Melihat Langsung Tegel Kunci, Ubin Handmade Jogja yang Hampir 100 Tahun

7 hours ago 6

Harianjogja.com, SLEMAN— Hampir satu abad setelah berdiri, Tegel Kunci masih membuat ubin lantai dengan cara yang sama-sama mengandalkan tangan manusia. Satu per satu tegel berbahan semen diproduksi secara manual di pabriknya di Hargobinangun, Pakem, Sleman.

Perusahaan yang berdiri sejak 1927 itu kini memiliki hampir 800 desain dan 49 pilihan warna. Proses handmade menjadi karakter yang tetap dipertahankan, sekaligus membuat Tegel Kunci memiliki pasar yang lebih spesifik.

Managing Director Tegel Kunci, Puspa Kirana Karang, mengatakan tegel kini lebih tepat dilihat sebagai produk niche. Segmennya memang lebih kecil, tetapi pelanggan yang datang memiliki ketertarikan khusus terhadap produk tersebut.

“Proses pembuatannya sangat panjang sampai dia jadi satu tegel,” kata Kirana saat ditemui di pabrik Tegel Kunci, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Kamis (17/9/2026).

Bukan Sekadar Material Lantai

Menurut Kirana, pelanggan Tegel Kunci tidak selalu datang hanya untuk mencari material lantai. Nilai seni dan proses pembuatan secara manual turut menjadi alasan produk tersebut diminati.

Karena itu, perusahaan juga memberikan pemahaman kepada pelanggan, terutama mereka yang belum pernah menggunakan tegel. Penjelasan mencakup perbedaan tegel semen dengan keramik, mulai dari bahan, karakteristik hingga proses pembuatannya.

Proses produksi manual juga memungkinkan pelanggan memesan desain secara khusus. Mereka dapat memilih warna, mengombinasikan motif, bahkan membawa desain sendiri untuk dibicarakan bersama tim design consultant sebelum masuk ke tahap produksi.

Kreativitas pelanggan terkadang menghasilkan permintaan yang tidak biasa.

Pemilik Tegel Kunci sekaligus ibu Kirana, Mega Puspa Arifien, menceritakan salah satu permintaan yang pernah diterimanya, yakni motif bola tenis.

Ide tersebut kemudian dikembangkan dengan memasukkan elemen bola tenis ke dalam motif bunga. Dari kejauhan, motif itu tetap terlihat seperti tanaman, sedangkan unsur bola tenis baru terlihat ketika diperhatikan lebih dekat.

“Pernah ada yang request motif bola tenis. Awalnya susah juga mikirnya, tapi akhirnya ketemu juga sih,” ujar Mega.

Ide Motif Berawal dari Coretan

Untuk menghasilkan desain semacam itu, Mega tidak bekerja sendirian. Ide awal biasanya dibicarakan melalui brainstorming sebelum dituangkan dalam bentuk coretan.

Coretan tersebut kemudian diperjelas dan dikembangkan bersama tim hingga menjadi desain yang siap diproduksi.

Kemampuan mengembangkan desain juga membuat sejumlah motif lama Tegel Kunci tetap bertahan hingga sekarang. Motif-motif klasik tersebut masih diproduksi dan menjadi bagian dari sejarah perusahaan.

Tegel Kunci juga pernah terlibat dalam restorasi bangunan bersejarah, termasuk Lawang Sewu dan bangunan milik Bank Indonesia di berbagai daerah.

Produk Tegel Kunci bahkan telah digunakan di sejumlah negara. Di antaranya Singapura, Malaysia, Jepang, Australia, India, Inggris, dan Prancis.

Meski telah menjangkau pasar luar negeri, Indonesia tetap menjadi pasar utama perusahaan. Pengembangan ekspor memiliki tantangan tersendiri karena tegel berbahan semen mempunyai bobot cukup berat sehingga biaya pengiriman menjadi salah satu pertimbangan.

Media Sosial Mengubah Minat Pasar

Perjalanan Tegel Kunci mempertahankan produk handmade juga mengikuti perubahan minat masyarakat. Mega mengatakan pada awal 2000-an, permintaan banyak berasal dari proyek revitalisasi bangunan yang sebelumnya memang menggunakan tegel.

Kondisi mulai berubah ketika media sosial berkembang sekitar 2012-2013. Masyarakat semakin mudah mengetahui bahwa tegel yang dibuat secara manual ternyata masih diproduksi.

Dari sana, ketertarikan terhadap tegel kembali tumbuh.

“Orang-orang bisa, ‘Oh ternyata ada yang produksi. Oh ternyata masih bisa. Ternyata cara produksinya begini.’ Interest-nya naik,” kata Mega.

Perubahan tersebut membuat tegel kembali dikenal oleh masyarakat yang sebelumnya mungkin tidak mengetahui bahwa produk dengan proses produksi manual masih bertahan.

Regenerasi Tegel Kunci

Hampir 100 tahun perjalanan Tegel Kunci juga memasuki fase regenerasi. Kirana kini bekerja bersama Mega dengan pembagian tanggung jawab yang berbeda.

Kirana lebih banyak menangani operasional dan bisnis perusahaan. Sementara Mega tetap memegang sisi artistik, termasuk pengembangan desain yang menjadi salah satu identitas Tegel Kunci.

Perbedaan pandangan antara ibu dan anak dalam menjalankan usaha juga pernah terjadi. Namun, Kirana mengatakan hal tersebut tidak sampai menjadi persoalan besar karena masing-masing memahami pembagian tanggung jawab.

“Kalau bentrok pasti pernah ya. Tapi tidak pernah yang sampai ada perbedaan besar antara kita, karena ada pembagian jelas antara ibu sama saya,” ujar Kirana.

Bagi Kirana, meneruskan usaha keluarga bukan sesuatu yang dianggap sebagai pengorbanan. Ia justru merasa beruntung dapat pulang ke Jogja, bekerja bersama ibunya, sekaligus mempelajari dunia bisnis dan seni yang tidak mudah ditemui dalam satu pekerjaan.

“Saya dengan sangat senang hati melakukannya dengan segala kesulitannya. Tapi itu asyik, asyik banget buat saya,” katanya.

Tak Berhenti di Produk Tegel

Memasuki babak baru, pengembangan Tegel Kunci kini tidak hanya berkutat pada tegel. Melalui Kunci Kreative, perusahaan mulai menyiapkan produk lain seperti selimut, sarung bantal, tas, dan berbagai produk turunan lainnya.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membawa identitas Tegel Kunci ke bentuk yang lebih luas. Namun, proses produksi manual yang telah menjadi bagian dari perjalanan perusahaan tetap dipertahankan.

Tahun 2027 juga akan menjadi tahun khusus bagi Tegel Kunci. Perusahaan tersebut akan genap berusia 100 tahun sejak berdiri pada 1927.

Kirana mengatakan sejumlah agenda tengah disiapkan untuk merayakan satu abad perjalanan Tegel Kunci. Namun, rincian kegiatan tersebut masih dalam proses pematangan.

“Kita sangat bersyukur Tegel Kunci secara brand umurnya hampir 100 tahun tahun depan. Pasti akan ada beberapa hal exciting untuk kita merayakan 100 tahun Tegel Kunci tahun depan 2027,” kata Kirana.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |