan agar nilai-nilai tersebut juga diterapkan secara lebih setara dalam kehidupan sehari-hari di rumah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |