Patah Hati? Pria Butuh Waktu Lebih Lama untuk Pulih daripada Wanita

3 hours ago 1

Jumali

Jumali Jum'at, 10 Juli 2026 22:57 WIB

Harianjogja.com, JOGJA—Anggapan bahwa pria lebih cepat pulih setelah putus cinta dibandingkan perempuan masih menjadi perdebatan hangat di kalangan psikolog dan masyarakat umum.

Sejumlah data dari hasil survei memang menunjukkan kecenderungan tersebut, tetapi Paul Hokemeyer, PhD, terapis pernikahan dan keluarga sekaligus penulis buku Fragile Power: Why Having Everything Is Never Enough, memiliki pandangan berbeda.

Berdasarkan pengalamannya menangani pasangan selama hampir dua dekade, Hokemeyer menilai tidak ada perbedaan yang berarti antara pria dan perempuan dalam hal kecepatan move on setelah hubungan berakhir. Bagi masyarakat awam yang mungkin sedang mengalami patah hati, penting untuk memahami bahwa proses pemulihan sangat personal dan tidak bisa digeneralisasi berdasarkan jenis kelamin semata.

"Saya tidak melihat adanya perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan dalam hal seberapa cepat mereka pulih dari berakhirnya sebuah hubungan," kata Hokemeyer seperti mengutip The Healthy, Jumat (10/7/2026).

Anggapan bahwa pria lebih cepat move on usai putus cinta masih begitu melekat karena dipengaruhi oleh norma sosial. Selama ini, perempuan dinilai lebih diterima untuk mengekspresikan emosinya secara terbuka. Sementara itu, pria lebih sering menghadapi tuntutan budaya yang mengharuskan mereka terlihat tegar dan tidak menunjukkan perasaan, terutama dalam urusan percintaan. Ekspektasi sosial inilah yang membuat pria sering kali menekan emosi mereka ke dalam, sehingga terlihat seolah-olah mereka lebih cepat pulih.

Hokemeyer menjelaskan bahwa sebenarnya terdapat perbedaan biologis dan fisiologis antara pria dan wanita dalam menghadapi putus cinta.

"Pria cenderung memprosesnya ke dalam diri, sedangkan wanita cenderung mengungkapkannya ke luar," katanya.

Pria memproses perpisahan secara internal melalui korteks prefrontal mereka, dengan cara merasionalisasi rasa sakit yang mereka alami.

"Sebaliknya, wanita cenderung mencari jalan keluar secara eksternal seperti berbicara dengan sahabat dan mencari bantuan dari pihak luar. Melalui proses ini, mereka membiarkan sistem limbik mereka melakukan penyesuaian ulang dan mengintegrasikan pengalaman tersebut secara emosional, bukan sekadar secara intelektual," jelasnya.

Masa pemrosesan emosional ini menjadi salah satu alasan para peneliti, seperti dalam sebuah studi tahun 2015, menemukan bahwa pria justru membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar pulih dari patah hati dibandingkan wanita.

Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun pria terlihat lebih cepat bangkit secara permukaan, mereka sebenarnya membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk memproses emosi secara mendalam. Bagi pembaca di Indonesia yang mungkin sedang berjuang melewati masa patah hati, pesan penting dari Hokemeyer adalah bahwa tidak ada patokan baku mengenai lamanya waktu move on. Setiap orang memiliki cara dan tempo masing-masing dalam menyembuhkan luka.

Yang terpenting adalah memberikan ruang bagi diri sendiri untuk merasakan emosi, baik itu dengan mengekspresikannya secara eksternal seperti perempuan pada umumnya, maupun memprosesnya secara internal seperti kecenderungan pria.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |