Popularitas Trump Turun ke 42 Persen, Gen Z Berbalik Arah

7 hours ago 4

Harianjogja.com, JOGJA—Tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan terus mengalami penurunan signifikan, mencerminkan tekanan politik yang kian kuat terhadap pemerintahannya.

Berdasarkan survei terbaru dari Quantus Insights yang dilansir Newsweek, dukungan terhadap kinerja Trump kini berada di angka 42,2 persen, sementara 56,6 persen responden menyatakan tidak puas—menandai jurang ketidakpuasan yang semakin lebar di tengah publik AS.

Penurunan paling tajam terjadi pada kelompok usia 18–29 tahun atau Generasi Z. Kelompok ini sebelumnya menjadi faktor penting dalam kemenangan Trump pada Pemilu 2024, namun kini sebanyak 70,5 persen justru menyatakan sangat tidak puas terhadap arah kebijakan pemerintah.

Perubahan sikap ini menandai pergeseran signifikan di kalangan pemilih muda, terutama setelah muncul kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi domestik dan meningkatnya keterlibatan militer Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran.

Padahal, data pasca-pemilu 2024 sempat menunjukkan pergeseran besar pemilih muda laki-laki ke kubu Partai Republik. Namun, dukungan tersebut luntur seiring meningkatnya kekhawatiran atas kondisi ekonomi dan keterlibatan militer AS dalam eskalasi konflik dengan Iran.

Sentimen Negatif Konflik Timur Tengah

Survei yang melibatkan 1.472 responden pada 25–26 Maret 2026 ini juga mengungkap meningkatnya kecemasan publik terhadap potensi konflik berskala luas di Timur Tengah.

Sebanyak 58,9 persen responden menilai serangan militer AS dan Israel terhadap Iran merupakan langkah yang berlebihan.

Selain itu, sekitar 49,6 persen warga AS secara tegas menolak kemungkinan pengiriman pasukan darat ke wilayah konflik, mencerminkan kelelahan publik terhadap intervensi militer luar negeri.

Ketidakpuasan ini berimbas pada sentimen nasional, di mana 60,2 persen responden menilai arah negara saat ini berada di jalur yang salah.

Dominasi Demokrat di Preferensi Legislatif

Memburuknya persepsi publik terhadap Gedung Putih turut memengaruhi peta politik nasional, dengan preferensi pemilih mulai bergeser ke oposisi.

Jika pemilu legislatif digelar saat ini, sebanyak 47 persen responden menyatakan akan memilih kandidat dari Partai Demokrat, mengungguli Partai Republik yang hanya meraih 41,3 persen dukungan.

"Suasana publik sedang suram. Presiden berada dalam posisi tertekan, dan preferensi pemilih mulai condong ke oposisi," tulis laporan resmi Quantus Insights.

Temuan ini diperkuat oleh survei Fox News yang mencatat tingkat penolakan terhadap Trump mencapai 59 persen—angka tertinggi selama masa jabatannya.

Meski demikian, juru bicara Gedung Putih, Davis Ingle, menegaskan bahwa hasil pemilu tetap menjadi indikator utama. Ia mengingatkan bahwa hampir 80 juta warga Amerika telah memberikan mandat kepada Trump pada November 2024 lalu.

Di tengah tekanan tersebut, masih terdapat dukungan terbatas terhadap kebijakan strategis pemerintah, di mana 52,5 persen responden menyatakan persetujuan terhadap kerangka kebijakan 15 poin untuk menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz—menunjukkan publik tetap mengharapkan stabilitas ekonomi global dan solusi diplomatik di tengah eskalasi konflik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |