Ritual Sakral Pemindahan Arca Mbah Bhelet di Borobudur, Ini Maknanya

15 hours ago 6

Ritual Sakral Pemindahan Arca Mbah Bhelet di Borobudur, Ini Maknanya Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon saat menghadiri Ritual Ageng Boyongan Mbah Bhelet atau pemindahan lokasi Arca Unfinished Buddha atau yang dikenal oleh masyarakat sekitar dengan nama "Mbah Bhelet" di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. (ANTARA - HO/Kementerian Kebudayaan)

Harianjogja.com, MAGELANG — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menghadiri prosesi sakral Ritual Ageng Boyongan Mbah Bhelet, yakni pemindahan arca Unfinished Buddha di kawasan Candi Borobudur, Minggu (3/5/2026). Prosesi ini bukan sekadar pemindahan artefak, tetapi juga menjadi momentum penting dalam pelestarian warisan budaya sekaligus penguatan nilai spiritual di kawasan situs dunia tersebut.

Arca yang dikenal masyarakat dengan sebutan “Mbah Bhelet” sebelumnya tersimpan di Museum Karmawibhangga. Kini, arca tersebut dipindahkan ke Lapangan Kenari di area kompleks Borobudur agar lebih mudah diakses oleh wisatawan, peziarah, maupun masyarakat umum.

Menurut Fadli Zon, langkah ini telah melalui kajian mendalam dan konsultasi dengan berbagai pihak, mulai dari seniman, budayawan, tokoh adat, hingga pemuka agama Buddha. Ia menilai penempatan baru tersebut akan memperkuat makna budaya sekaligus memperluas fungsi edukatif dan spiritual dari arca tersebut.

“Pemindahan ini bukan hanya soal lokasi, tetapi bagaimana menghadirkan nilai budaya dan spiritual yang lebih kuat serta akses yang lebih terbuka bagi publik,” ujarnya.

Prosesi pemindahan berlangsung khidmat dan sarat nilai tradisi. Kegiatan ini turut diwarnai pagelaran wayang ruwat yang dipimpin oleh Darmo Widjoyo serta doa bersama yang melibatkan tokoh agama setempat. Ritual ini mencerminkan harmoni antara budaya lokal, kepercayaan, dan upaya pelestarian sejarah.

Arca Unfinished Buddha sendiri memiliki nilai historis yang unik. Arca ini ditemukan di bawah stupa induk Borobudur dan disebut “unfinished” karena pahatan pada tubuhnya tidak sepenuhnya rampung. Kondisi tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri bagi kajian arkeologi dan sejarah, karena membuka ruang interpretasi tentang proses pembangunan Borobudur di masa lampau.

Fadli menegaskan, pemindahan arca ini ditargetkan rampung sebelum perayaan Tri Suci Waisak 2026 pada 31 Mei 2026. Pemerintah berharap penataan ini dapat menambah daya tarik wisata religi sekaligus memperkuat posisi Borobudur sebagai pusat kebudayaan dunia.

Lebih lanjut, Kementerian Kebudayaan terus mendorong pengembangan ekosistem budaya melalui berbagai langkah strategis, seperti revitalisasi situs bersejarah, percepatan registrasi cagar budaya nasional, hingga penguatan industri berbasis budaya.

Dengan penataan ini, Borobudur tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga ruang refleksi spiritual dan pembelajaran sejarah yang hidup. Upaya ini sekaligus menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga warisan leluhur agar tetap relevan dan memberi manfaat bagi generasi masa kini dan mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |