LOMBOK TIMUR– Mitigasi bencana di kawasan wisata rawan risiko terus berkembang melalui pendekatan inovatif berbasis teknologi. Salah satunya ditunjukkan dalam pelaksanaan penelitian berjudul “Mitigasi Komunikasi Bencana Inklusif melalui Aplikasi SIGUMI dalam Mewujudkan Pariwisata Berkelanjutan di Kawasan Objek dengan Daya Tarik Wisata (ODTW) di Indonesia” yang digelar pada Kamis (23/4) di kawasan lereng Gunung Rinjani.
Penelitian ini merupakan bagian dari pendanaan Hibah RISPRO LPDP bekerja sama dengan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah tahun 2026, serta melibatkan kolaborasi lintas perguruan tinggi, yakni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dan Universitas Diponegoro. Tim peneliti dipimpin oleh Prof. Dr. Adhianty Nurjanah, S.Sos., M.Si, bersama Riski Apriliani, S.I.Kom., M.A, Kurniawan Teguh Martono, S.T., M.T., serta Ir. Jazaul Ikhsan, S.T., M.T., Ph.D., IPM., ASEAN Eng.

Riset ini secara khusus menyoroti implementasi aplikasi SIGUMI sebagai sistem komunikasi bencana yang dirancang tidak hanya cepat dan responsif, tetapi juga inklusif—mampu menjangkau kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas, dalam situasi darurat di kawasan wisata .
Studi dilakukan pada tiga kawasan gunung berapi yang menjadi destinasi unggulan sekaligus wilayah rawan bencana, yakni Gunung Merapi, Gunung Agung, dan Gunung Rinjani. Ketiga lokasi ini dipilih karena memiliki intensitas kunjungan wisata yang tinggi, namun juga menyimpan potensi risiko bencana yang signifikan.
Dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) hasil penelitian menunjukkanurgensi kolaborasi lintas sektor atau pentahelix—melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas, dunia usaha, dan media—dalam membangun sistem mitigasi yang efektif sangatlah penting.
Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Timur, Drs. H. Muhammad Juaini Taofik, M.AP, menyampaikan apresiasi terhadap penelitian ini. Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung implementasi hasil riset, termasuk melalui penguatan regulasi. “Pemerintah Kabupaten Lombok Timur siap mendukung melalui penyusunan Peraturan Bupati terkait pengelolaan wisata, khususnya di kawasan Gunung Rinjani,” ujarnya.
FGD tersebut dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan kebencanaan dan pariwisata, mulai dari BPBD, Dinas Pariwisata, Dinas Sosial, hingga unsur SAR, PMI, komunitas lokal, dan organisasi kebencanaan. Kehadiran berbagai pihak ini menegaskan bahwa kebutuhan akan sistem komunikasi bencana yang terintegrasi menjadi perhatian bersama.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lombok Timur, Lalu Muliadi, secara tegas menyampaikan bahwa hingga saat ini daerahnya belum memiliki sistem komunikasi bencana berbasis teknologi yang terintegrasi. Kondisi tersebut menjadi tantangan serius dalam upaya penanganan darurat di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi seperti Rinjani.
“BPBD sebagai perangkat daerah yang memiliki fungsi koordinasi, komando, dan pelaksana dalam penanggulangan bencana sangat membutuhkan dukungan teknologi. Aplikasi SIGUMI diharapkan mampu menjadi solusi untuk menurunkan tingkat risiko, khususnya di kawasan wisata Gunung Rinjani,” ungkapnya.
Menegaskan urgensi tersebut, Ketua Peneliti Prof. Dr. Adhianty Nurjanah menekankan pentingnya pendekatan komunikasi yang inklusif dalam mitigasi bencana. “Penelitian ini menggarisbawahi bahwa kunci mitigasi bencana yang efektif di kawasan wisata adalah sistem komunikasi yang inklusif dan adaptif. Aplikasi SIGUMI hadir sebagai solusi berbasis riset yang menjembatani kesenjangan tersebut, memastikan bahwa informasi darurat dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk wisatawan dan kelompok rentan,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan implementasi SIGUMI sangat bergantung pada sinergi berbagai pihak. “Dengan sinergi pentahelix dan dukungan kebijakan daerah, kami optimis SIGUMI akan menjadi model percontohan nasional dalam mewujudkan pariwisata yang aman dan tangguh terhadap bencana,” tambahnya.
Hasil FGD menunjukkan bahwa seluruh peserta menyatakan kebutuhan yang tinggi terhadap kehadiran aplikasi SIGUMI. Hal ini memperkuat urgensi pengembangan sistem komunikasi bencana berbasis teknologi yang adaptif terhadap kondisi lokal sekaligus berorientasi pada keselamatan wisatawan.
Merespons tingginya kebutuhan tersebut, aplikasi SIGUMI direncanakan akan diluncurkan secara resmi pada Oktober 2026, bertepatan dengan Bulan Pengurangan Risiko Bencana Nasional. Peluncuran ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam meningkatkan keselamatan dan ketahanan kawasan wisata, sekaligus sebagai komitmen bagi Perguruan Tinggi UMY-UNDIP-UMS berkontribusi nyata memberikan solusi melalui hasil riset berdampak bagi masyarkat di Lombok Timur untuk mendukung pariwisata berkelanjutan di Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

















































