Petugas mengevakuasi korban kecelakaan KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/zk - am.
Harianjogja.com, JAKARTA — Perempuan yang menjadi korban kecelakaan kereta api menghadapi tantangan berlapis dalam proses pemulihan, tidak hanya dari sisi fisik, tetapi juga tekanan psikologis dan sosial.
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, menyebut perempuan kerap memikul beban ganda sebagai pencari nafkah sekaligus pengurus rumah tangga. Kondisi ini membuat proses pemulihan trauma menjadi lebih kompleks.
Menurut psikolog yang akrab disapa Bunda Romy itu, perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga cenderung menghadapi tekanan mental lebih berat setelah mengalami peristiwa traumatis.
“Tidak bisa dibiarkan mereka menghadapi sendiri dalam kondisi yang tidak nyaman. Keluarga harus ikut membantu,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Ia menjelaskan, tuntutan ekonomi sering kali membuat korban merasa harus segera pulih dan kembali beraktivitas, meskipun kondisi mental belum sepenuhnya stabil. Situasi ini memicu konflik batin antara kebutuhan untuk beristirahat dan kewajiban memenuhi kebutuhan keluarga.
Dalam jangka panjang, tekanan tersebut berpotensi memperlambat proses pemulihan trauma. Bahkan, jika tidak ditangani dengan baik, kondisi psikologis korban dapat semakin memburuk.
Romy menekankan pentingnya dukungan keluarga dalam menciptakan ruang pemulihan yang aman. Bantuan yang diberikan tidak hanya bersifat emosional, tetapi juga praktis, seperti berbagi tugas rumah tangga.
“Suami atau anggota keluarga lain perlu mengambil peran agar korban bisa fokus pada pemulihan. Itu harus diperhatikan dengan baik,” jelasnya.
Selain keluarga, lingkungan kerja juga memiliki peran krusial. Dukungan berupa fleksibilitas waktu dan pemahaman dari tempat kerja dinilai dapat membantu korban menjalani masa pemulihan tanpa tekanan tambahan.
Kasus kecelakaan kereta api di Bekasi Timur sebelumnya diketahui melibatkan sejumlah korban perempuan. Peristiwa ini menyoroti kerentanan kelompok tertentu dalam menghadapi dampak berlapis, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial.
Romy menegaskan bahwa pemulihan trauma tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial yang melingkupi korban. Oleh karena itu, pendekatan yang melibatkan keluarga, lingkungan kerja, dan dukungan sosial lainnya menjadi kunci agar korban dapat pulih secara bertahap dan kembali menjalani aktivitas dengan lebih baik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara


















































