Seberapa Normal Frekuensi Kentut Anda? Ini Penjelasan Ahli

6 hours ago 3

Seberapa Normal Frekuensi Kentut Anda? Ini Penjelasan Ahli

Ilustrasi menahan kentut. (Pixabay)\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA — Frekuensi kentut setiap orang ternyata bisa berbeda-beda, tergantung pola makan hingga gaya hidup. Para ahli menyebut, kebiasaan sehari-hari seperti konsumsi makanan berserat, minuman berkarbonasi, hingga cara makan dapat memengaruhi jumlah gas yang dihasilkan tubuh.

Ahli gizi Amanda Sauceda, M.S., RD, menjelaskan bahwa pola makan memiliki peran paling besar dalam menentukan seberapa sering seseorang kentut.

“Pola makan dapat memiliki dampak terbesar pada gas karena hal yang sama yang memberi makan bakteri usus anda juga memberi makan kentut anda serat,” kata Amanda Sauceda dalam siaran Eating Well, Sabtu (27/6/2026).

Ia menjelaskan, serat merupakan bagian dari karbohidrat yang tidak dapat dicerna tubuh. Serat akan masuk ke usus besar dan difermentasi oleh bakteri, yang kemudian menghasilkan gas.

Kondisi ini membuat konsumsi serat dalam jumlah tinggi dapat meningkatkan frekuensi kentut. Namun, efek tersebut biasanya hanya bersifat sementara seiring tubuh beradaptasi.

Karena itu, Sauceda menyarankan peningkatan asupan serat dilakukan secara bertahap agar sistem pencernaan dapat menyesuaikan diri.

Selain faktor makanan, kebiasaan sehari-hari juga berpengaruh. Ahli gastroenterologi Sandhya Shukla, MD, menyebut aktivitas seperti makan terlalu cepat, mengunyah permen karet, minum soda, hingga makan dengan mulut terbuka dapat menyebabkan lebih banyak gas.

Kebiasaan tersebut membuat udara ikut tertelan dan masuk ke saluran pencernaan sehingga memicu kembung dan peningkatan produksi gas.

Tak hanya itu, kondisi kesehatan tertentu juga bisa menjadi penyebab kentut berlebih. Shukla menyebut beberapa di antaranya adalah infeksi SIBO, intoleransi laktosa, penyakit celiac, hingga gangguan pergerakan usus.

“Gas usus yang berlebihan dapat disebabkan oleh infeksi SIBO, kondisi seperti intoleransi laktosa dan penyakit celiac, perubahan gerakan usus terutama penurunan motilitas usus, yang dapat terlihat pada diabetes atau penurunan penyerapan gas karena sembelit,” ujar Shukla.

Ia menjelaskan, kentut merupakan proses alami tubuh untuk mengeluarkan gas dari saluran pencernaan melalui anus. Gas tersebut terus terbentuk selama proses pencernaan sehingga perlu dikeluarkan untuk menjaga keseimbangan tubuh.

Pada orang dewasa sehat, frekuensi kentut normal berkisar 10 hingga 20 kali per hari, dengan volume gas mencapai 500 hingga 1.500 mililiter.

Berdasarkan studi terbaru tahun 2026, kentut dapat dikategorikan berlebihan jika terjadi lebih dari 20 kali sehari. Bahkan, Sauceda menyebut frekuensi lebih dari 25 kali sehari bisa dianggap tidak normal.

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa tidak hanya jumlah yang perlu diperhatikan. Perubahan bau kentut, disertai gejala seperti nyeri perut atau kembung, bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan.

Dalam kondisi tersebut, disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis. Namun, bagi kebanyakan orang, frekuensi kentut harian tidak perlu dihitung secara khusus selama tidak menimbulkan keluhan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |