Mobil Mewah dan EV China Kini Pakai Kabel Aluminium, Tembaga Ditinggal

5 hours ago 4

Jumali

Jumali Selasa, 30 Juni 2026 19:07 WIB

Mobil Mewah dan EV China Kini Pakai Kabel Aluminium, Tembaga Ditinggal

Ferrari F8 Tributo/ Autoblog


Harianjogja.com, JOGJA—Industri otomotif global tengah memasuki fase perubahan material penting seiring semakin luasnya penggunaan kabel aluminium sebagai pengganti tembaga pada kendaraan modern. Tren ini terlihat pada produsen mobil premium seperti Ferrari dan BMW, serta produsen kendaraan listrik (EV) asal China, yang mulai mengadopsi material tersebut dalam sistem kelistrikan kendaraan mereka.

Reuters melaporkan, peralihan ini tidak lepas dari lonjakan harga tembaga yang sempat mencapai sekitar US$15.000 per metrik ton, dipicu oleh meningkatnya permintaan dari sektor energi hijau dan pusat data. Di sisi lain, harga aluminium yang berada di kisaran US$3.100 per ton atau sekitar seperempat harga tembaga membuat material ini semakin menarik secara ekonomi.

Produsen seperti Ferrari mulai menggunakan kabel aluminium pada model hybrid Ferrari 296, sebelum diperluas ke model listrik terbaru mereka. Menurut pihak perusahaan, langkah tersebut bukan semata pertimbangan biaya, melainkan juga untuk menekan bobot kendaraan agar meningkatkan performa.

Eksekutif Komunikasi Ferrari, Dario Esposito, menegaskan bahwa penggunaan aluminium dipilih karena faktor efisiensi teknis. Pengurangan bobot hingga sekitar 20 persen dinilai memberi dampak langsung terhadap performa kendaraan sport mereka.

Sementara itu, BMW telah lebih dulu mengadopsi konduktor aluminium sejak 2011 pada beberapa model kompak, termasuk Seri 1. Saat ini, BMW memperluas penggunaannya pada lini kendaraan hybrid dan listrik melalui teknologi eDrive generasi terbaru.

China menjadi salah satu pendorong utama tren ini. Pemerintah China pada kebijakan Maret 2025 mendorong industri otomotif untuk menggantikan tembaga dengan aluminium dalam sistem kelistrikan kendaraan. Sejumlah produsen EV seperti XPeng, Xiaomi, dan AVATR juga mulai mengimplementasikan material tersebut.

Di sektor kendaraan listrik, aluminium dinilai lebih efisien karena bobotnya yang ringan dapat meningkatkan jarak tempuh kendaraan. Faktor ini menjadi krusial di tengah persaingan ketat dan perang harga di pasar EV China.

Meski demikian, penggunaan aluminium tidak sepenuhnya tanpa tantangan. Material ini memiliki konduktivitas listrik lebih rendah dibanding tembaga, sehingga membutuhkan volume lebih besar untuk menghantarkan daya yang sama. Selain itu, proses produksinya relatif lebih boros energi dan menghasilkan emisi yang lebih tinggi.

Menurut analisis industri, sekitar 85 persen busbar pada kendaraan listrik global masih menggunakan tembaga, menunjukkan ruang substitusi yang masih sangat besar. JPMorgan bahkan memperkirakan hingga 6 persen permintaan tembaga global dapat tergantikan aluminium pada 2030, naik dari sekitar 2 persen saat ini.

Perubahan ini menunjukkan bahwa aluminium berpotensi menjadi material penting dalam rantai pasok kendaraan listrik masa depan, terutama di tengah tekanan biaya dan keterbatasan pasokan tembaga yang terus berlangsung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |