Kisah di Balik 3.000 Pamong Gunungkidul di Kirab HUT Sultan HB X

9 hours ago 3

Kisah di Balik 3.000 Pamong Gunungkidul di Kirab HUT Sultan HB X Sejumlah hasil bumi dari Gunungkidul dikumpulkan di Bangsal Pagelaran Kraton, Kamis (2/4/2026). - Harian Jogja - Lugas Subarkah

Harianjogja.com, JOGJA— Keterlibatan sekitar 3.000 pamong dan warga dari Gunungkidul dalam Kirab Mangayubagya Yuswo Dalem ke-80 Sri Sultan HB X menyisakan cerita tentang kuatnya partisipasi desa dalam tradisi Kraton. Jumlah ini menjadi yang terbesar dibanding kabupaten/kota lain di DIY.

Rombongan dari Gunungkidul bergerak dari di Malioboro menuju di Titik Nol Kilometer, lalu mengitari Alun-alun Utara dari sisi timur sebelum memberi penghormatan di Bangsal Pagelaran Kraton. Posisi mereka sebagai rombongan terakhir membuat kehadirannya terlihat paling mencolok dalam rangkaian kirab.

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti, menjelaskan keikutsertaan ribuan peserta tersebut berasal dari 144 kalurahan. Keterlibatan ini mencerminkan antusiasme pamong dan masyarakat dalam momentum wiyosan dalem Sri Sultan HB X.

“Kami terdiri dari 144 kalurahan, jadi yang paling banyak hadir di sini, hampir 3.000 orang dari perangkat dan tokoh masyarakat,” ujarnya.

Selain jumlah peserta, Gunungkidul juga menjadi penyumbang hasil bumi dalam jumlah besar. Hal ini tak lepas dari luas wilayahnya yang mencapai 46,63 persen dari DIY serta potensi pertanian yang dimiliki.

“46,63 persen wilayah DIY adalah Gunungkidul, maka hasil bumi dari petani maupun Lumbung Mataraman kami sampaikan sebagai suka cita kami atas wiyosan dalem beliau, semoga panjang usia, agung rejeki dan senantiasa bahagia, menjadi pelindung dan pengayom warga DIY,” katanya.

Jadi Bentuk Bakti

Lurah di Pacarejo, Semanu, Gunungkidul, Suadi, menilai kirab ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk bakti pamong dan masyarakat kepada raja sekaligus Gubernur DIY.

“Kami mendoakan mudah-mudahan Ngarso Dalem tetap dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan senantiasa dilimpahkan kesehatan, panjang umur dan terus mengayomi kami,” paparnya.

Menurutnya, hasil bumi yang dibawa dalam kirab juga memiliki makna timbal balik. Selama ini kalurahan mendapatkan hak anggaduh berupa tanah pelungguh dan tanah kas desa yang dikelola untuk kesejahteraan masyarakat.

“Momentum ini mungkin tidak akan teragenda dengan rutin setiap tahun atau sebagainya. Ini momentum karena beliau ulang tahun yang ke-80, maka kami punya krentek agar hasil bumi dari tanah kas desa dan tanah pelungguh itu sebagian kecil kami serahkan kepada Ngarso Dalem yang kemudian diserahkan kembali ke masyarakat,” ungkap Sekjen Nayantaka ini.

Dalam kirab tersebut, rombongan dari Gunungkidul membawa berbagai hasil bumi, mulai dari sayur-mayur seperti timun, tomat, labu, cabai, pare, terong, kacang panjang, hingga wortel. Selain itu, palawija seperti jagung, singkong, dan kacang tanah juga turut diarak sebagai bagian dari persembahan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |