Tiga pengerajin batik di Galeri Nayantaka, Selasa (21/4). - Harian Jogja/Kiki Luqman.
Harianjogja.com, BANTUL—Di tengah gempuran industri modern, denyut batik tulis di Padukuhan Gunting, Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Bantul, masih bertahan lewat tangan-tangan perajin yang setia menjaga tradisi. Aroma malam yang khas menjadi penanda bahwa aktivitas membatik tetap hidup, meski tak lagi seramai masa lalu.
Pagi yang baru merekah di sudut Bantul itu sudah diisi dengan aktivitas produksi. Dari sebuah galeri sederhana milik Tumilan, wangi lilin malam menguar, berpadu dengan udara sejuk, menghadirkan suasana yang khas dan sarat nilai budaya.
Di ruang produksi, para perajin duduk tekun di depan kain putih. Canting di tangan mereka bergerak perlahan, sementara api kecil di bawah wajan terus dijaga agar malam tetap cair. Bagi mereka, proses ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi bagian dari ritme hidup yang telah dijalani selama puluhan tahun.
Tumilan, pemilik Nayantaka Batik, mengenang masa ketika hampir seluruh warga di Padukuhan Gunting menggantungkan hidup pada batik.
“Dulu, lingkungan di sini membatik semua. Tahun 1980-an itu tidak ada rumah yang tidak membatik. Sampai-sampai kalau malam hari di Gunting bau lilin malam,” kenangnya, Minggu (26/4/2026).
Perjalanannya di dunia batik dimulai secara otodidak sejak SMP. Tanpa latar belakang keluarga perajin, ia belajar dari lingkungan sekitar, mengamati, mencoba, dan terus berlatih hingga akhirnya menjadikan batik sebagai jalan hidup sekaligus misi pelestarian budaya.
“Kebetulan saat itu saya mempunyai misi untuk melestarikan budaya. Itu yang paling utama. Akhirnya jatuh terhadap pilihan membatik,” ujarnya.
Dari sekadar memenuhi kebutuhan ekonomi, batik kemudian menjadi bagian dari identitas dirinya. Perjuangan membangun usaha pun tidak mudah, bahkan ia pernah berjalan kaki menawarkan hasil batiknya dari satu tempat ke tempat lain.
“Saya juga pernah jalan kaki untuk masarin batik saya. Jadi ya perjuangan sekali,” katanya.
Usaha yang dirintis sejak 1993 itu kini berkembang dan melibatkan warga sekitar. Sekitar 15 hingga 20 orang terlibat dalam proses produksi, mulai dari tahap awal hingga penyelesaian. Dalam sebulan, sekitar 300 lembar batik tulis mampu dihasilkan, termasuk produk kombinasi cap dan tulis.
Motif yang dihasilkan pun beragam, mulai dari klasik hingga kontemporer, bahkan kombinasi keduanya untuk menciptakan desain baru yang lebih adaptif dengan pasar. Produk-produk tersebut telah dipasarkan ke berbagai kota seperti Jakarta, Medan, hingga Samarinda, dengan harga berkisar dari Rp100.000 hingga jutaan rupiah.
Meski usaha berkembang, tantangan terbesar justru datang dari minimnya regenerasi perajin. Mayoritas pembatik saat ini telah berusia lanjut, sementara minat generasi muda masih rendah.
“Masalah regenerasi ini yang sekarang tersendat sekali. 90 persen pembatik sudah berusia,” ungkap Tumilan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, ia membuka ruang edukasi dengan mengajak pelajar, khususnya siswa sekolah dasar, belajar membatik secara langsung agar tumbuh ketertarikan sejak dini.
Kelola Limbah, Jaga Keberlanjutan
Selain regenerasi, persoalan limbah produksi juga menjadi perhatian. Proses membatik menghasilkan limbah cair yang harus dikelola secara tepat agar tidak mencemari lingkungan.
Kini, Padukuhan Gunting telah memiliki fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dibangun melalui kolaborasi berbagai pihak. Ketua Yayasan Inspirasi Anak Bangsa, Yozar Putranto, menyebut pembangunan IPAL dimulai sejak 2025 melalui proses panjang hingga rampung awal 2026.
“Diawali audiensi dengan Pemprov DIY, dilanjutkan survei, hingga akhirnya pembangunan selesai awal 2026,” ujarnya.
Konsultan pengolahan limbah, Edwin Andrianto, menjelaskan bahwa sistem IPAL mampu menurunkan kadar pencemar hingga 99 persen melalui proses penyaringan, pengendapan, hingga reaksi kimia.
“Kalau ikan bisa hidup, berarti airnya sudah aman,” jelasnya.
Bagi Tumilan, kehadiran IPAL memberikan ketenangan tersendiri karena dampak lingkungan dari produksi batik kini dapat diminimalkan.
Bertahan di Tengah Persaingan
Di tengah maraknya batik printing, batik tulis tetap memiliki pasar tersendiri. Tumilan meyakini bahwa nilai keaslian dan proses menjadi kekuatan utama yang tidak tergantikan.
“Segmennya berbeda. Batik tulis punya pasar khusus,” ujarnya.
Seiring waktu berjalan, aktivitas membatik di Padukuhan Gunting terus berlangsung. Canting tetap menari di atas kain, dan aroma malam tetap menguar, menjadi saksi bahwa tradisi ini belum padam. Upaya menjaga batik bukan sekadar soal produksi, tetapi juga tentang keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat. Harapannya, generasi muda suatu saat kembali melirik dan melanjutkan warisan budaya ini agar batik Gunting tetap hidup di masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































