Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo secara simbolis memulai program bedah rumah di Kelurahan Panembahan, Kraton, Kota Jogja, pada Minggu (3/5/2026). - Harian Jogja - Ariq Fajar Hidayat
Harianjogja.com, JOGJA — Kondisi rumah milik warga Panembahan, Kemantren Kraton, Rachmat Subagiyono, yang nyaris roboh akhirnya mendapat penanganan melalui program bedah rumah Pemerintah Kota Jogja, Minggu (3/5/2026).
Kerusakan parah pada bagian tembok hingga struktur bangunan membuat hunian tersebut dinilai tidak lagi layak huni dan membahayakan penghuni.
Kerusakan Sudah Lama Terjadi
Rachmat mengungkapkan rumahnya mengalami kerusakan cukup lama. Retakan besar pada tembok hingga struktur bangunan yang melemah menjadi ancaman serius bagi keselamatan keluarga.
“Dulu sempat ingin memperbaiki, tapi tidak ada biaya. Tembok sudah terbelah, kemungkinan pondasinya juga turun,” ujarnya.
Ia menjelaskan rumah tersebut merupakan bangunan lama peninggalan keluarga, dengan material yang kini sudah rapuh. Struktur kayu penyangga disebut telah lapuk dan tidak lagi kuat menopang bangunan.
“Konstruksi lama, tidak pakai tulang besi. Kayu penyangganya sudah kropos,” katanya.
Kondisi paling mengkhawatirkan berada di kamar tidur anaknya yang berpotensi ambruk sewaktu-waktu.
Program bedah rumah ini menyasar dua lokasi sekaligus, yakni rumah Rachmat di Panembahan serta rumah milik Rochiban di kawasan Notoyudan, Pringgokusuman, Kemantren Gedongtengen.
Kedua rumah tersebut masuk kategori tidak layak huni dan ditempati kelompok masyarakat rentan.
Dorong Gotong Royong di Tengah Kota
Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa program bedah rumah tetap dijalankan di kawasan pusat kota, termasuk wilayah Kemantren Kraton.
Menurutnya, persoalan hunian tidak layak masih ditemukan meski berada di jantung kota.
“Di tengah kota pun masih ada rumah tidak layak huni. Ini menjadi perhatian bersama,” ujarnya.
Program ini tidak menggunakan anggaran pemerintah daerah, melainkan bersumber dari kolaborasi dengan pihak swasta melalui skema corporate social responsibility (CSR).
Pemkot Jogja menjadikan program ini sebagai solusi alternatif untuk menangani rumah tidak layak huni yang belum terjangkau anggaran.
Bangun Fisik Sekaligus Sosial
Hasto menambahkan, program bedah rumah tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga menghidupkan kembali nilai gotong royong di masyarakat.
Ia menilai kebersamaan dan solidaritas sosial menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan masyarakat di perkotaan.
“Bedah rumah ini bukan sekadar memperbaiki bangunan, tapi juga membangun kembali semangat kebersamaan dan gotong royong,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































