Pasar Tradisional di Kulonprogo Tertekan Perubahan Belanja Online

3 hours ago 1

Pasar Tradisional di Kulonprogo Tertekan Perubahan Belanja Online

Foto ilustrasi warga Jogja berbelanja di Pasar Tradisional, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.


Harianjogja.com, KULONPROGO—Perubahan pola belanja masyarakat ke platform daring atau marketplace membuat pedagang di pasar tradisional semakin tertekan. Kondisi ini terlihat di Pasar Bendungan, Wates, Kulonprogo, di mana sejumlah pedagang mengeluhkan sepinya pembeli yang beralih ke transaksi online.

Di salah satu kios, Tujiman (70), pedagang sandal dan tas, hanya duduk menunggu pembeli datang. Lapak yang telah ia jalani sejak puluhan tahun lalu kini tampak lengang, berbeda jauh dengan kondisi beberapa dekade silam saat pasar masih menjadi pusat utama aktivitas jual beli.

“Wah dampaknya banyak sekali, kemarin aja laku sandal satu, padahal buka berjualan dari pagi sampai pukul 15.00 WIB,” kata Tujiman, Senin (22/6/2026).

Ia mengaku kondisi saat ini jauh berbeda dibanding masa kejayaannya pada era 1980-an, ketika lapaknya selalu ramai pembeli. Menurutnya, perkembangan teknologi dan hadirnya gawai pintar telah mengubah cara masyarakat berbelanja secara signifikan.

“Dulu belum ada online, belum ada HP, ya laris. Kalau sekarang, ya tinggal nurut saja sama zaman,” ujarnya.

Tujiman yang sudah berjualan sejak 1980 itu mengaku kini tidak jarang justru merugi atau hanya mendapatkan sedikit keuntungan. Bahkan, ia menyebut terkadang harus menutup kekurangan modal agar tetap bisa berjualan keesokan harinya.

Meski demikian, keterbatasan usia membuatnya tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi untuk berjualan secara daring. Penglihatannya yang mulai menurun menjadi salah satu kendala utama untuk beradaptasi dengan platform digital.

“Udah tua, pandangan sudah kurang. Yang kecil-kecil di HP itu sudah ndak kelihatan, ndak ketara,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala UPT Pasar Wilayah I Dinas Perdagangan Kulonprogo, Tumiyati, membenarkan adanya dampak pergeseran pola konsumsi masyarakat tersebut. Menurutnya, perubahan paling terasa terjadi pada komoditas sandang seperti pakaian, sepatu, dan sandal yang kini lebih banyak dibeli secara online.

“Masyarakat sudah banyak belanja digital khususnya untuk pakaian, sepatu sandal yang dominan belanja secara online sehingga aktivitasnya di pasar tidak dominan,” jelasnya.

Meski demikian, ia menyebut bahwa sektor pangan masih relatif stabil karena kebutuhan bahan pokok masih bergantung pada pasar tradisional. Namun secara umum, intensitas transaksi di pasar tradisional memang mengalami penurunan seiring meningkatnya penggunaan platform digital.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |