Stres Terbesar Ibu Bukan dari Anak, Tapi dari Pasangan!

6 hours ago 1

Jumali

Jumali Jum'at, 10 Juli 2026 18:07 WIB


Harianjogja.com, JOGJA—Sebuah penelitian mengungkapkan fakta mengejutkan: sumber stres terbesar bagi sebagian besar ibu ternyata bukan berasal dari anak-anak, melainkan dari pasangan mereka sendiri. Temuan ini dikaitkan dengan pembagian tanggung jawab rumah tangga yang dinilai belum seimbang, sehingga beban fisik maupun mental lebih banyak dipikul oleh perempuan.

Bagi masyarakat awam, terutama para ibu rumah tangga, hasil penelitian ini mungkin terasa sangat dekat dengan kenyataan sehari-hari, di mana mereka sering kali harus menanggung beban ganda tanpa dukungan yang setara dari pasangan.

Survei yang dilakukan Today bersama NBC News pada 2013 melibatkan lebih dari 7.000 ibu di Amerika Serikat. Hasilnya, para responden memberikan skor rata-rata tingkat stres sebesar 8,5 dari 10. Menariknya, sekitar 46 persen responden mengaku suami justru menjadi penyebab stres yang lebih besar dibandingkan anak-anak mereka. Survei tersebut menemukan beberapa faktor yang memicu tingginya tingkat stres pada para ibu. Salah satunya adalah pembagian pekerjaan rumah dan pengasuhan anak yang dianggap tidak seimbang.

Sekitar 75 persen responden mengatakan sebagian besar tanggung jawab domestik masih berada di pundak mereka. Selain itu, tidak sedikit ibu yang merasa pasangan lebih menyerupai "anak tambahan" daripada rekan yang setara dalam mengurus rumah tangga. Persepsi tersebut muncul karena minimnya keterlibatan pasangan dalam menyelesaikan pekerjaan sehari-hari. Survei juga menunjukkan bahwa satu dari lima ibu merasa kurang mendapatkan bantuan dari pasangan, sehingga kesulitan membagi waktu antara pekerjaan rumah, mengasuh anak, dan kebutuhan pribadi.

Sejumlah penelitian lain turut memperkuat temuan tersebut. Penelitian dari Council on Contemporary Families menyebut banyak orang justru mengalami tingkat stres lebih tinggi saat berada di rumah dibandingkan di tempat kerja. Sementara itu, riset dari Penn State University yang mengukur kadar hormon kortisol menemukan bahwa perempuan cenderung merasa lebih rileks saat berada di lingkungan kerja dibandingkan di rumah. Pola tersebut terlihat baik pada perempuan yang memiliki anak maupun yang belum memiliki anak.

Penelitian lain dari University of California, Los Angeles (UCLA) menunjukkan perbedaan respons antara pria dan wanita terhadap pekerjaan rumah. Pria yang telah menikah memiliki kadar kortisol lebih rendah ketika beristirahat, sedangkan istri mereka mengerjakan tugas domestik. Sebaliknya, kadar stres perempuan justru menurun ketika pasangan ikut membantu mengurus pekerjaan rumah.

Selain pekerjaan fisik, para peneliti juga menyoroti adanya mental load atau beban mental, yakni tanggung jawab untuk mengatur berbagai kebutuhan keluarga. Mulai dari mengingat jadwal anak, mengatur keuangan rumah tangga, hingga memastikan kebutuhan sehari-hari terpenuhi.

Penelitian yang dipublikasikan di arXiv menemukan bahwa perempuan lebih sering menjadi pihak yang memegang tanggung jawab organisasi dalam rumah tangga. Akibatnya, mereka lebih rentan mengalami kelelahan emosional dan merasa kurang puas dengan pembagian peran bersama pasangan.

Para ahli menilai kondisi tersebut dapat diperbaiki apabila pasangan membangun kerja sama yang lebih seimbang. Beberapa langkah yang disarankan antara lain: membangun komunikasi yang terbuka mengenai pembagian tanggung jawab dan harapan masing-masing, membagi pekerjaan rumah serta pengasuhan anak secara lebih adil, memanfaatkan bantuan profesional seperti konseling pasangan atau kelompok dukungan apabila diperlukan, dan memberikan ruang bagi masing-masing pasangan untuk beristirahat dan melakukan aktivitas yang mendukung kesehatan mental.

Dengan komunikasi yang baik dan pembagian peran yang lebih seimbang, tekanan yang dirasakan salah satu pihak dalam rumah tangga dapat berkurang sehingga hubungan keluarga menjadi lebih sehat dan harmonis. Bagi para ibu di Indonesia yang mungkin merasakan beban serupa, temuan ini bisa menjadi pengingat bahwa penting untuk membicarakan peran dan tanggung jawab secara terbuka dengan pasangan, karena kesejahteraan mental ibu adalah fondasi penting bagi kebahagiaan seluruh keluarga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |