Serangan Babi Hutan dan Monyet Rugikan Petani Badui di Lebak

3 hours ago 5

Serangan Babi Hutan dan Monyet Rugikan Petani Badui di Lebak

Serangan babi hutan dan monyet merusak 5 hektare ladang petani Badui di Lebak. Kerugian diperkirakan mencapai Rp25 juta. /Antara.

Harianjogja.com, LEBAK—Serangan babi hutan dan monyet yang terjadi dalam dua bulan terakhir membuat petani Badui di Kabupaten Lebak, Banten, mengalami kerugian besar. Kawanan satwa liar tersebut merusak berbagai tanaman pangan dan hortikultura di lahan pertanian seluas sekitar lima hektare di Blok Cicuraheum, Kecamatan Gunungkencana.

Salah seorang petani Badui, Sarja (50), mengatakan kerusakan tanaman menyebabkan hasil panen yang semula diperkirakan mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp25 juta menjadi gagal diperoleh. Menurutnya, tanaman yang rusak meliputi pisang, singkong, ubi, jagung, tiwu endog, cabai, serta sejumlah komoditas lainnya.

"Kami mestinya dari usaha pertanian ladang menghasilkan pendapatan Rp25 juta, namun kini merugi karena tanaman rusak akibat serangan binatang itu," kata Sarja saat dihubungi di Lebak, Minggu.

Sarja menjelaskan, kawanan monyet biasanya datang secara berkelompok dengan jumlah sekitar 20 hingga 30 ekor. Satwa tersebut menyerbu lahan pertanian pada siang hingga sore hari, yakni sekitar pukul 12.00 WIB hingga 16.00 WIB. Selain itu, monyet juga kerap terlihat beraktivitas pada dini hari sekitar pukul 01.10 WIB hingga 03.00 WIB.

Sementara itu, babi hutan umumnya menyerang ladang pada dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB hingga 03.30 WIB. Kedatangan satwa liar secara berkelompok membuat para petani tidak berani mengusir karena khawatir mendapat serangan balik.

"Kami tidak berani melakukan pencegahan terhadap binatang itu, karena khawatir diserang kawanan satwa itu," ujar Sarja.

Menurutnya, sedikitnya lima petani Badui terdampak akibat serangan satwa liar di areal pertanian seluas lima hektare tersebut. Bahkan, para petani terkadang memilih memanen tanaman lebih awal sebelum benar-benar matang agar tidak habis dimakan monyet maupun babi hutan.

Ia menambahkan, serangan babi hutan dan monyet telah berlangsung selama sekitar dua bulan terakhir dan menyebabkan kerugian yang tidak sedikit.

"Kami hanya pasrah dan kemungkinan serangan binatang itu sudah saatnya merusak tanaman pertanian palawija dan hortikultura," katanya.

Petani Badui lainnya, Karna (55), juga mengaku mengalami kerugian akibat serangan satwa liar. Tanaman pisang, ubi, pepaya, kacang tanah, dan singkong miliknya tidak dapat dipanen karena lebih dahulu dirusak oleh kawanan monyet dan babi hutan.

Menurut Karna, meningkatnya serangan satwa diduga berkaitan dengan perubahan fungsi lahan di sekitar kawasan hutan. Habitat alami monyet dan babi hutan disebut semakin berkurang akibat aktivitas pertambangan batu, pembangunan permukiman, hingga pembangunan jalan, sehingga satwa kesulitan memperoleh sumber makanan di habitat asalnya.

"Kami menduga satwa itu kelaparan yang biasanya mencari makanan sekitar hutan aliran sungai, namun kini sudah kehilangan habitatnya," katanya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, mengimbau petani Badui melakukan berbagai langkah pencegahan agar serangan babi hutan dan monyet dapat diminimalkan. Salah satu cara yang disarankan ialah membuat "bebegig" atau orang-orangan sawah berbentuk manusia yang dilengkapi kaleng dan tali. Saat satwa mendekat, tali dapat ditarik sehingga kaleng mengeluarkan bunyi keras untuk mengusir kawanan tersebut dari area pertanian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |