
Para peserta mengikuti Seminar Sejarah bertema Urgensi Hubungan DIY-Sragen Dalam Koneksi Historis dan Budaya Mataraman di Aula Gedung SIKK Sragen, Kamis (2/7/2026).
Harianjogja.com, SRAGEN — Kabupaten Sragen memiliki keterkaitan historis yang kuat dengan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pemerintah DIY bahkan menyebut Sragen sebagai “saudara tua” Yogyakarta karena memiliki hubungan erat dalam sejarah perjuangan Pangeran Mangkubumi sebelum berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Kedekatan sejarah tersebut menjadi dasar penyelenggaraan Muhibah Budaya 2026, kolaborasi antara Pemerintah DIY dan Pemerintah Kabupaten Sragen. Rangkaian kegiatan diawali dengan Seminar Sejarah bertema Urgensi Hubungan DIY-Sragen dalam Koneksi Historis dan Budaya Mataram di Aula Gedung Sentra Industri Kreatif dan Kerajinan (SIKK) Sragen, Kamis (2/7/2026).
Seminar ini menghadirkan sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Margono, serta filolog dari Sradda Institute, Rendra Agusta. Kegiatan diikuti oleh akademisi, tokoh masyarakat, pelajar, hingga komunitas budaya.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, mengatakan seminar tersebut menjadi pembuka rangkaian Muhibah Budaya 2026 yang puncaknya akan digelar pada 9 Juli 2026.
“Program ini bertujuan mempererat hubungan DIY dengan daerah yang memiliki koneksi historis dan budaya Mataram. Tahun ini kami memilih Sragen karena memiliki keterkaitan sejarah yang kuat dengan DIY,” ujarnya.
Dian mengungkapkan, Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X, memandang Sragen sebagai wilayah penting dalam perjalanan sejarah Yogyakarta.
Menurutnya, hubungan tersebut tidak terlepas dari kiprah Pangeran Mangkubumi yang menjadikan Sragen sebagai salah satu basis perjuangan sebelum menjadi raja di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
“Sragen memiliki arti penting karena menjadi wilayah perjuangan Pangeran Mangkubumi sebelum beliau menjadi raja di Yogyakarta. Inilah yang membuat Sragen disebut sebagai saudara tua DIY,” jelasnya.
Ia berharap ikatan sejarah ini dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas kerja sama antara Sragen dan DIY, tidak hanya di bidang kebudayaan, tetapi juga sektor lain yang saling menguntungkan.
“Ke depan, kerja sama tidak hanya budaya, tetapi juga bidang lain yang memiliki potensi untuk dikembangkan bersama,” tambahnya.
Rangkaian Muhibah Budaya 2026 akan berlanjut pada 7–9 Juli 2026 dengan berbagai kegiatan, seperti workshop aksara Jawa, pranata adicara, pameran budaya, hingga workshop busana Jawa gagrak Mataram yang mempertemukan unsur budaya Sragen dan DIY.
Selain itu, workshop tari akan dipandu langsung oleh tim dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Para penari asal Sragen akan mempelajari tari gagrak Yogyakarta dan menampilkan hasilnya pada malam puncak kegiatan, 9 Juli 2026.
“Hasil workshop tari akan ditampilkan pada malam puncak, setelah para penari Sragen berlatih bersama tim dari Keraton,” katanya.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono X juga dijadwalkan meninjau Pendapa Kamandungan di Krikilan, Kecamatan Masaran. Lokasi ini diyakini memiliki keterkaitan sejarah dengan Pendapa Kamandungan yang berada di kompleks Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : espos.id
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































